
Abi Husein berdiri matanya sangat memerah karena menahan amarahnya.
''Aku akan temui anak yang tidak tahu di untung itu.'' Sahut Abi Husein yang memperlihatkan kemarahannya.
Ummi Nur sangat khawatir jika Abi Husein akan berbuat di luar kendali ia segera menyusul Abi Husein yang berjalan ke luar.
Abi Husein berjalan dengan cepat ia yang sudah tau kamar Nadia ia mempercepat langkahnya.
''Nadia!'' Sahut Abi Husein dengan mendorong pintu kamarnya namun kamar Nadia yang terkunci.
Abi Husein pun mengetuk pintu itu dengan keras.
Nadia yang baru saja terbangun ia segera membuka pintu kamarnya.
''Abi....'' Nadia yang tadinya akan memeluk abi nya namun malah mendapat tamparan dari abi nya.
Plak.. ''Dasar anak tak tahu di untung, berapa kali abi bilang jangan berbuat onar kembali, Abi sangat malu punya anak seperti kamu!''
Ummi Nur yang yang melihat putri kesayangannya di tampar dengan kasar oleh Abi nya sendiri ia sangat tidak tega, ia tahu jika anaknya bersalah namun tetap naluri seorang ibu akan sangat sakit jika melihat putrinya terluka.
Ummi Nur berlari dan segera memeluk putri kesayangannya.
''Abi sudah cukup!'' teriak ummi Nur yang melihat kondisi putrinya yang sangat menghawatirkan.
''Kamu bela saja anak itu, dia memang pantas menerima semua itu, aku sangat malu mi, aku malu karena gagal dalam mendidik anak kita.''
Abi husein pun pergi meninggalkan ummi Nur dan Nadia ia segera bergegas pergi ke rumah abah.
''Nadia ayo kita bereskan barang- barang mu.'' sahut ummi Nur dengan lembut.
''Tidak ummi tidak! Nadia gak mau pergi dari sini, Nadia harus tetap tinggal disini ummi, Yusuf belum menjadi suami aku.'' Nadia benar- benar keras kepala.
''Bagaimana dia akan memilih kamu sebagai istrinya Nadia jika kamu berperilaku seperti itu! Ummi gak habis pikir dengan apa yang kamu lakukan Nadia, ummi benar- benar kecewa sama kamu.''
''Ummi, ummi harusnya bantu aku untuk meyakinkan keluarga abah, biar Nadia bisa menikah dengan Yusuf, bukannya malah marah sama aku.'' Nadia sedikit meninggikan suaranya ia benar- benar sudah di buta kan dengan cinta
Plak... ummi Nur menampar pipi kiri Nadia.
''Sadar Nadia, kamu benar-benar di buta kan karena cinta.'' Ummi Nur menangis di hadapannya ia benar-benar sangat lelah dengan sikap Nadia yang sangat memaksakan kehendak.
__ADS_1
Memang sejak kecil apa pun yang Nadia inginkan ummi dan abah selalu berusaha untuk memenuhinya walaupun mereka bersusah payah keinginan Nadia tak pernah ada yang tak ia miliki semuanya selalu seperti harapannya.
''Ummi benar-benar gagal Nadia,'' ummi Nur pun akhirnya menangis, hatinya sangat hancur saat mengetahui kelakuan anaknya.
''Nadia minta maaf ummi.'' Nadia pun memeluk ummi nya.
Akhirnya Nadia pun bersedia meninggalkan kamarnya.
Ummi Nur dan Nadia segera mengemasi barang-barang Nadia dan membawanya kedalaman mobil.
Nadia dan ummi Nur pun kini memasuki rumah abah,
Terlihat abah dan ummi sedang duduk bersama Abi Husein dan juga orang tua Syifa.
''Duduklah nak.'' kata Abah pada Nadia yang masih berdiri mematung.
Ibu dan ayah Syifa yang melihat Nadia mereka sedikit geram, mereka memang belum bisa memaafkan Nadia karena anak mereka memang sedikit terguncang atas apa yang Nadia lakukan.
''Kamu tahu Nadia ini adalah ibu dan ayah Syifa, kami semua sudah mengetahui apa yang kamu lakukan terhadap Syifa dan itu dari Yusuf, Yusuf lah saksi dari perbuatan mu, abah harap kamu bisa berubah dan abah meminta maaf sama kamu, abi Husein dan juga ummi Nur jika sekarang abah harus mengeluarkan mu, abah hanya ingin jika kamu akan berubah mungkin didikan orang tua kamu sendiri, mungkin kamu akan lebih baik.'' tutur abah panjang lebar.
Sementara Nadia hanya terdiam ia tak mampu untuk berkata- kata.
''Saya selaku orang tua Nadia saya memohon maaf atas perlakuan anak saya yang membuat anak ibu dan bapa terluka saya berharap ibu dan bapa memaafkan kesalahan anak kami,'' tutur abi Husein.
''Iya saya memaafkan atas semuanya saya harap kamu akan menjadi lebih baik lagi, terlebih kamu adalah seorang perempuan tidak sepatutnya kamu berbuat kasar.'' Ayah berkata pada Nadia.
Akhirnya Nadia dan kedua orang tuanya berpamitan mereka meminta maaf kepada abah dan ummi Sebelum mereka benar-benar meninggalkan pesantren.
Beberapa guru mengetahui perlakuan Nadia kepada Syifa, namun lebih besar dari mereka tidak tahu jika Nadia berbuat hal yang tidak sepatutnya, mereka mengira memang Ustadzah Nadia akan keluar karena akan berpindah pesantren untuk mengajar di tempat lain.
.
.
Seminggu berlalu
Syifa yang sudah membaik, kini ia tinggal di rumahnya karena ibu meminta ijin untuk membawa Syifa pulang.
Syifa rencananya akan kembali mondok setelah ia benar- benar sembuh.
__ADS_1
Syifa memang sedikit trauma namun syukurnya ia tidak kenapa-kenapa.
Syifa yang baru saja bangun dari tidurnya ia memandangi langit-langit kamarnya, ia pun membuka jendela kamarnya terlihat indah sekali lagit biru Jakarta, ia menghirup udara segar di pagi hari sungguh suasana yang sangat ia rindukan setelah sekian lama ia mondok di pesantren.
Namun ia juga merindukan teman- temannya. ''Mereka pasti lagi di kantin kalau jam segini,'' gumam Syifa yang terus memandangi luar.
''Pagi sayang.'' ibu datang ke kamar dengan membawa sup kesukaan Syifa.
''Ibu... kenapa ibu bawa makanan ke kamar, biar Syifa turun aja lagian Syifa udah cukup baik ko.'' Tutur Syifa yang merasa tidak enak.
''Kamu lebih baik diam dulu jangan dulu kemana-mana ayo sini makan. kamu pasti suka.'' Ibu tersenyum dan tetap menemani Syifa sarapan ''
''Ayah udah berangkat kerja bu?'' tanya Syifa sambil memasukan sup ke dalam mulutnya.
''Iya sudah tadi pagi sekali, soalnya ada pertemuan yang mendadak katanya sih, tadi sempat ke kamar cuman kamu masih tidur.'' Jelas ibu sambil membereskan kamar yang sedikit berantakan.
''Ibu bolehkan kalau hari ini kita keluar? aku juga bosan di rumah terus, lagian mungkin tiga hari lagi aku akan kembali ke pondok.''
''iya boleh lah nanti sekalian kita beli beberapa oleh-oleh untuk teman kamu di pesantren.''
''Iya itu ide bagus.'' Syifa pun melanjutkan makannya.
.
.
Sudah seminggu Syifa yang tidak mengikuti ujian semester apa dia masih sakit yah?'' gumam yusuf ia benar-benar tidak tahu keadaan Syifa.
Ia sangat berharap jika Syifa dapat kembali ke pondoknya.
''Assalamualikum Ustadz?'' Salam Ustadzah Nurul yang hendak masuk ke ruangan Ustadz Yusuf.
''Waalaikumusalam masuk!''
Ustadzah Nurul pun masuk membawa beberapa lembar jawaban ujian yang telah di periksa.
''Ini Ustadz saya sudah selesai memeriksa semuanya.'' Sahut Ustadzah Nurul.
''Kalau begitu saya kembali ke kelas Ustadz,'' Nurul pun keluar dari ruang Ustadz Yusuf,''
__ADS_1
Ustadzah Nurul adalah Ustadzah pengganti Nadia ia lulusan dari pondok pesantren Nurul Huda, ia juga dulu satu angkatan dengan Yusuf.
Nurul bertemu dengan Yusuf di dekat mesjid alun-alun kota saat Yusuf hendak shalat di sana ternyata Nurul yang sedang mengajari anak-anak mengaji di sana hingga Yusuf menawarkan agar Nurul ikut mengajar di pesantren Nurul Huda.