Ustadz Impian

Ustadz Impian
bab 63


__ADS_3

Syifa pun melangkahkan kakinya perlahan memasuki rumah yang bernuansa hijau itu dengan pepohonan yang membuatnya terasa segar. Ummi oun mengajaknya agar masuk ke dalam rumah dan Syifa pun melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah yang kini ia akan tinggal bersama keluarga barunya.


Terlihat rumah yang rapih dengan desain sedikit klasik Syifa oun mengedarkan pandangannya dan melihat sebuah foto yang terpampang di dinding membuat dirinya menghampiri foto itu. Terlihat sosok lelaki kecil yang berada di dekapan kedua orang tuanya yang terlihat sangat bahagia. Syifa oun tersenyum anak itu terlihat sangat menggemaskan ia yakin jika Hanif lah yang berada di dalam foto itu.


Syifa merasakan hangatnya kasih sayang dari kedua orang tua Hanif. Hanif mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya sejak kecil yang tak pernah ia rasakan. karena perceraian yang pernah di alami oleh kedua orang tuanya. meski kini ia merasakan selayaknya anak lain dapatkan ia sangat bersyukur karena ayah dan ibunya telah bersama kembali.


''Kenapa nak?'' tanya Ummi yang melihat Syifa hanya berdiri saja.


''Oh tidak ummi Syifa hanya melihat foto itu.'' Tutur Syifa yang tersenyum ke arah ummi.


Ummi pun mengusap Syifa dengan lembut.


''Baiklah lebih baik kamu istirahat dulu.''


''Han, ajaklah Syifa agar istirahat di kamar.'' Tutur Ummi kepada Hanif yang baru saja masuk dengan tas Syifa yang ia bawa.


''Baik ummi.''


''Ayo fa.'' Ucap Hanif dan berjalan ke arah tangga sementara Syifa pun membuntuti Hanif yang mengajaknya untuk pergi istirahat.


''Lihatlah abi, ummi sangat bersyukur karena Hanif telah memiliki seorang istri yang sholehah, ummi harap jika Hanif segera memiliki anak.'' Tutur ummi pada Abi.


''Ummi, biarkan Hanif dan Syifa menikmati dulu kebersamaan mereka biarlah waktu menjawab kapan Syifa akan hamil jangan sampai ummi memaksa Syifa agar hamil, Syifa masih bersekolah.'' Abi mengingatkan istrinya ia pun mengusap punggung ummi dengan lembut agar ummi memahami perkataan abi.


Ummi pun membalikan tubuhnya menghadap wajah yang mulai menua bersamanya. Wajah yang terlihat sedikit berkeriput itu terlihat begitu berseri entah karena Hanif yang sudah menikah membuat abi terlihat segar.


''Ya abi, ummi mengerti.'' Ucap ummi yang memeluk erat suaminya itu.


.


.


Syifa yang sudah masuk ke dalam kamar Hanif ia melihat kamar yang bernuansa putih itu berbeda dengan ruangan lain.

__ADS_1


ia melihat sekeliling ruangan yang rapih bahkan buku dan kitab-kitab di sisi lemari yang besar terpajang dan tersusun beraturan.


Syifa pun menghampiri lemari yang membuatnya merasa tertarik. Jemari lentiknya menyusuri setiap buku yang membuatnya mengingatkan perpustakaan pesantren yang selalu ia kunjungi.


Hanif yang melihat Syifa di depan lemari miliknya itu ia pun menghampiri Syifa.


''Apa kamu menyukainya?'' tanya Hanif yang menatap lembut Syifa Hanif pun tersenyum melihat tingkah istrinya yang berwajah berseri.


''Ya Ustadz buku-buku ini mengingatkan aku seperti berada di perpustakaan.'' Tutur Syifa yang menampilkan senyumnya membuat jantung Hanif berdebar kembali.


Hanif pun tersenyum, ia mengerti apa yang Syifa rasakan.


Ia pun menyusuri buku dan mengambil salah satu buku bersampul kan warna pink.


Hanif pun memberikannya kepada Syifa dengan tatapan yang sulit Syifa artikan.


''Apa ini?''


''Bacalah jika kamu dalam waktu senggang.'' Tutur Hanif tanpa memberi tahu apa isi buku itu.


Syifa pun menatap lembut suaminya ia pun tersenyum ke arah suaminya yang masih setia berdiri di hadapannya.


''Kenapa Ustadz memberikan aku buku ini.'' tutur Syifa dengan menatap wajah tampan milik suaminya.


''Ya, aku harap pernikahan kita dapat mencontoh dari pernikahan Rasullullah aku ingin kita menjadi suami istri yang penuh kasih sayang dan berada dalam ridho Nya.'' Ucap Hanif penuh dengan kelembutan.


Syifa pun memeluk tubuh Hanif. Hal yang tak pernah ia lakukan ia pun merasakan ketulusan dari setiap perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu.


Hanif pun membalas pelukan hangat dari istri nya. Ia mengecup puncak kepala Syifa berkali-kali dan mengucap Syukur karena kasih sayang yang telah Allah anugrah kan kepada dirinya.


Syifa pun melepas kembali pelukannya ia merasa sedikit malu karena telah lancang memeluk Hanif yang entah kenapa ia lakukan meski ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Hanif.


Kini wajah Syifa bersemu merah ia bingung harus apa.

__ADS_1


''Ustadz aku mau istirahat sebentar.'' Tutur Syifa dengan gugupnya.


Hanif pun tersenyum dan mengusap puncak kepala Syifa yang masih mengenakan kerudung. Hanif pun menganggukkan kepalanya membiarkan Syifa beristirahat.


Perlahan Syifa menghampiri kasur yang besar itu, ia pun merebahkan badannya. Syifa menghirup wangi tubuh yang kini selalu membuatnya nyaman. Entah apa yang ia rasakan namun Syifa sangat nyaman ketika ia berada dalam pelukan Hanif.


''Apa kamu membutuhkan sesuatu?'' tanya Hanif yang terlihat menghampiri pintu.


''Tidak Ustadz, aku akan mengambil sendiri saja jika aku membutuhkan sesuatu.'' Tutur Syifa pelan.


''Baiklah, aku akan keluar sebentar istirahatlah disini.'' Ucap Hanif yang kemudian keluar dari kamar. Ia membiarkan Syifa sendiri di kamarnya agar Syifa leluasa untuk beristirahat.


Hanif berjalan perlahan menuruni setiap anak tangga. Terlihat ummi yang sedang duduk di kursi keluarga.


Hanif pun menghampiri ummi dan duduk bersamanya.


''Apa ummi lelah? ummi terlihat sedikit pucat.'' Ucap Hanif yang kemudian mengusap lengan ummi nya itu.


''Ummi hanya sedikit pusing. Mungkin ummi sedikit kecapean karena perjalanan yang terus menerus.'' Ucap ummi yang merebahkan tubuhnya di kursi.


Hanif pun dengan segera memijat kaki ummi ia begitu menyayangi ummi nya.


''Gak usah Han, istirahatlah sana temani istri kamu.'' Tutur ummi pada putranya.


''Tidak apa ummi, aku tidak ingin mengganggu Syifa mungkin dia juga butuh istirahat.'' Tutur Hanif lembut


Ummi pun membiarkan Hanif memijat kakinya. Hal yang selalu ia lakukan jika melihat ummi nya terlihat tidak enak badan.


''Ummi sangat bersyukur karena kalian kini telah resmi menjadi suami istri, Han. jagalah Syifa seperti kamu menjaga ummi sayangilah istrimu dan berikan dia perhatian yang selayaknya ia dapatkan, dan jangan tinggikan suara mu. jika Syifa berbuat salah tegur lah dan nasehati dia perlahan, karena sikap perempuan itu selalu ingin kelembutan dan perhatian.'' Tutur ummi memberikan nasehat kepada anaknya.


Ummi tahu jika Hanif tidak akan berbuat kasar atau berlaku tidak adil terhadap istrinya, tapi tetap saja ia merasa khawatir jika putranya berbuat salah. ilmu saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga yang sakinah tapi butuh kesabaran dan juga pengertian di barengi ilmu yang kita punya terutama iman kita terhadap Allah memang terlihat mudah untuk siapa saja, tapi jika badai menerpa kehidupan kita sungguh di saat itulah kita membutuhkan kesabaran dan ke lapangan dan di saat itulah keimanan kita di uji.


''Iya ummi, terima kasih karena ummi telah mengingatkan aku. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk nya.'' Tutur Hanif yang menatap lembut ummi nya ia pun mencium tangan ummi nya yang telah banyak memberikan nya pelajaran berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2