
Syifa dan Hanif kini sudah berada di dalam mobil nya sedangkan ummi sudan lebih dulu pulang bersama mang Ali.
''Mas.''
''Iya sayang?'' Jawab Hanif tak luput dari senyum nya bagaimana tidak Hanif merasa sangat bahagia saat mendengar berita kehamilan istrinya.
''Aku mau makan bubur.'' Pinta Syifa karena ia merasa sedikit lapar.
''Boleh. Ya sudah kita cari ya.'' Hanif dengan setia ia mengedarkan pandangan nya di jalanan berharap ada penjual bubur yang masih ada karena kini sudah tengah siang.
Hanif melirik ke sebuah warung penjual bubur namun sepertinya sudah habis hingga hampir setengah jalan mereka hampir sampai kediaman nya.
''Kayak nya gak ada yang. Kamu mau makan apa kalau begitu?'' tanya Hanif lagi karena memang tukang bubur biasnya di jam seperti sekarang sudah pada habis.
''Aku mau bubur mas.'' Kekeh Syifa yang hanya ingin makan bubur.
''Ya sudah biar mas bikinin buat kamu ya. Sekarang kita pulang kasihan dede bayi nya mungkin sedang lapar juga.'' Ucap Hanif lembut membuat Syifa mengangguk karena ia sendiri merasa sangat lapar.
Beberapa menit telah berlalu kini mereka sudah sampai.
Hanif segera turun dari mobil nya dan beralih berlari ke sisi sebelahnya untuk membuka kan pintu untuk Syifa.
''Makasih mas.'' Syifa tersenyum lembut dan segera turun.
Hanif begitu bersikap manis memang sebelum mengetahui Syifa hamil saja Hanif sudah sangat sayang dan perhatian kepada Syifa terlebih sekarang saat Syifa sedang hamil.
''Assalamu'alaikum.'' Salam Hanif dan juga Syifa.
Hanif dan Syifa segera masuk ke dalam rumah.
''Aku buat dulu ya.'' Hanif segera bergegas pergi ke dapur meninggalkan Syifa yang kini sedang beristirahat di ruang keluarga.
Beberapa menit telah berlalu kini Hanif kembali dengan semangkuk bubur di tangan nya.
''Ummi.'' Hanif berkata pelan karena kini ummi sedang menyelimuti Syifa yang sedang tertidur di sofa.
''Udah simpan dulu saja kasihan Syifa sepertinya lelah.'' Ucap ummi sambil duduk di kursi yang kosong.
Hanif mengikuti saran ummi dan berjalan ke arah tangga ia sendiri merasa lelah apalagi ia belum sempat mengganti pakaian nya karena dengan semangatnya langsung membuat bubur untuk sang istri.
Hanif membuka baju nya dan beralih ke kamar mandi.
Beberapa menit telah berlalu Hanif sudah merasa lebih segar ia segera berganti pakaian.
''Oh aku hampir lupa.'' Ucap Hanif pelan. Ia hampir saja menyemprotkan parfum pada tubuhnya namun seketika ia mengingat jika Syifa sedang tidak menyukai wangi parfum laki-laki.
__ADS_1
''Lucu sekali.'' Kekeh Hanif pelan sambil merapikan parfumnya pada tempat yang aman. Ia hanya sedikit khawatir jika parfumnya malah Syifa buang seperti yang ia lakukan saat itu.
Hanif kembali turun ke lantai bawah untuk melihat istrinya.
''Kamu sudah bangun sayang.'' Hanif tersenyum ke arah Syifa yang sedang makan bubur buatan nya dengan sangat lahap.
''Iya mas tadi aku ketiduran maaf. Tapi pas aku bangun udah ada bubur ya sudah aku makan.'' Kekeh Syifa pelan dan memakan kembali bubur buatan suaminya.
Hanif melihat Syifa yang begitu dengan lahap makan ia tersenyum dan mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut.
Suara ponsel Syifa kini terdengar membuat Syifa kembali menaruh mangkuk di tangan nya.
''Bibi.'' Syifa berkata pelan dan segera mengangkat panggilan dari bibi Aisyah.
''Assalamu'alaikum, bi?'' salam Syifa saat mengangkat telepon dari bibi Aisyah.
''Oh iya bi, kalau begitu Syifa pergi ke sana. waalaikum salam.'' Syifa menutup kembali panggilan nya ia beralih menatap Hanif dengan tatapan sedikit khawatir.
''Kenapa yang, ada apa?'' tanya Hanif beruntun.
''Ana mas, dia sakit tubuhnya panas Ana juga gak mau makan katanya mau ketemu aku sama kamu.'' Syifa menjelaskan apa yang tadi bibi Aisyah katakan padanya.
''Ya sudah kamu habiskan dulu makan nya biar aku saja yang pergi sendiri.'' Hanif mengusulkan karena ia tidak ingin Syifa kelelahan apalagi perjalanan ke rumah bibi Aisyah lumayan jauh mengingat Syifa juga belum lama pulang.
''Gak mas aku mau ikut.'' Syifa menatap Hanif dengan tatapan memohon. Ia sendiri sangat rindu pada Ana apalagi sudah sangat lama ia ingin bertemu tapi karena Ana ikut pada bibi Aisyah membuat keinginan nya harus ia tunda.
...
''Ummi, aku berangkat dulu ya.'' Pamit Hanif karena ia akan berangkat ke rumah bibi Aisyah.
''Kalian mau kemana?'' tanya Ummi karena ummi merasa heran Hanif dan Syifa sudah siap untuk pergi.
''Mau ke rumah bibi Aisyah ummi, Ana sakit demam panas, kata bibi Aisyah Ana juga gak mau makan.'' Jelas Syifa pada ummi.
''Ya sudah hati-hati, ingat han jangan ngebut-ngebut kasihan Syifa juga ingat juga nak, kamu jangan terlalu capek.'' Ummi mengingatkan kembali seolah ummi tak pernah bosan mengingatkan dirinya dan juga Hanif.
''Iya ummi.'' Syifa mengalami ummi dan segera pergi.
Hanif segera menyalakan mobil nya dengan perlahan ia mobil itu kini meninggalkan kediaman nya.
''Mas aku jadi gak tega sama Ana kasihan,'' Syifa berkata lirih ia sangat sayang sama Ana.
''Iya aku tahu sayang, gak apa-apa kita datang nanti Ana sembuh ko.'' Hanif mencoba menenangkan Syifa.
''Udah jangan melamun terus kasihan kandungan kamu sayang.'' Hanif mengusap punggung Syifa ia tidak ingin jika Syifa terlalu banyak pikiran yang akan berimbas pada kandungan nya.
__ADS_1
Satu jam telah berlalu kini mereka sudah sampai di depan rumah bibi Aisyah.
''Assalamu'alaikum?'' salam Hanif dan juga Syifa di depan pintu rumah bibi Aisyah.
''Waalaikimsalam, mari nak masuk maaf bibi jadi merepotkan kalian berdua.'' Ucap bubu Aisyah merasa tidak enak karena Ana Syifa dan Hanif harus datang ke rumah nya.
''Tidak ko bibi, oh ya dimana Ana?'' tanya Syifa.
''Di kamar sama paman.'' Bibi Aisyah berjalan ke arah kamar di ikuti oleh Hanif dan juga Syifa.
Terlihat Ana yang sedang melamun tatapan nya seolah kosong bahkan terlihat wajah yang memerah karena demam.
''Ana?'' ucap Syifa pelan dan menghampiri Ana.
''Bunda.'' Ana menoleh ke arah suara saat mendengar suara Syifa ia menangis dan berhambur pada pelukan Syifa.
Syifa melihat kondisi Ana ia merasa sangat sedih ia dapat merasakan jika Ana merindukan sosok bunda nya.
Syifa pun duduk di samping Ana dengan tangan yang terus memeluk Ana. Hanif paman dan bibi Aisyah yang melihat Ana sedih seperti itu mereka tak kuasa menahan air mata sedih nya.
Ana memang sangat merindukan ayah dan bunda nya sejak ayah dan bunda nya meninggal Ana terlihat sangat murung namun saat bertemu dengan Hanif semangat hidupnya seolah kembali terlebih saat melihat Syifa Ana menjadi anak yang ceria kembali.
''Ana makan dulu ya, bunda bawa bubur buat Ana, Ana makan yah.'' Syifa berkata dengan lembut.
Ana mengangguk seketika dan ia mau makan dengan di suapi oleh Syifa.
Kini Ana dan Syifa hanya berdua di kamar sementara bibi Aisyah paman dan juga Hanif sedang berada di ruang tamu.
...
''Paman tidak bisa melihat Ana seperti itu han,'' paman menangis ia merasakan sangat sesak di dadanya bagaimana tidak melihat cucu nya terbaring lemah sangat menyakitkan.
Sebenarnya sebelum Ana sakit ia berhari-hari tidak ingin makan setelah pulang dari jakarta ia mengingat kembali Syifa dan Hanif dan sejak saat itu ia menjadi sakit.
Hanif bingung sendiri dengan permintaan paman nya ia merasa jika dirinya seolah merebut Ana dari paman nya bagaimana pun paman adalah kakek nya.
Bibi Aisyah menangis ia sendiri sangat berat hati melepas Ana pada Syifa dan Hanif mana ada seorang nenek yang sanggup jauh dari cucu nya yang sudah sangat lama tinggal bersamanya.
''Apa bibi sama paman yakin?'' tanya Hanif kembali.
Bibi Aisyah menganggukkan kepalanya meski berat hati.
''Baiklah jika itu keinginan pama dan bibi, Hanif janji akan menjaga Ana seperti putri Hanif sendiri paman.''
Paman mengusap punggung Hanif dengan lembut ia sangat berterima kasih sekali pada Hanif yang bersedia merawat cucu nya.
__ADS_1
''Esok hari Hanif akan kembali paman biar hari ini kita menginap di sini kasihan Ana.'' Hanif merasa sangat kasihan membawa Ana dengan kondisi yang masih sakit ia tidak ingin jika membawa Ana dengan kondisi dibawa seperti ini kondisi nya akan semakin memburuk.
......................