
Hanif yang masih setia menjaga abi nya di rumah sakit bersama ummi nya.
Ia tidak ingin meninggalkan abi nya ia pun shalat bersama ummi di kamar abi nya dimana di rawat.
Hanif pun membuka Al-Qur'an dan melantunkan ayat suci Al-Qur'an untuk kesembuhan abi nya.
Sudah 3 hari abi nya di rawat dan abi masih belum sadarkan diri ia sangat berharap jika abi nya akan sembuh dan berkumpul kembali seperti sedia kala.
Hanif yang telah selesai membaca Qur'an ia membereskan alat shalatnya dan duduk di kursi.
''Ummi apa ummi mau makan?'' tanya Hanif yang melihat ummi nya masih setia mendampingi abi nya.
''Ummi tidak lapar nak, kamu saja yang makan, isilah perut mu dari kemarin kamu juga disini, kamu pasti lelah.'' Jawab ummi yang memegangi tangan abi.
''Harusnya ummi yang istirahat, biar Hanif aja yang tunggu abi, semalaman ummi juga kurang tidur.''
Ummi hanya menggeleng ia tidak peduli pada dirinya sendiri ia benar-benar ingin menemani abi hingga sadarkan diri.
Hanif pun berjalan keluar ruangan ia berniat untuk membeli makanan untuk ummi dan dirinya.
Ia berjalan keluar dan melajukan mobilnya mencari makanan kesukaan ummi.
Tangan abi Abdullah yang mulai merespon membuat ummi begitu bahagia, ia segera memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan abi.
Tak lama kemudian abi Abdullah pun sadarkan diri ia menatap ummi lekat-lekat.
Abi Abdullah menangkap tatapan ummi yang yang menangis haru ia sangat bersyukur mendapatkan istri yang sangat peduli padanya.
''Alhamdulillah abi sudah sadar.'' ummi tersenyum dan menciumi punggung tangan suaminya.
Tak lama kemudian dokter pun datang dan mulai memeriksa kondisi abi Abdullah.
Hanif yang sudah selesai membeli beberapa makanan berat dan buah-buahan segar, ia segera melajukan mobilnya kembali ke jalanan ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di seberang jalan terlihat seorang kakek tua yang sedang menjajakan jualannya ia berjualan berbagai aneka kue basah.
Hanif yang melihat kakek tua itu ia segera menepikan mobilnya dan membeli beberapa kue basahnya.
Hanif memberikan 2 lembar uang ratusan.
''Ini terlalu banyak nak.'' Sahut kakek penjual kue.
''Tak apa-apa kek selebihnya buat kakek saja.'' Hanif tersenyum dan kembali memasuki mobil.
''Terima kasih nak, semoga kamu selalu berada dalam perlindungan Nya.'' sahut kakek itu, ia terlihat sangat gembira.
Mobil pun kembali melaju di jalanan ia pun membelokan mobilnya ke area rumah sakit.
__ADS_1
Hanif segera turun dari mobilnya dan membawa beberapa makanan yang telah ia beli dan mempercepat langkahnya untuk segera ke ruangan dimana abi nya di rawat.
Perlahan Hanif membuka pintu ia melihat abi nya yang sedang mengobrol dengan ummi.
''Abi. Alhamdulillah abi sudah sadar.'' Hanif segera menghampiri abi nya dan mencium punggung tangannya.
.
Bandung.
Syifa menggeliat bangun, matanya masih sedikit sembab dan lebam di wajahnya kini sudah sedikit membaik.
''Kamu bangun sayang,'' ibu memeluk Syifa dan mengusap puncak kepalanya.
''Kamu sudah sedikit membaik?'' tanya ibu yang menyunggingkan senyumnya.
''Alhamdulillah bu, ibu aku takut.'' Syifa berkata pelan, ia masih sedikit tertekan atas perlakuan kasar Nadia yang kini terulang kembali.
''Kamu tidak usah takut sayang ada ibu disini dan juga ayah.'' ibu mencoba menenangkan Syifa.
Ummi datang ke kamar Syifa ia membawa makanan untuk Syifa yang mungkin belum makan apapun.
''Syifa kamu makan dulu ya ummi buatin kamu bubur, kamu pasti suka.'' ummi menyodorkan semangkuk bubur kepada ibu dan ibu pun menerimanya.
Ibu yang mulai menyuapi Syifa , ia merasa sangat menyayat hati ketika dulu ibu menyuapinya dengan penuh kebahagiaan tapi kini ia menyuapi putri kesayangannya penuh dengan kesedihan melihat wajah putri kesayangannya yang terluka.
Syifa yang menangkap kesedihan di wajah ibu ia mengusap tangannya.
Ummi yang melihat Syifa dan ibunya ia sangat terenyuh ia benar- benar sangat sedih ummi pun segera ke luar dari kamar Syifa dan segera pergi ke kamar Yusuf.
Perlahan ummi menaiki tangga dimana kamar Yusuf yang berada di ruangan atas. Ummi pun mengetuk pintu kamar Yusuf, berharap Yusuf masih di rumah.
''Yusuf kamu di dalam?' tanya ummi karena pintu kamar tak kunjung terbuka.
''Iya ummi sebentar.'' Yusuf segera membuka pintu kamarnya.
''Ada ada ummi?'' tanya Yusuf yang sedang merapikan bajunya.
Ummi pun masuk ke dalam kamar Yusuf ia menatap sekeliling kamarnya.
''Ummi? Ada apa?'' Tanya Yusuf kembali.
''Ummi pikir bagaimana kalau kamu segera menikah saja dengan Syifa.'' ummi mengutarakan maksud kedatangannya.
''Kalian memang saling mencintai.''
Yusuf mengerti apa yang ummi inginkan tapi ia tidak bisa.
__ADS_1
''Andai saja ummi aku bisa menikahinya sudah aku lakukan sejak kemarin, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.'' Jawab Yusuf dengan lirihnya.
''Kenapa andai saja bukanlah kamu sudah melamar Syifa, apa Syifa menolak lamaran mu?'' tanya ummi ia merasa tidak mungkin jika Syifa menolak lamarannya.
''Itu semua karena Nadia ummi, Syifa tidak bisa menerima ku karena Nadia dan sekarang Syifa sudah menerima lamaran dari lelaki lain.'' Lirih Yusuf yang mengerti posisinya sekarang.
Umii yang mendengar semua itu benar-benar tidak menyangka apa yang di katakan putranya itu membuatnya sedikit bingung.
''Memang lelaki mana yang melamar Syifa? Ummi rasa Syifa tidak pernah dekat dengan lelaki manapun Yusuf?''
''Hanif ummi'' Yusuf memandangi ummi nya.
Ummi memijat pelipisnya ia sangat tidak menyangka jika Hanif lah orangnya.
''Sabarlah nak jika memang dia jodoh mu maka ia akan tetap kembali kepada mu.'' Ummi mengusap punggung putranya ia pun berlalu dari kamar putranya itu.
Ummi merasa apa yang Yusuf alami sangat rumit sekali.'' Andai saja Syifa belum menerima lamaran dari Hanif,'' gumam ummi saat menuruni tangga.
Tok...tok... tok....
''Assalamualaikum.'' Salam orang di luar sana.
Abah yang memang sedang duduk di ruang tamu ia segera membuka pintu.
Terlihat Abi Husein dan ummi Nur yang datang.
''Waalaikumusalam.'' jawab Abah menyambut kedatangan sahabatnya itu.
''Mari Husein duduklah.'' kata Abah yang belum memberitahu kejadian tadi yang telah putrinya lakukan.
''Abi Husein pun duduk bersama ummi Nur berdampingan, ia memang berniat untuk menemui putrinya dan mengikuti acara Maulid Nabi yang selalu di adakan oleh pondok pesantren.
''Sebelumnya saya minta maaf Husein saya benar-benar minta maaf untuk kali ini.'' Tutur abah yang langsung membuka suara.
Abi Husein dan ummi Nur mengernyit tidak mengerti, mereka saling pandang dan kembali menatap abah dengan tidak mengerti.
''Minta maaf soal apa Gus, saya yang seharusnya minta maaf sama kamu saya selalu merepotkan kamu karena putri kami. apa Yusuf tidak bisa menerima lamaran yang dulu aku katakan? Tanya Abi Husein yang menebak-nebak.
''Mungkin itu salah satunya.''
''Maksud mu?'' tanya abi Husein yang masih belum mengerti ada apa sebenarnya.
''Mungkin kali ini saya akan mengeluarkan anak mu Husein, saya minta maaf jika selama ini kami belum bisa mendidiknya dengan baik.''
Abi Husein yang mengerti maksud abah ia sedikit marah ia tidak percaya dengan apa yang abah katakan.
''Apa yang membuatmu mengeluarkan anak saya Gus? Jika memang Yusuf tidak bisa menerima lamaran nya saya akan mencoba mengerti.'' sahut Abi Husein yang merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
''Itu semua karena Nadia yang berbuat keributan.'' Sahut ummi yang menjelaskan.
Ummi Nur dan Abi Husein tidak habis pikir dengan semuanya yang di dengarnya, ia telah berusaha semaksimal mungkin agar Nadia tetap bisa tinggal di pesantren ini. Tapi kali ini tidak, abi Husein sangat malu dengan apa yang Nadia lakukan.