
Hanif yang tengah di perjalanan ia sedikit memikirkan Syifa.
Belum juga satu hari namun hatinya merasa sangat merindukannya. ''Aku benar-benar harus segera menikahi mu Syifa.'' Hanif tersenyum mengingat kejadian semalam ia benar- benar sangat bersyukur, ia akan segera membicarakannya kepada kedua orang tuanya.
Syifa yang sudah siap untuk berangkat ke madrasah ia sedang duduk di depan kamarnya ia membuka buku dan membacanya sambil menunggu Arin yang masih bersiap.
''Assalamualaikum.'' salam Ustadzah Nadia.
''Waalaikum salam, ada apa Ustadzah?'' tanya Syifa ia sedikit takut karena Ustadzah Nadia yang secara tiba-tiba menghampirinya.
''Aku hanya ingin minta maaf Syifa, atas apa yang aku lakukan pada kamu waktu itu.
Ustadzah Nadia yang terlihat bersungguh- sungguh.
''Iya Ustadzah saya sudah memaafkan semuanya, saya harap Ustadzah tidak berbuat hal sebodoh itu kembali.'' Timpal syifa yang sedikit dingin sebenarnya ia hanya takut jika Ustadzah Nadia akan kembali menyakitinya.
''Sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu Syifa itu semua di luar kendaliku.'' Nadia memberi pembelaan.
Arin yang telah selesai, ia pun keluar sebenarnya Arin telah mendengar apa yang Syifa dan Ustadzah Nadia bicarakan ia sangat tidak percaya jika Ustadzah Nadia benar-benar menyesali perbuatannya.
''Syifa ayo kita pergi nanti keburu bel!'' Arin menarik tangan Syifa tanpa menyapa Ustadzah Nadia yang masih diam di sana.
''Ustadzah saya berangkat dulu dan saya juga sudah memaafkan semuanya.'' Syifa pun berjalan mengimbangi Arini yang jalan di depannya sementara pergelangan tangan Syifa masih di tarik oleh Arin.
Nadia hanya tersenyum ia sangat membenci Syifa. ''Aku akan buat kamu benar-benar menjauh dari Yusuf Syifa, akan aku pastikan jika kamu akan menyesal saat kamu mendekati Yusuf kembali.''
Ia pun berjalan meninggalkan kamar Syifa dan pergi ke kantor madrasah.
Yusuf yang sudah rapi ia segera mengemasi barang-barangnya banyak sekali pekerjaannya ia sangat membutuhkan bantuan.
''Andai saja Hanif tidak pergi mungkin aku tidak akan sedikit kerepotan, kenapa aku malah berharap Hanif disini,'' Yusuf bergumam dan bergegas pergi ke madrasah.
Yusuf yang sedikit telat datang ke kelas ia pun meninggalkan beberapa berkasnya di ruangannya.
''Assalamualaikum.'' Yusuf memasuki kelas.
''Waalaikumsalam Ustadz.'' semua santri terlihat sangat antusias.
''Kali ini dan mungkin seterusnya saya akan mengambil alih untuk mengajar kelas jadi saya harap kalian bisa bekerjasama.
__ADS_1
Dan satu lagi minggu depan adalah ujian semester kalian, saya harap kalian bersungguh-sungguh untuk belajar dari sekarang.
Yusuf pun mengajar ia tidak terlalu memikirkan tentang syifa dan sebagainya ia fokus mengajar dan sesekali ia berjalan mengitari para santri.
Hingga akhirnya bel berbunyi tanda waktu istirahat.
.
Banten.
Hanif menarik nafasnya ia tersenyum bahagia karena kini ia telah sampai di depan gerbang pesantren milik abi nya.
Terlihat seorang penjaga pintu segera membuka pintu gerbangnya.
''Assalamualaikum Ustadz Hanif apa kabar nya?'' pria paruh baya itu bersalaman dengan Hanif ia pun tersenyum.
''Waalaikumsalam mang Ali, alhamdulillah saya baik-baik saja.'' Hanif sedikit berbincang dengan mang Ali dan hanif pun menjalankan kembali mobilnya ke parkiran.
Mang Ali adalah pengurus pesantren ia sudah lama mengabdikan dirinya sejak Hanif masih kecil hingga kini Hanif telah dewasa ia selalu menemani Abi nya dan mengabdikan hidupnya di pesantren.
Hanif pun segera turun dari mobil dan melangkahkan kakinya ke kediamannya yang sangat ia rindukan telah berbulan-bulan ia tidak pulang ia sangat merindukan kedua orang tuanya.
''Assalamualaikum Ummi?'' tidak terlihat seorang pun di dalam rumah hingga datang seorang asisten rumah tangga bi Lastri.
Bi Lastri adalah istri dari mang Ali
Sejak kecil Hanif selalu di asuh oleh bi Lastri saat ummi membantu Abi nya mengajar di pondok, bi Lastri lah yang menjadi kepercayaan ummi.
‘’Aden udah pulang? Bi Lastri menyambut kedatangan Hanif.
''Iya bi alhamdulillah, saya juga baru sampai, oh ya bi ummi sama Abi dimana?'' tanya Hanif yang tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya.
''Tadi Abi sama ummi di taman belakang den, mau saya panggilkan?'' tawar bi Lastri yang hendak pergi.
''Gak usah bi, biar saya saja ke belakang,'' Hanif pun segera pergi ke taman belakang ia sangat rindu pada abi dan ummi nya.
''Asaalamualaikum ummi, abi,'' Hanif segera bersimpuh di kaki ummi dan Abi nya ia pun memeluk kedua orang tuanya.
''Waalaikumsalam, Hanif.'' ummi memeluk Hanif ia sangat merindukan putra semata wayangnya ia menangis haru dan menciumi dahinya betapa ummi sangat rindu kepada Hanif.
__ADS_1
''Bagaimana kondisi abi sekarang? abi baik kan?'' tanya Hanif yang sedikit khawatir.
''Alhamdulillah han, Abi sudah membaik, mungkin Abi sedikit kelelahan.''
Mereka pun mengobrol banyak hal yang ingin mereka bagi bersama.
Satu minggu berlalu.
Di pesantren Nurul Huda.
Syifa yang sedang belajar menanam sayuran di kebun ia banyak sekali belajar karena memang tak pernah sebelumnya ia menanam sayuran, ada juga beberapa santriwati yang sedang memanen hasil berkebun.
Para santri dan santriwati di bagi menjadi beberapa kelompok dan saling membantu apalagi hari esok akan di adakan penyambutan untuk para orang tua santri karena besok adalah hari Maulid nabi.
Setiap Maulid nabi, para orang tua akan di undang untuk kehadirannya dan biasanya itu menjadi ajang untuk para orang tua dapat menengok putra putri mereka.
Ayah dan ibu yang sudah bersiap untuk pergi lebih awal karena memang jarak tempuh antara Jakarta Bandung cukup lama di khawatirkan jika ayah berangkat di hari acara akan di adakan, ayah takutnya akan terlalu capek untuk pulang pergi, setidaknya ayah dan ibu bisa beristirahat terlebih dahulu di pondok.
Ibu sangat antusias ia membelikan banyak sekali pakaian syar'i untuk putri ke sanyangannya ia pun membawa beberapa cemilan kesukaannya dan tidak lupa ia membawa ponsel baru untuk putri kesayangannya.
Karena sekarang Syifa sudah kelas tiga SMA dan sebentar lagi akan lulus maka pihak pesantren memberikan sedikit kebebasan untuk santri di kelas 3 boleh memiliki ponsel tapi itu untuk kepentingan menghadapi ujian di madrasah.
.
Banten.
Sejak kepulangannya ke Banten kini Hanif pun di sibukkan dengan mengurus pondok, Abi Abdullah memberikan kepercayaannya kepada Hanif karena ia tidak ingin jika Hanif terus menimba ilmu di kota lain, karena menurut Abi ini saatnya untuk Hanif mengamalkan apa yang telah ia dapatkan.
''Han.''
''Eh ummi, iya ummi ada apa?'' tanya Hanif dengan lemah lembut ia sangat menghormati kedua orang tuanya, ia tidak pernah meninggikan suaranya apalagi sampai membentaknya hal seperti itu tak pernah hanif lakukan.
''Kamu fokus aja sama pesantren ini, giliran kamu belum juga fokus untuk mencari calon, anak ummi ini sudah besar sudah saatnya memberikan ummi seorang menantu'' tutur ummi mengutarakan keinginannya.
''Ummi... ummi yang sabar Hanif akan berusaha untuk memegang pesantren ini dulu, Hanif hanya takut jika Hanif belum siap ketika keduanya berbarengan ummi.'' Hanif sedikit tertawa dan kembali menatap laptopnya.
''Iya tidak apa-apa, tapi kan yang ada bagus lah ummi jadi gak kesepian jika di rumah.'' Tutur ummi sambil mengusap kepala putra kesayangannya.
''Insya Allah ummi secepatnya Hanif akan membawa calon menantu untuk ummi dan abi.'' Hanif menatap ummi nya dengan sayang. Sebenarnya ia sendiri sudah tidak sabar, namun waktu yang kurang tepat ia mengetahui jika saat ini Syifa sedang di sibukkan dengan ujian di madrasah nya ia tidak ingin mengganggunya biarlah ia akan menjemputnya saat Syifa sudah benar-benar siap dengan dirinya.
__ADS_1