
Dua hari sudah berlalu Arumi sudah bisa menerima keputusan Ustadz Yusuf meski Ustadz Yusuf meminta maaf langsung padanya ia masih sedikit merasa kesal.
Tapi mau bagaimana lagi kini pernikahan nya sudah di depan mata esok hari adalah hari dimana dirinya akan menikah dengan Ustadz Yusuf bahkan kini di pondok pesantren sudah sangat ramai membicarakan pernikahan nya. Keluarga Arumi sendiri sudah berada di kediaman abah karena mereka akan menjemput Arumi untuk diam di hotel dimana pernikahan nya akan di gelar.
''Sudah dong Arumi jangan cemberut gitu kan besok acara nya jangan sedih jangan marah-marah lagi oke.'' Syifa memeluk sahabatnya Syifa sangat tahu bagaimana perasaan Arumi bahkan menurut Syifa masih mending Arumi lebih tahu awal meski waktu nya tak jauh berbeda.
''Aku jadi mikir gini fa, bagaimana kamu menikah dengan Ustadz Hanif dulu. Aku aja yang tahu akan menikah secepat ini masih bisa kesel apalagi kamu.'' Ucap Arumi dengan wajah yang sejak tadi ia tekuk.
''Ya aku juga dulu memang tidak bisa menerima apalagi aku masih sekolah cita-cita aku masih tinggi. Tapi aku tidak bisa apa-apa semua keputusan ada di tangan ayah ku ya mau gak mau mungkin semua ini adalah takdir dari hidup ku.'' Syifa mengingat kembali kisah dirinya meski awal yang membuat dirinya kecewa tapi ia sendiri kini merasa sangat bersyukur.
''Udah jangan sedih terus kasihan keluarga kamu. Lagian aku tahu Ustadz Yusuf bukan tidak ingin memberitahu kamu dia juga sudah jelasin kan sama kamu kalah dia merasa tidak ingin membebani kamu.'' Tutur Syifa berusaha membuat Arumi tersenyum namun tetap saja Arumi merasa kesal.
Desi dan Arin baru saja masuk ke dalam kamar mereka dengan senyum lebar nya.
''Fa. Ada yang nungguin kamu di luar.'' Ucap Arin dengan wajah yang berbunga-bunga.
''Siapa ah. Kamu lihat tuh Arumi sejak tadi di cemberut aja padahal besok kan dia menikah'' Syifa memberitahu Desi dan Arin yang malah terlihat tidak peduli pada sahabat nya.
Desi segera menghampiri Arumi di ikuti juga oleh Arin.
''Udah dong jangan sedih. Masa nanti kalau di foto jadi cantikan aku kalau kamu sedih terus.'' Arin berusaha membuat Arumi tersenyum.
''Ih apaan cantikan akulah.'' Arumi terkekeh akhirnya mereka tertawa kembali.
Melihat Arumi tertawa membuat Syifa merasa lega. Ia sangat tahu betul rasanya menikah dengan di dadak seperti ini.
Suara ketukan pintu menyadarkan mereka membuat Syifa segera menghampiri pintu.
Syifa segera mendorong pintu dan berapa terkejutnya ia saat melihat pintu ternyata suaminya.
''Mas.'' Syifa segera memeluk Hanif yang sedang tersenyum lebar ke arah dirinya.
__ADS_1
''Ekhmmmm.'' Suara Arin membuat Syifa segera melepas pelukan nya bahkan pipinya merona karena malu.
''Di luar aja ya pacaran nya kasihan kita yang masih jomblo.'' Kekeh Arin sambil menahan malu karena bagaimana pun suami Syifa adalah gurunya dulu saat di madrasah.
Hanif terkekeh ia pun segera menarik tangan Syifa agar segera keluar.
''Ih mas. Main tarik aja.'' Syifa menggerutu karena Hanif menariknya sedikit keras.
Hanif hanya tertawa melihat Syifa sedikit meringis. ''Maaf sayang abisnya aku dari tadi nungguin kamu malah lama ya sudah mas samperin ke kamar.'' Ucap Hanif membela diri.
''Oh ya kamu sudah selesai kan?'' tanya Hanif karena ia akan membawa istrinya untuk ikut bersama dirinya.
''Dikit lagi. Memang nya kita bakal langsung pulang? kan besok Arumi menikah dengan Ustadz Yusuf.'' Jelas Syifa karena tidak mungkin ia pulang dan tidak menyaksikan pernikahan sahabat nya.
''Enggak besok kita tetep hadir cuman kamu lebih dulu ikut mas. Kita menginap saja di penginapan yang selalu mas datangi.'' Ajak Hanif karena tidak mungkin Hanif di sana dan Syifa di sini.
''Oh ya sudah aku beresin dulu buku-buku ya mas.'' Syifa mengingat jika barang-barang nya belum selesai ia bereskan.
Hanif mengangguk ia menunggu Syifa di taman sambil menunggu beberapa barang istrinya yang belum selesai.
''Ko balik lagi sih.'' Arin menatap heran kepada Syifa karena ia malah balik lagi ke kamar nya ia kira jika Syifa akan menghabiskan waktu bersama Hanif karena kini pondok sudah sedikit sepi mengingat sudah banyak santri yang kembali pulang.
''Aku mau beresin barang-barang kayak nya aku bakal pergi sekarang.'' Ucap Syifa sambil duduk bersama ketiga teman nya.
''Yah ko pulang sih gak seru dong kan besok Arumi nikah.'' Arin sedikit cemberut.
''Ya aku hadir lah cuman aku akan ikut mas Hanif dulu jadi besok aku langsung ke hotel nya.'' Ucap Syifa menatap ke tiga sahabat nya.
Mereka mengangguk paham dan membiarkan Syifa memberikan barang nya bahkan ke tiga sahabat nya membantu Syifa membereskan beberapa barang dan membawanya ke mobil Hanif.
''Makasih ya.'' Ucap Syifa setelah selesai memasukan barang-barang nya ke dalam mobil.
__ADS_1
''Jangan sedih lagi oke.'' Ucap Syifa memeluk Arumi yang sejak tadi tidak banyak bicara.
Mereka saling berpelukan sebelum mereka akan benar-benar berpisah.
Syifa segera masuk ke dalam mobil nya di ikuti oleh Hanif.
Terlihat Syifa menghapus air mata bahkan hidung nya sudah sangat merah karena air mata yang sejak tadi ia tahan.
''Ko sedih sih.'' Ucap Hanif menatap wajah Syifa.
Syifa menatap wajah suami nya dengan senyum yang ia paksakan.
''Aku hanya sedih mas. Aku kira berpisah dengan mereka tidak akan sesakit ini.'' Ucap Syifa jujur bahkan air mata nya seketika tumpah.
Mobil yang sudah sejak tadi meninggalkan pekarangan rumah abah kini berjalan sedikit pelan dan berhenti di pinggir jalan karena Hanif tidak tega melihat Syifa yang menangis.
''Udah gak apa-apa masih ada besok. Kalian kan bakal ketemu lagi di pernikahan Arumi.'' Hanif mengusap kepala Syifa ia sangat tahu perasaan Syifa bagaimana tidak ia juga pernah mondok.
Meski Hanif tidak menangis namun ia sangat merasakan saat ia berpisah dengan teman-teman nya yang selalu setiap hari bersamanya sangat tidak mudah apalagi jika mereka sudah sangat lama bersama.
Syifa menarik napasnya panjang dan mengeluarkan nya secara perlahan kini ia sudah sedikit tenang ia kembali tersenyum menatap wajah suami nya yang setia menghibur dirinya.
''Mau balik lagi?'' Hanif menggoda istrinya. Bagaimana mungkin istrinya akan meninggalkan dirinya padahal Hanif sudah sangat sabar menanti saat-saat indah bersama istrinya.
Syifa hanya menggeleng dan kini mereka tertawa bersama.
''Katanya gak mau pisah dengan teman-teman mu.'' Hanif masih saja menggoda Syifa meski ia sudah tahu tak mungkin Syifa memilih teman nya jika di bandingkan dirinya.
''Aku rindu.'' Syifa berkata dengan jujur bahkan kini ia memeluk Hanif dengan erat membuat Hanif terkekeh melihat kelakuan Syifa.
......................
__ADS_1
Makasih ya buat para pembaca setia Ustadz impian. Author sangat berterima kasih sekali pada kalian yang sudah setia membaca dan sekarang ceritanya sudah sampai pada tengah-tengah nya jadi buat kalian yang mau kasih saran dan masukan di tunggu ya jangan lupa tinggalin jejak nya ya☺
Semoga saja kalian suka cerita nya dan Terima kasih buat kalian semua love love love buat kalian🥰