Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 98


__ADS_3

''Ayo han, ummi akan membutuhkan bantuan kamu.'' Sahut ummi yang lebih dulu dan diikuti neng Aisyah yang selalu mengikuti ummi nya saat berbelanja.


''Iya ummi.'' Hanif segera mengikuti ummi karena ummi sendiri mengatakan jika ia akan membutuhkan bantuan nya.


tadinya Hanif ingin sekali menghubungi Syifa lagi karena tidak biasanya Syifa akan memutuskan panggilan nya sebelum ia mengucapkan salam.


.


.


Bandung.


Syifa yang sejak tadi kesal pada Hanif namun ia kembali senang setelah ia mendengar jika Hanif akan mengunjungi dirinya. Tapi apa daya kini ia kembali di buat kesal bahkan sedikit patah hati karena kehadiran seorang wanita di balik layar ponsel suaminya.


Wanita itu terlihat sangat cantik bahkan kini Syifa mengingat dengan sangat jelas ketika ia berbicara pada suaminya.


''Mas kamu gak akan membuat aku sakit hati kan.'' Lirih Syifa melihat ponsel di tangan nya ia sangat berharap jika Hanif akan menelpon nya kembali tapi apa daya ternyata lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya bahkan tidak kunjung menelpon.


''Syifa.'' Sahut Arin yang baru saja datang bersama ke dua tamannya.


''Apa sih rin aku enggak tuli kali kamu teriak-teriak saja.'' Sahut Syifa yang sedikit merasa kesal.


''Marah-marah aja sih fa, nanti yang ada kami cepat tua jelek dan cowok mana lagian yang bakal naksir sama kamu bahkan Ustadz Hanif juga bakalan gak cinta sama kamu.''


Seketika perkataan Arin membuat Syifa menangis bahkan ia menangis dengan keras.


''Fa....''


''Syifa....''


Mereka seketika panik karena Syifa tidak berhenti menangis bahkan terlihat seperti anak kecil dengan suara yang ia keluarkan.


''fa, aku minta maaf lagian aku cuma bercanda ko fa.'' Lirih Arin sambil mengusap punggung Syifa tapi bukannya ia berhenti namun kini ia malah semakin terisak tanpa suara.


''Lagian kamu rin, udah tahu Ustadz Hanif ini suaminya mana bisa seperti itu.''


''Apa?'' Arin terkejut dengan perkataan Arumi yang mengatakan jika Ustadz Hanif adalah suaminya.

__ADS_1


Arumi menutup mulutnya ia tanpa sadar sudah membuka rahasia Syifa.


Sebenarnya Syifa sudah berniat untuk mengatakan yang sejujurnya pada ke dua sahabatnya namun mengingat Arin dan Desi suka ngomong seenak jidat mereka membuat Syifa mengurungkan niatnya. Ia hanya takut jika Arin atau Desi kelepasan berbicara sama orang lain dan berimbas fatal pada dirinya sendiri. Maka ia memutuskan untuk merahasiakannya kembali.


''Kenapa sih ini mulut main bicara aja aduh Arumi.'' Batin Arumi berkata. Ia merasa takut jika Syifa marah padanya apalagi tanpa sadar ia sedikit menaikan suaranya.?


Sepuluh menit berlalu mereka masih terdiam dengan pikiran masing-masing.


Arumi sangat merasa bersalah karena ia membuka rahasia Syifa ia tertunduk ia sangat takut jika Syifa marah padanya. Sementara Syifa ia sendiri bingung tapi mungkin sebaiknya ia berkata jujur. Bagaimana pun ia yakin ke dua temannya akan mengerti posisinya sekarang Syifa hanya bisa pasrah dengan semua keadaan yang kini menimpanya.


Syifa menarik napasnya panjang ia masih gugup untuk berkata jujur pada Arin dan juga Desi.


''Aku minta maaf sama kalian, jika aku menutupi sesuatu dari kalian.'' Ucap Syifa dengan suara khas habis menangis. hanya saja ia takut jika ke dua temannya akan salah paham.


Arin dan Desi hanya menyimak ia tidak bisa berkata-kata karena melihat tadi Syifa menangis sudah cukup membuat mereka terkejut.


Arin berpikir jika Syifa sedang memiliki masalah dengan Ustadz Hanif.


''Fa jadi apakah benar kamu sudah menikah dengan Ustadz Hanif?'' Arin berkata hati-hati ia hanya takut luka yang kini Syifa rasakan akan semakin tergores meski ia sendiri tidak tahu kenapa Syifa bisa menangis.


Syifa menganggukkan kepalanya dan kembali menunduk, bagi Syifa kemarahan ke dua temannya tidak seberapa dibandingkan perasaan dirinya yang merasa sakit hati pada suaminya.


Arin mengusap punggung Syifa dan memeluknya seolah ia sedang memberikannya kekuatan. Arin tahu pasti Syifa memiliki alasan untuk dirinya menutupi hubungan nya dengan Ustadz Hanif Arin hanya memikirkan Syifa karena apapun yang terjadi padanya pasti kini sangat terluka entah karena apa masalahnya hanya Arin menyangka pasti ada kaitannya dengan Ustadz Hanif.


''Terima kasih ya kalian dapat mengerti perasaan aku.''


Mereka pun berpelukan dengan rasa sakit Syifa yang masih ia tahan.


.


.


Banten.


Hanif merasa sangat lelah ketika ia harus berkeliling pasar mencari berbagai keperluan yang ummi butuhkan. Bahkan tangan dan kakinya terasa sangat pegal karena membawa belanjaan ummi yang terus saja bertambah.


''Alhamdulillah kita pulang yuk.'' Ucap ummi yang berlalu dengan neng Aisyah yang sejak tadi mengikuti ummi nya berbelanja.

__ADS_1


Hanif yang sudah lebih dulu sampai di mobil ia segera menyimpan barang bawaan ummi ke dalam bagasi dan beralih ke kursi kemudi.


''Kita langsung pulang ya ummi.'' Pinta Hanif pada ummi nya yang kini sedang duduk di kursi belakang.


''Iya nak lagian ummi sudah tidak ada yang harus ummi beli lagi.'' Sahut ummi dengan santai.


Hanif segera menyalakan mobilnya dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan pasar untuk segera pulang.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya kini mereka telah sampai di kediaman ummi.


Hanif merasa sangat khawatir jika Syifa salah paham lagi karena ia tidak pernah mematikan panggilannya.


''Ummi Hanif duluan.'' Sahut Hanif yang segera berlalu meninggalkan ummi dan juga santrinya.


''Bantu ummi bawa ini nak.'' Sahut ummi karena Hanif terlihat akan masuk rumah.


''Sama mang Ali saja ummi maaf.'' Teriak Hanif yang sudah menjauh dari ummi.


Hanif mempercepat langkahnya ia sangat tidak sabar ingin segera menelpon kembali Syifa.Ia sangat khawatir jika Syifa akan kembali salah paham membuat Hanif segera mengeluarkan ponselnya.


Kini ia sudah berada di kamar, Hanif segera duduk dan menatap ponsel nya untuk segera menelpon kembali.


.


.


Sering ponsel kini menyadarkan mereka kembali Syifa melepas pelukan dari ke tiga sahabatnya ia kembali menatap layar ponsel yang sudah sejak lama ia menanti panggilan itu namun kini Syifa merasa enggan untuk mengangkat panggilan telepon dari lelaki yang saat ini ia rindukan.


''Kenapa enggak di angkat fa?'' tanya Arumi karena Syifa hanya meliriknya saja tanpa berniat untuk menjawab panggilan itu.


Kini mereka yakin jika Syifa sedang dalam masalah dalam rumah tangga nya.


''Kita akan ada untuk mu fa, kamu boleh cerita sama kita jika kamu mau.'' Ucap Arin merasa tidak tega melihat Syifa terlihat sangat sedih.


Syifa hanya tersenyum tapi hatinya kembali sakit.


''Apa sesakit ini mas aku melihat kamu dengan wanita lain.''

__ADS_1


Syifa tahu jika dirinya bersalah tidak menjawab panggilan Hanif bahkan ia menyadari ia salah karena telah cemburu tanpa menanyakan pada Hanif atau sekedar mencari tahu tapi percuma saja kini ada ketiga sahabatnya tidak mungkin Syifa meminta penjelasan pa Hanif sedangkan ke tiga sahabatnya berada di sisinya.


......................


__ADS_2