Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 130


__ADS_3

Namun diam nya Syifa malah membuat para santri dan santriwati malah semakin menjelekan dirinya dan juga Hanif yang tidak lain adalah suami nya.


Banyak perkataan yang membuat Syifa merasa geram meski ia tahu dirinya sendiri yang menimbulkan prasangka itu.


''Aku tidak meminta kalian menilai aku baik dan aku juga tidak meminta kalian diam karena aku merasa benar. Tapi apa salah nya jika aku pacaran dengan seorang ustadz, jika kalian ingin tahu Ustadz Hanif adalah suami aku. Kalian akan diam hah!'' Syifa menaikan sedikit suara nya agar di dengar oleh telinga-telinga orang yang sudah mencaci dirinya dan juga Hanif.


Hening seketika ada rasa tidak percaya yang kini mereka rasakan bagaimana tidak mana ada seorang santri yang menikah di saat ia masih duduk di bangku sekolah.


''menghayal aja kamu fa, mana ada santriwati yang menikah di saat ia masih duduk di bangku sekolah.'' Ujar salah seorang santri wati yang terus saja mengompori santriwati lain nya.


''Aku sudah bilang perkataan aku tak akan membuat kalian diam jadi percuma saja aku berkata jujur.'' Syifa kembali duduk di kursinya sementara Arumi ia segera mengusap punggung Syifa berharap teman nya akan tenang.


''Udah fa, biarin aja lagian percuma saja kamu berkata jujur toh mereka tidak akan percaya.'' Arini bersuara.


Sedangkan para santri dan santriwati masih saling menggunjingkan Syifa bahkan ada yang menuduh jika Syifa dan Hanif mungkin sudah melakukan hal tidak di perbolehkan hingga kini Syifa terpaksa di nikahkan dan banyak juga yang lain nya.


Syifa hanya bisa mengusap dada nya benar apa yang di katakan Arin jika percuma saja jika dirinya menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Hanif toh mereka tetap tidak akan percaya.


Hingga kini Ustadzah Nurul datang untuk kembali memberikan ujian nya.


Waktu telah berlalu kini para santri dan santriwati sudan kembali ke kamar mereka karena ujian sudah selesai.


''Syifa.'' Ustadzah Nurul memanggil Syifa sebelum ia keluar.


'Iya Ustadzah.'' Syifa berhenti melangkah dan kembali ke meja Ustadzah Nurul.


Arin dan kedua sahabatnya . pergi duluan mereka rasa jika Syifa di panggil karena urusan yang tadi mereka ributkan.


''Duduklah. Ustadzah mau berbicara sesuatu.'' Ucap Ustadzah Nurul dengan lembut.


Syifa hanya mengikuti permintaan dari ustadzah Nurul dan duduk di depan Ustadzah Nurul.

__ADS_1


''Sebelum nya mungkin kamu sudah tahu sebab apa yang membuat Ustadzah memanggil mu.'' Ustadzah Nurul tersenyum ke arah Syifa yang masih setia mendengarkan namun Syifa membiarkan Ustadzah Nurul menyelesaikan perkataan nya.


''Ustadzah hanya ingin tahu yang sebenar nya, apa benar yang di katakan santri lain jika kamu sudah menikah dengan Ustadz Hanif?'' Ustadzah Nurul menanti jawaban dari Syifa.


Syifa menarik napasnya dan mencoba menjelaskan semuanya karena memang dia sendiri di berikan ijin oleh abah dan juga ummi bahkan Ustadz Yusuf sendiri mengijinkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan nya karena memang sangat di sayangkan hanya beberapa bulan lagi ia akan lulus.


Ustadzah Nurul mengangguk ia kini mengerti posisi Syifa. Andaikan posisi Syifa berasa pada dirinya mungkin dirinya sendiri akan serba salah.


''Ya sudah kalau begitu Ustadzah jadi mengerti. Tapi Ustadzah hanya ingin mengingatkan kalian harus mengenal jika ini adalah lingkungan pondok jadi bagaimana pun kamu dan Hanif harus mematuhi aturan.'' Nurul memberikan pengertian.


.


.


Waktu telah berlalu bahkan Syifa dan Hanif sudah berpisah kembali namun sejak kejadian itu Syifa tak hentinya mendapat tudingan yang membuat dirinya tidak nyaman meski abah sendiri sudah menjelaskan pada santri dan santriwati agar menutup tudingan terhadap santri nya.


Bagaimana pun abah yang sudah mengijinkan Syifa menyelesaikan


''Maafkan mas yang, karena mas gak bisa menahan rindu jadinya kamu mendapat tudingan yang tidak-tidak.'' Ucap Hanif di sebrang telepon.


Sejak terakhir Hanif bertemu dengan istrinya Hanif selalu merasa sangat bersalah karena ia membuat istrinya di dalam keadaan yang tidak membuat nya nyaman.


''Sudah mas. Gak usah bahas itu terus lagian aku gak menyesal dengan semua ini aku juga udah biasa dengan semua perkataan mereka gak perlu mas terus meminta maaf sama aku.'' Ucap Syifa dengan perasaan yang tak jauh berbeda dengan Hanif.


Justru Syifa merasa tidak nyaman membuat suaminya selalu merasa bersalah.


Hening seketika tak ada obrolan.


Syifa memperhatikan taman yang selalu menjadi tempat pelarian nya di saat mencari ketenangan.


''Kamu lagi dimana? bagaimana ujian nya kali ini?'' tanya Hanif memulai obrolan lagi.

__ADS_1


''Ya lumayan susah sedikit.'' Syifa kembali tertawa karena sekeras apapun ia belajar tetap saja saat menghadapi ujian banyak yang membuatnya sedikit pusing. Namun sekarang berbeda ada kebahagiaan yang membuat nya selalu bersemangat.


Hanif juga ikut tertawa mendengar jawaban dari istri nya.


''Oh ya mas bagaimana keadaan ummi dan juga abi? aku sangat rindu ummi sudah lama tidak bertemu dengan nya.'' Ucap Syifa lirih karena sudah hampir enam bulan ia tidak bertemu dengan mertuanya.


''Alhamdulillah baik. Ummi juga rindu sama kamu mungkin kita akan ke sana saat nanti menjemputmu.'' Hanif mengulas senyum sungguh ia sangat tidak sabar dengan momen dimana ia akan menjemput Syifa kembali.


''Semoga saja ya secepat nya.'' Syifa sendiri merasa sangat senang.


Mereka pun banyak bercerita tentang segala hal. Syifa selalu melepas rindu nya di saat ia sudah sangat penat dengan ujian yang kini ia lewati.


.


.


''Yus apa tidak sebaiknya kita beritahu dulu rencana mu pada keluarga Arumi?'' tanya ummi pada Yusuf.


''Hmmm ya sudah terserah ummi saja.'' Yusuf menjawab dengan matanya tak beralih dari laptop nya.


Ummi segera berlalu dari hadapan Yusuf. Ummi mengira jika putra nya tidak akan secepat ini mengambil keputusan tapi di sisi lain ummi sangat senang mendengar keseriusan dari Yusuf.


''Abah!'' ummi menghampiri suaminya yang sedang memberikan pakan pada burung kesayangan nya.


''Ada apa ummi? pasti Yusuf lagi kan?'' tebak abah karena sejak Yusuf memberitahu ia akan segera melangsungkan pernikahan nya ummi terus saja berkomentar.


Abah sendiri seorang lelaki ia sangat paham betul keinginan Yusuf dan sangat wajar jika kini ia ingin segera melangsungkan pernikahan nya meski terbilang mendadak karena perempuan tidak akan pernah memahami perasaan seorang lelaki.


''Abah sudah menghubungi keluarga Arumi kan?'' tanya ummi karena ummi tidak ingin jika pernikahan putra nya di langsungkan secara mendadak apalagi mengingat Arumi yang belum di beritahu menurut ummi bagaimana pun Arumi adalah calon mempelai wanita nya ia berhak tahu soal pernikahan dirinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2