Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 15


__ADS_3

Syifa tidak langsung pulang ke kamarnya ia lebih memilih untuk pergi ke taman sebentar untuk sedikit menenangkan Pikirannya.


Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Ustadz Yusuf, bahkan melihatnya saja tidak pernah, suaranya pun tak pernah ia dengar kembali, ''apa sebenarnya Ustadz Yusuf menghindari ku? Apakah dia tidak yakin dengan perasaannya ataukah aku telah membuatnya terluka? Tapi apa yang harus aku perbuat, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.''


Lama Syifa termenung di taman, ia pun mengeluarkan buku dan mulai membacanya di taman sesekali ia menutup matanya dan kembali membacanya namun ia malah melihat bayangan Yusuf yang terus menghampirinya.


Sementara Hanif yang juga sedang berkeliling pesantren ia tidak sengaja melihat Syifa yang sedang duduk di bawah pohon dan melihat apa yang Syifa lakukan.


Hanif pun berlalu dan kembali ke ruangannya ia tidak mau mengganggu Syifa yang menurutnya sedang menenangkan diri.


.


.


Seminggu berlalu.


Ustadzah Nadia pun sudah di beri ijin untuk pulang, ummi Nur dan abah pun berniat untuk membawa pulang Nadia untuk sementara waktu menurut ummi Nur mungkin Nadia memiliki masalah di pesantren, ia takut jika Nadia berbuat senekat itu kembali, ummi Nur dan Abi Husein telah sepakat untuk membicarakannya terlebih dahulu kepada ummi Khadijah dan juga pada abah.


''Assalamualaikum Gus?'' salam Abi Nadia terdengar.


''Waalaikumusalam.'' jawab ummi dan segera membuka pintunya.


''Nadia kamu sudah boleh pulang nak, alhamdulillah silahkan duduk ummi, Abi, sebentar saya ambilkan minum dulu.'' ucap ummi yang berlalu ke dapur untuk membawakan minum.


Abah pun segera ke ruang tamu setelah ia melaksanakan shalat sunnah.


''Alhamdulillah nak, kamu sudah pulang, abah sangat senang.'' Abah pun duduk didepan ummi Nur dan Abi Nadia.


''Sebenarnya aku kesini aku mau kasih tahu kamu, mungkin ada baiknya jika Nadia untuk sementara waktu kami bawa pulang dulu, saya khawatir jika Nadia tinggal di sini ia kembali mendapat tekanan dan ia kembali melakukan hal yang sangat tidak pantas ia lakukan.'' Tutur Abi Nadia mengutarakan maksudnya.


''Baiklah saya tidak memaksa jika memang itu telah menjadi keputusan mu,saya rasa keputusan itu memang tepat.''


Sementara Nadia yang hanya tertunduk kini ia membuka suara.


''Abah saya minta maaf jika apa yang saya lakukan membuat abah dan ummi kecewa pada saya, terutama pada ummi dan Abi Nadia minta maaf, Nadia khilaf.'' mata Nadia yang kini berkaca-kaca ia benar- benar menyesali atas apa yang ia lakukan.


''Sudah lah nak, kamu tidak perlu minta maaf, semuanya adalah takdir. Tapi abah harap kamu tidak melakukan hal sebodoh itu kembali.'' Tutur abah dengan lembutnya.


Yusuf yang baru saja pulang dari kantor ia sangat terkejut karena Nadia yang ada di rumahnya.


''Assalamualaikum?''


''Waalakumusalam.''


''Kamu sudah pulang nak?'' Tanya abah yang melihat Yusuf yang menyalami Abi Nadia dan ummi Nur.


''Alhamdulillah bah sudah, Nadia kamu kapan pulang?'' tanya Yusuf dengan mata berbinar, ia sangat bersyukur karena Nadia telah pulih dengan sediakala.


Nadia hanya tersenyum ia tidak menjawab pertanyaan Yusuf, hatinya masih sakit atas apa yang ia dengar hari itu.


Yusuf yang tak terlalu memperhatikan Nadia, ia pun berlalu ke kamarnya.


''Gus, sebenarnya apa kamu sudah memberitahu Yusuf?''

__ADS_1


Abah pun hanya terdiam ia tidak bisa mengatakannya mulutnya pun terasa sangat kaku, ia tau jika sahabat baiknya itu sangat berharap jika Yusuf menerima lamaran darinya.


''Abi, Nadia mau ke kamar dulu sebentar.'' Nadia yang merasa jika abah dan Abi ada obrolan yang cukup serius karena itulah ia merasa harus untuk pergi sebentar.


Nadia segera berjalan ke kamarnya ia pun berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya lebih sakit hati hingga ia melihat Syifa yang tersenyum padanya.


''Ustadzah, alhamdulillah ustadzah sudah sembuh.'' Syifa yang hendak memeluk Ustadzah Nadia namun, Nadia yang tidak bisa mengontrol emosinya kini malah mendorong tubuh Syifa.


Syifa yang terkejut akan perlakuan Nadia ia hanya diam Ia tidak mengerti dengan apa yang Nadia lakukan.


''Diam lah bukannya kamu akan bahagia jika aku sakit bahkan aku mati hah!'' Sorot mata Nadia yang kini berubah ia seakan ingin meluapkan amarahnya Nadia benar-benar lepas kendali ia kembali mendekati Syifa yang sedang terduduk di lantai dan menarik kerudung nya hingga Syifa meringis kesakitan.


''Tolong Ustadzah lepaskan aku.''


''Dasar kamu pengganggu beraninya kamu mendekati Yusuf! kamu tahu kalau Yusuf itu milik aku hah!''


Syifa yang mendengar semua perkataan itu bagai cambuk ia tidak mampu berkata, bahkan untuk melepaskan diri pun ia tidak mampu.


Plak plak....


Nadia beberapa kali menampar pipi Syifa yang tersungkur di lantai, ia bahkan merasa tak puas dengan apa yang ia lakukan.


''Maaf Ustadzah tolong lepaskan aku sakit.'' Syifa hanya merintih kesakitan ia tidak mampu untuk melawan, bahkan untuk sekedar menghindari perlakuan Nadia pun ia tidak sanggup.


''Astagfirullah.'' Hanif yang berjalan akan ke rumah abah, ia melihat dari kejauhan yang Nadia lakukan pada Syifa.


''Nadia!'' Hanif pun berlari kearah mereka dan Hanif segera melepas tangan Nadia dengan kasar, ia segera memeluk tubuh Syifa agar tidak kena pukulan Nadia yang sedang tidak bisa mengontrol emosinya.


Ummi yang hendak memanggil Nadia karena Abi Husein akan pulang di kaget kan dengan pemandangan yang sangat memalukan.


''Astagfirullah hanif apa yang kamu lakukan?'' Ummi pun berlari mendekati hanif yang masih memeluk syifa.


''Astagfirullah ummi ini bukan seperti apa yang ummi lihat, tapi ini karena ulah Nadia ummi.''


Mata ummi kini melirik kearah Nadia yang sedang mematung.


''Nadia apa yang terjadi?'' Tanya Ummi Nur yang menaikan nada bicaranya.


Hanif yang mencoba melepaskan pelukannya ia terkejut karena Syifa pingsan di pelukannya.


''Ummi sebaik nya kita bawa Syifa ke rumah, Syifa pingsan ummi.''


Hanif pun segera menggendong Syifa ke rumah ummi dan menidurkannya dengan perlahan.


''Ada apa ummi?'' tanya abah dan Yusuf yang terkejut, karena Hanif datang membawa santri ke rumahnya.


''Abah tanya aja pada Nadia dan Hanif, ummi tidak tahu kenapa Syifa bisa pingsan.'' Tutur ummi menjelaskan.


''Hanif, Nadia apa yang sebenarnya terjadi?''


Nadia hanya tertunduk ia tidak mampu berkata-kata sungguh ia tidak bisa mengontrol emosinya hatinya telah di buta kan karena cinta.


''Jawab Nadia, Hanif apa yang sebenar nya terjadi?'' Abah menaikkan suaranya ia tidak sabar dengan jawaban hanif dan Nadia.

__ADS_1


''Aku tidak sengaja bah.'' Lirih Nadia menangis tersedu-sedu ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sungguh ia malu karena apa yang ia perbuat.


''Astagfirullah.'' abah memijit pelipisnya ia benar-benar tidak tahu kenapa Nadia berbuat demikian.


Ummi Nur dan Abi Husein yang tak kalah terkejut mereka sangat kecewa dan sangat malu atas apa yang anak mereka lakukan.


''Abi sangat malu Nadia, apa yang kamu lakukan hah?''


''Aku mencintai Yusuf abi, wanita itu tidak pantas untuk Yusuf cintai.''


Lirih Nadia menatap kedua orang tuanya.


''Bukan cinta Nadia, bukan cinta yang seperti itu yang aku harap kamu tidak bisa memaksa cinta, apalagi dengan cara kamu yang berbuat salah.'' Yusuf benar-benar frustasi dengan apa yang ia dengar.


''Kamu jahat yus sama aku, bertahun-tahun kita bersama tapi apa, kamu malah memberikannya pada wanita lain.''


Plak.


Abi Husein tak habis pikir dengan apa yang anaknya bicarakan ia merasa tidak mempunyai muka, Ia gagal dalam mendidik anak semata wayangnya ia sangat kecewa.


''Ini kah yang kamu dapat atas pengorbanan Abi Nadia.''


Nadia hanya menunduk ia tak berani berkata-kata mulutnya sangat kelu ia menyadari kesalahannya namun, bencinya kepada Syifa semakin membesar. ''Aku benar-benar akan hancurkan kamu Syifa.'' Lirih Nadia dalam hatinya.


''Sepertinya kami pamit untuk pulang Gus, saya benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi.''


''Ayo kita pulang nak,'' ummi Nur menggenggam tangan Nadia untuk mengikutinya pulang.


Yusuf tidak habis pikir dengan apa yang Nadia lakukan, ia benar-benar kecewa ia tak mengerti jalan pikir Nadia yang menurut nya menghalalkan segala cara.


''Yus kamu harus segera ambil keputusan yang tepat.''


Abah menatap putranya dengan penuh harap ia tidak ingin jika Yusuf semakin menyakiti perasaan orang lain.


''Ummi.''


Syifa yang baru sadarkan diri ia hanya melihat ummi yang sedang duduk di sampingnya.


''Kamu sudah sadar nak, tidurlah biar ummi kompres kembali, wajahmu memar-memar Syifa.''


Syifa hanya mematuhi perintah ummi hatinya sangat sakit mengingat apa yang tadi siang terjadi, ia tak menyangka jika dirinya akan di perlakukan kasar oleh gurunya sendiri.


''Kamu kenapa menangis? Tenanglah ada ummi di sini.''


Syifa pun terbangun dan memeluk ummi. ''Ummi terima kasih Syifa


benar-benar takut ummi.''


''Sttt tenanglah nak,'' ummi yang tau dengan apa yang Syifa alami ummi pun mengusap punggung Syifa dan memeluknya.


Yusuf yang hendak masuk untuk melihat kondisi Syifa, ia sangat terharu atas apa yang ummi nya lakukan.


Apa yang harus hamba lakukan ya Allah, beberapa kali hamba istikharah namun, jawaban Mu tetap seperti itu apakah ini petunjuk dari mu ya Allah.

__ADS_1


__ADS_2