
Pagi telah menyapa kini Arumi dan keluarganya sudah siap untuk pernikahan nya segala persiapan acara sudah siap begitu pula dengan keluarga Yusuf yang sudah bersiap mereka sendiri sudah berada di hotel yang sama.
''Adik mbak udah cantik banget.'' Mbak Dini mengusap lembut punggung Arumi yang sudah terbalut dengan gaun pernikahan yang menempel di tubuhnya sangat cantik dengan warna putih yang mendominasi riasan wajah yang sempurna dengan siger yang bertengker di kepalanya membuat dirinya sangat cantik apalagi gaun pengantin yang Arumi kenakan terlihat sangat berbeda Arumi bak putri bidadari.
Arumi tersenyum menimpali perkataan dari mbak Dini yang memuji dirinya. Arumi bahkan saat ini ia merasa gugup untuk pertama kali nya ia merasakan hal seperti ini padahal sejak kemarin ia merasa masih kesal karena pernikahan nya.
''Kamu sudah makan dulu dek?'' tanya mbak Dini karena saat ia ke kamar Arumi terlihat sudah sangat siap mbak Dini khawatir jika adiknya belum makan jadi ia ke kamar dengan membawa sepiring makanan di tangan nya.
'''Belum kak.'' Ucap Arumi jujur bahkan sejak lagi menyapa ia sudah langsung di dandani tanpa bisa protes ia hanya terus saja mengikuti kemauan para perias.
''Ya sudah makan dulu dek, biar nanti di poles lagi lipstik nya nanti takutnya kamu pingsan.'' Kekeh Dini menyodorkan piring di tangan nya yang langsung dengan cepat di sambat oleh Arumi karena dirinya sendiri merasa sangat lapar.
''Makasih kak.'' Arumi langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
''Pelan-pelan.'' Mbak Dini mengingatkan.
Arumi lagi dan lagi hanya tersenyum membuat mbak Dini merasa senang karena kini adik nya terlihat berbeda dari yang ia lihat saat malam hari. Mbak Dini hanya berharap semoga apa yang terjadi adalah yang terbaik.
.........
''Mas.'' Syifa membangunkan Hanif karena perutnya merasa lapar. Sebenarnya mereka sudah bangun namun setelah shalat subuh mereka tidur kembali.
Hanif menggeliat ia memeluk kembali Syifa dengan mata yang masih terpejam.
''Mas bangun aku lapar.'' Cicit Syifa merasa cacing di perutnya meminta agar segera di kasih makan.
Hanif sedikit membuka matanya kini pandangan nya tertuju pada Syifa yang sedikit cemberut.
''Kenapa Sayang?'' tanya Hanif karena ia tidak jelas mendengar.
''Aku lapar.'' Syifa kembali berkata untuk ke tiga kalinya.
Hanif membulatkan matanya saat ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
''Ya sudah kita ke bawah.'' Hanif segera bangun dari tidur nya ia segera bersiap yang tidak lama di ikuti langsung oleh Syifa.
Sepasang suami istri itu kini berjalan beriringan dengan tangan yang saling menyelipkan kemari mereka menuruni tangga dan berjalan ke lantai bawah.
__ADS_1
Mereka segera duduk dan memesan makanan untuk sarapan pagi mereka yang sedikit tertunda.
''Mas kita nanti berangkat mau barengan sama kak Andrian? katanya sih kak Andrian juga mau hadir soalnya mereka juga di undang.'' Tutur Syifa
Memang Yusuf mengundang Nadia ya adalah salah satu teman dekat nya dan sangat wajar jika Yusuf mengundang dirinya.
Hanif menelan makanan nya terlebih dahulu dan baru menjawab pertanyaan Syifa.
''Kita duluan aja sayang. Kalau nunggu-nunggu gitu nanti kita gak bisa lihat ijab nya.'' Hanif memberi saran karena hal yang lebih penting akan Syifa lewatkan.
''Oh iya-ya kenapa aku gak ingat.'' Syifa segera memakan makanan nya lagi dengan sedikit cepat.
''Pelan-pelan sayang.'' Hanif mengingat kan karena ia melihat istrinya makan sedikit cepat.
Hanif mengusap sudut bibir Syifa yang terkena makanan dengan tisu membuat Syifa kembali merasakan hal yang selalu membuat ia merasa malu.
''Pelan-pelan.'' Hanif tersenyum ke arah Syifa dengan senyum yang menghiasi wajah nya dan selalu seperti itu.
Syifa hanya menanggapi dengan senyum di bibirnya dan kembali makan.
Beberapa menit telah berlalu kini Syifa dan Hanif tengah bersiap untuk pergi ke pernikahan Arumi.
Tentunya ia tidak ingin menjadi kesal lagi karena ulah suaminya yang selalu mengomentari dandanan nya yang menurut Syifa sudah natural.
Syifa memakai eyeliner di atas matanya ia juga memakai soflens di matanya dengan warna coklat agar tidak terlalu terlihat apalagi mengingat sikap Hanif yang selalu bersikeras agar dirinya tidak terlalu menampakan diri membuat Syifa selalu kesal.
Ia sudah siap tinggal memakai lipstik ia segera memoleskan pewarna bibir itu yang cocok untuk wajahnya dan juga riasan natural nya.
''Sempurna.'' Ucap Syifa merasa senang tepat sekali ia selesai dengan riasan wajah nya namun suaminya masih di kamar mandi.
''Mas cepetan.'' Teriak Syifa di balik pintu kamar mandi. Syifa kembali berjalan ke kamar mandi dan mencari pakaian yang kemarin ia beli untuk ia kenakan di pernikahan Arumi. Mau tak mau memang begitu Syifa merasa tidak mungkin memakai baju yang sering ia kenakan di acara penting ini meski pakaian yang ia kenakan belum di cuci tapi tak apalah Syifa tidak mempermasalahkan.
Syifa menggunakan dres panjang berwarna pink soft dan juga pasmina yang senada namun kali ini ia melabuhkan pasmina ke dadanya agar tidak kena semprot suaminya.
Hanif yang sudah selesai bahkan ia keluar sudah rapih sekali hanya tinggal menyisir saja.
''Cantik sekali.'' Hanif menghampiri Syifa dengan senyum lebar nya.
__ADS_1
Syifa tersenyum ke arah Hanif dan menerima ciuman dari Hanif.
Hanif berjalan kembali ke sisi kasur nya dan menyambar sisir lalu merapikan rambut rambut nya.
''Tumben pakai kerudung nya bener.'' Hanif tertawa kecil melihat Syifa yang sudah sangat rapih bahkan ia sedang menanti dirinya.
''Iya dong masa aku harus di ingetin terus.'' Syifa berkata datar ia segera menyambar tas kecil milik nya yang berwarna pink soft juga karena memang Syifa sangat menyukai warna pink.
''Ayo mas.'' Syifa mengajak Hanif karena ia sudah tidak sabar ingin segera berangkat.
Hanif mendekati Syifa dengan memperhatikan istrinya yang terlihat sangat cantik seolah dirinya sendiri merasa tersihir.
''Cantik, loh kok kamu pakai eyeliner yang.'' Hanif baru menyadari jika istrinya memakai make up yang menurut Hanif sedikit berlebihan bukan begitu hanya saja dengan memakai eyeliner membuat orang lain akan langsung tertuju menatap wajahnya ya menurut Hanif sih.
''Mas.'' Syifa memelas baru saja ia merasa lega karena suaminya tidak memprotes dirinya dan sekarang sudah ia lakukan lagi.
''Kenapa harus pakai sih.'' Hanif sedikit bersikap kesal karena istrinya lagi-lagi menghiraukan permintaan nya.
''Hanya kali ini saja. Boleh ya.'' Syifa memohon agar Hanif mengijinkan dirinya bahkan ia memeluk erat Hanif seolah anak yang meminta di belikan mainan.
''Ya sudah tapi lain kali jangan. Ingat menurut sama perkataan sini itu dapat pahala. Aku hanya tidak ingin orang lain jadi lebih melihat kamu karena kamu memang mencolok yang.'' Hanif menarik napasnya dan balas memeluk Syifa meski ia sedikit kesal.
Syifa hanya tersenyum lebar bagaimana tidak ia merasa berhasil merayu sang suami.
Hanif mengapit wajah Syifa dan menghadapkan ke wajah nya.
''Kamu.'' Hanif kembali terlihat tidak suka lagi-lagi ia merasa kesal.
Syifa hanya tersenyum bahkan kini ia memperlihatkan gigi putih miliknya.
''Kenapa harus pakai soflens sih yang. Mata kamu sudah bagus kamu cantik.'' Kesal Hanif.
''Gak apa-apa sih mas. Mas juga baru sadar kan.'' Kekeh Syifa menurut Syifa suami nya saja yang sejak tadi melihatnya baru sadar apalagi nanti orang lain yang melihatnya hanya sekilas.
Setelah beberapa menit mereka habiskan dengan sedikit berdebat akhirnya mereka berangkat ke pernikahan Arumi dengan Syifa yang lolos dari kekesalan Hanif membuat senyum Syifa merasa menang.
Syifa berjalan dengan Hanif di samping nya mereka menaiki mobil untuk segera pergi ke acara penting sahabatnya.
__ADS_1
......................