Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 124


__ADS_3

Entah kemana Andrian Rosa tidak tahu bahkan ponsel nya yang sejak tadi ia hubungi kini malah tidak bisa lagi ia hubungi.


Sebagai seorang ibu ia sangat tahu jika kini putranya dan juga menantunya sedang dalam masalah namun entah masalah apa yang kini putra nya alami.


Rosa hanya sedikit bisa bernapas lega karena kini Nadia sudah membaik bahkan bayi di dalam kandungan nya baik-baik saja. Untung saja ia datang tepat waktu jika tidak sudah di pastikan bayi yang di dalam kandungan nya telah tiada.


''Maafkan mami sayang,'' gumam Rosa sambil mengusap lembut lengan menantunya. Air mata yang sejak tadi jatuh kini seakan tak biasa ia bendung. Rosa terus saja menangis melihat kondisi menantunya kini terbaring lemah tanpa Andrian disisinya.


Andrian adalah lelaki yang sangat baik Rosa sangat tahu betul jika kepergian nya sekarang bukan karena marah pada Nadia semata namun karena rasa kecewa. Andrian tak pernah bersikap seperti ini sebelum nya meski Rosa tidak tahu masalah apa yang terjadi pada mereka tapi ia selalu mendoakan yang terbaik.


Rosa bahkan rela menanti Nadia hingga Nadia terbangun lagi ia tidak akan menghakimi siapa pun karena yang terpenting sekarang adalah memulihkan dulu kondisi menantunya dan biarkan masalah yang terjadi pada mereka, mereka selesaikan nanti setelah kepala mereka dingin.


Rosa menghapus kembali air mata nya ia berusaha tenang agar dirinya sendiri bisa kuat melewati ujian untuk nya saat ini.


''Mami.'' Nadia kini telah membuka matanya ia melihat wajah sedih terlihat dari wajah sang mertuanya bahkan tangan nya di pegang erat oleh sang mertuanya.


''Kamu sudah sadar sayang.'' Rosa kembali menangis ia tidak bisa menahan tangis nya ia tidak tahu harus bagaiman lagi melihat kondisi Nadia terbaring lemah sangat menyakitkan seakan melihat kondisi putri nya sendiri.


Rosa sangat menyayangi Nadia bahkan seperti pada anak nya sendiri. Ia selalu memperhatikan kebutuhan Nadia seperti layaknya pada sendiri entah kenapa namun seperti itulah kenyataan nya. Nadia membuat Rosa seperti membuat nya jatuh cinta seperti pada anak sulung nya yang kini jauh darinya.


''Mam di mana mas Andrian.'' Ucap Nadia mencari keberadaan suaminya. Namun pertanyaan itu sangat menyakiti hatinya. Bagaimana tidak Rosa sendiri tidak tahu kemana putri nya berada lalu ia harus menjawab apa Rosa merasa sangat bingung.


Rosa berpikir sejenak terlihat kesedihan dari raut wajah Nadia ia sangat yakin jika mereka sedang dalam masalah.


''Andrian belum bisa pulang nak, dia sekarang lagi sibuk mami juga sangat berharap dia pulang mungkin jika sudah selesai dia akan segera ke sini. Maafkan Andrian karena dia tidak bisa menemani kamu.'' Rosa terpaksa berbohong ia sangat tidak tega jika ia berkata jujur jika dirinya sendiri tidak tahu kemana Andrian.


Yang lebih penting baginya sekarang adalah Nadia sembuh terlebih dahulu.

__ADS_1


Nadia hanya terdiam kini ia menangis dengan linangan air mata tanpa suara. Sakit yang ia rasakan tak bisa ia pendam. Ingin sekali ia meninggal di saat ia mencintai seseorang yang mampu merubah dirinya namun kini lelaki itu malah meninggalkan nya bagaimana dirinya saat ini dan ke depan nya apa Andrian akan bertahan dengan diri nya atau malas melepasnya pergi karena kesalahan yang pernah ia perbuat meski ia sudah sangat menyesali perbuatan nya. Nadia tidak bisa dengan keadaan ini ia sangat membenci keadaan yang kini menyeretnya ke lubang keputusasaan.


Andaikan saja di tempat ini tidak ada mami mertuanya ingin sekali ia segera melepas segala alat medis yang menancap pada tubuhnya.


Untuk apa ia bertahan hidup jika lelaki yang selalu membuat nya merasa berharga kini malah mencampakan dirinya.


''Aku ingin pulang mam.'' Nadia berkata tanpa menatap wajah mami nya ia begitu tidak sanggup melihat wajah mertuanya menangis karena dirinya.


''Bagaimana bisa nad, kondisi kamu baru saja membaik.'' Rosa sangat tidak menyangka dengan permintaan Nadia yang akan membahayakan dirinya dan juga bayi yang berada di dalam kandungan nya.


''Aku sudah membaik mami, aku mau pulang.'' Nadia kini menatap wajah mami nya dengan air mata yang sudah menghilang kini ia memaksa ingin pulang.


''Ok sayang tapi nanti setelah kondisi kamu membaik.''


''Tidak mami aku mau sekarang. Aku mau pulang mam aku mau pulang.''


''Aku gak peduli aku mau pulang.''


Nadia semakin menjadi entah apa yang membuat nya seperti ini namun kini ia menangis dengan perkataan yang selalu ia ulangi Rosa sangat kaget ketika melihat reaksi dari menantunya ia segera memanggil dokter yang menangani menantu nya.


Rosa tidak bisa mengatasi menantunya sendiri ia sendiri sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Para dokter dan juga perawat kini sudah berada di kamar Nadia mereka menyuntikan penenang agar Nadia kembali tenang dan kini ia tertidur.


''Kamu baik-baik aja kan?'' tanya Tania pada Rosa yang tidak lain adalah sahabat nya.


Rosa menggeleng sungguh ia sendiri tidak bisa menyembunyikan keadaan nya ia sangat kaget bahkan sedih dan juga cemas entah apa yang kini ia rasakan namun melihat kondisi menantunya seperti itu ia sangat kecewa pada putra nya.

__ADS_1


''Semuanya akan baik-baik dana Rosa, istirahatlah perhatikan kondisi kesehatan mu kamu sendri harus kuat rosa.''


''Aku gak tau apa yang harus aku lakukan aku gak tahu.'' Rosa menutup wajah nya dengan tangan nya. Orang tua mana yang akan kuat melihat kondisi yang sangat mengenaskan terjadi pada putri nya meski Nadia adalah menantunya bagi Rosa Nadia adalah putrinya.


''Kamu harus kuat Rosa, tak ada ujian yang akan datang kepada kita melainkan kita mampu. Kita keluar sebentar biarkan dirimu istirahat.''


Namun Rosa tetap menggeleng ia tidak mau mengikuti saran teman nya ia hanya ingin mendampingi putrinya ia ingin memastikan keadaan putri nya baik-baik saja.


.


.


Andrian yang sudah bangun dari masa kritisnya kini ia melihat sekeliling ruangan yang asing bagi nya.


Kini ia yakin jika dirinya sedang berada di rumah sakit. Bahkan kini di lengan nya masih tertancap jarum infus.


''Kamu sudah sadar An.'' Lelaki yang sangat Andrian kenali ia datang menghampiri dengan senyum senang nya ia mendekat.


''Sejak kapan aku berada di sini.'' Tanya Andrian karena ia sempat mengingat kejadian yang menimpanya sebelum ia pingsan.


''Sudah satu hari kamu berada di sini.'' Ucap lelaki itu yang kini memeriksa keadaan nya.


''Aku harus segera pergi.'' Andrian hendak bangun dari tempat tidur nya ia ingat jika dirinya harus segera menemui Syifa.


Namun gerakan nya kini tertahan karena lengan kekar dari sahabat nya menahan dirinya untuk bangun.


Bagaimana ia mengijinkan teman nya bangun sedangkan kondisi dirinya belum sembuh sempurna.

__ADS_1


......................


__ADS_2