
Syifa yang sudah beberapa hari di rumah Hanif ia pun sudah mulai terbiasa dengan keadaan di rumah Hanif ia sangat bahagia karena sikap keluarga Hanif yang terlihat begitu menyayangi mereka.
Syifa yang baru saja bangun dari tidurnya ia tidak melihat keberadaan Hanif yang entah kemana.
ia mengucek mata dan beberapa kali menerjap kan matanya menyesuaikan cahaya yang kini masuk ke dalam kamar mereka.
''Mas?'' Syifa memanggil Hanif namun seperti nya suaminya tidak ada di kamar.
Hanif dan Syifa yang tidur kembali setelah shalat subuh dan kini entah kemana suaminya itu.
Syifa mengambil ponsel yang sengaja ia letakan di samping tempat tidurnya.
''Kamu romantis sekali mas.'' Syifa berkata pelan dan tersenyum karena mendapati tulisan di ponselnya jika ia hendak keluar dan memberikan ucapan selamat pagi.
Syifa kembali memeluk guling yang kini berada di samping nya seakan guling itu adalah Hanif suaminya.
Syifa mengalihkan tatapannya dan menyimpan kembali ponsel yang baru saja ia pegang. Ia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Perlahan ia melihat bercak darah dan itu membuatnya bernapas lega karena akhirnya ia kembali datang bulan.
Dua puluh menit berlalu akhirnya ia telah selesai. Syifa berjalan perlahan menghampiri lemari di hadapannya dan segera mengenakan pakaian tidak lupa ia memoles wajah yang kian hari terlihat semakin berseri. Ia pun mengenakan hijab yang selalu membalut kepala nya jika akan keluar dari kamarnya.
Jam telah menunjukan pukul enam pagi Syifa pun segera keluar dari kamarnya dan perlahan menuruni tangga ia berniat untuk pergi ke dapur dan membantu ummi untuk menyiapkan sarapan. Ia tahu jika Ummi akan menyiapkan makan untuk keluarganya sepagi- pagi ini.
''Pagi ummi.'' Syifa pun memeluk tubuh ummi yang kini sedang mengiris bawang.
''Pagi sayang, ummi kira kamu masih tidur.'' Ucap ummi yang masih sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk mereka masak.
Syifa pun kembali melepas pelukannya dan beralih di samping ummi yang kini menatapnya dengan penuh kasih sayang.
''Ummi mau masak apa?'' tanya Syifa yang kini siap membantu ummi.
''Ummi mau masak ayam goreng, sayur sup, dan juga ikan sambal balado.''
Sahut ummi yang bersemangat.
''Oke kalau begitu biar Syifa bantu bikin sup aja.'' Tutur Syifa yang kemudian tertawa kecil karena ia masih belum terlalu bisa memasak. namun ia sesekali membuat nya dengan bantuan ummi.
Syifa pun segera mengambil beberapa sayur yang tersedia di dalam kulkas dan mulai mengirisnya.
Ummi yang sejak tadi sibuk dengan ikan sambal balado nya itu ia kembali melihat menantu nya yang kini sedang menikmati aktivitasnya.
Semerbak wangi yang kini memenuhi ruangan kecil itu membuat perut Syifa terasa lapar.
__ADS_1
''Hmmm wangi sekali.'' Tutur Syifa yang menghirup bau masakan yang telah ummi buat.
Ummi hanya tertawa melihat tingkah Syifa yang membuatnya gemas. ''Is menantu ummi yang satu satunya ini.'' Ummi mencubit pinggang Syifa yang kini asik mengupas buah untuknya.
Syifa pun tertawa karena ummi yang membuatnya semakin merasa jika ummi seperti ibunya.
''Udah siap ummi.'' Sahut Syifa yang sudah selesai dengan pekerjaan nya.
''Alhamdulillah tinggal satu lagi Syifa, coba kamu lihat nak apa sayur nya sudah matang?'' ummi menyuruh Syifa untuk mengecek karena kini ummi menata piring di meja makan.
''Sudah ummi.'' Syifa pun segera mematikan kompor dan memindahkan sayur ke dalam mangkuk sup dan menyimpan nya di meja.
Hanif dan abi yang baru saja pulang mereka di suguhkan pemandangan yang membuat mereka turut senang dan segera menghampiri kedua wanita yang kini mengisi hari-hari mereka.
''Wah wah... ummi sama Syifa masak apa?'' sahut abi yang kemudian duduk di kursi yang kini telah terhidang berbagai makanan hasil masakan dari istri dan menantunya.
Hanif pun mengusap lembut kepala Syifa yang baru saja menaruh air minum untuk nya dan juga untuk abi.
''Terima kasih sayang.'' Ucap Hanif yang kemudian mengecup pipi mulus istrinya namun mendapat tatapan tajam dari Syifa karena ia merasa malu.
''Mas.'' lirih Syifa dengan wajah yang memerah.
Sementara Hanif terkekeh geli melihat wajah Syifa yang memerah karena malu dan kini mencubit pinggang nya.
''Ampun yang.''
''Sudah-sudah ayo kita makan. Nanti pacaran nya di kamar.'' Ucap ummi pada Hanif.
Mereka pun duduk dan segera menyantap makanan yang telah terhidang.
''Yang aku mau tambah lagi.'' Pinta Hanif pada Syifa.
Syifa menoleh ke arah Hanif yang makin hari semakin merasa bertambahnya cinta di antara mereka.
''Mas mau tambah apa?'' tawar Syifa pada Hanif.
''Ikan nya sayang.''
Syifa pun mengambilkan ikan lagi untuk suaminya dengan senang hati.
Ummi yang sejak tadi melihat tingkah kedua pasangan di hadapannya itu di buat tersenyum ia sangat bersyukur karena Syifa dan Hanif terlihat saling mencintai.
Ummi yang sudah selesai ia pun menatap putra nya.
__ADS_1
''Han, kamu gak akan ajak Syifa bulan madu? bukannya anak jaman sekarang itu suka bulan madu habis menikah itu''
Hanif menatap Syifa yang kini menatapnya.
''Enggak ummi lagian Syifa tinggal disini saja sudah berasa bulan madu. Bukan begitu sayang?'' kekeh Hanif dengan tawa kecilnya dan meminta persetujuan dari Syifa.
''Enggak, kapan aku bilang sih mas.'' Ucap Syifa datar membuat Hanif dan ummi tertawa kembali.
''Jangan gitu dong han kasihan Syifa, lagian Syifa hanya dua minggu disini emang kamu gak kasihan dia tidak menghabiskan waktu hanya untuk berdua.''
''Di kamar juga berdua ummi.'' Ucap Hanif menggoda Syifa.
''Ih mas.'' Ucap Syifa pelan ia merasa sangat malu karena ucapan Hanif apalagi tingkah suaminya yang kini terlihat sangat berbeda.
......................
Jakarta.
Rosa dan juga Andrian telah berada di kediaman kakak sepupunya.
Mereka pun memencet bel dan menunggu pemilik rumah itu membuka pintu.
Mira yang baru saja selesai sarapan ia berniat membereskan piring-piring yang telah mereka gunakan menjadi mengurungkan niatnya.
''Rosa....'' Ucap Mira setelah membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu selagi ini ke rumahnya.
''Hai mbak bagaimana kondisi mbak sekarang?'' Tanya Rosa yang kini mengusap lembut perut Mira yang masih datar.
''Alhamdulillah aku cukup baik, ayo masuk.'' Sahut Mira mengajak kedua tamunya untuk segera masuk.
''Ngomong-ngomong tumben kamu ke sini pagi sekali ada apa Rosa?''
''Ada siapa mir?'' sahut Aris yang baru keluar dari kamarnya.
''Ini mas ada Rosa dan Andrian.''
Aris pun berjalan menghampiri mereka setelah mengetahui siapa yang bertamu ke kediaman mereka se pagi ini.
''Hai om apa kabar.'' Andrian segera menyalami Aris yang baru saja datang menghampiri mereka.
''Ada apa ros, tumben kamu berkunjung se pagi ini? apa ada sesuatu?'' tanya Aris kemudian.
''Aku ingin memberi tahu mas jika Andrian akan menikah minggu depan. dan acaranya di bandung.'' Tutur Rosa sedikit bersedih karena Ia yakin jika kakak sepupunya tidak bisa menghadiri pernikahan putranya karena sedang hamil.
__ADS_1
''Alhamdulillah kami akan hadir tenanglah. Lagian itu kesempatan bagus juga karena akhir minggu depan ini Syifa akan kembali ke pondok.''
......................