Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 62


__ADS_3

Syifa pun memegangi dadanya ia merasakan hal yang aneh setiap Hanif bersikap lembut padanya.


''Kenapa Ustadz Hanif seperti itu.'' Ia pun mengusap kening yang baru saja Hanif cium namun kini ia tersenyum mengingat ia begitu terbuai karena ciuman yang Hanif berikan. Meski ia sangat takut jika Hanif meminta haknya.


''Apa aku mulai jatuh cinta sama Ustadz Hanif?'' tanya Syifa yang merasakan hal aneh setiap ia menatap Hanif.


Syifa pun segera membasuh badannya dan segera mandi .


.


.


Pukul sepuluh siang, Hanif yang sudah siap ia menanti Syifa yang masih di kamarnya.


''Syifa kamu sudah siap?'' tanya Hanif yang masuk kembali ke kamar istrinya itu.


''Sebentar Ustadz,'' ia pun merapihkan bajunya kembali dan hendak mengambil tas yang berisi pakaian yang akan ia gunakan saat di rumah ummi.


''Biar aku saja.''Tutur Hanif yang segera mengambil tas yang hendak Syifa ambil.


Syifa pun tersenyum dan membiarkan Hanif membawa tas yang begitu banyak berisi pakaian.


Syifa dan Hanif pun berjalan beriringan. Mereka pun menuruni satu persatu anak tangga bersama Hanif yang kini berada di sisinya.


Syifa dan Hanif mereka terlihat sangat serasi sepasang pengantin itu pun menghampiri orang tua mereka yang sudah menanti kedatanganya.


''Sudah siap nak?'' tanya Aris yang menampilkan senyum nya pada anak dan menantunya itu.


''Iya sudah ayah.'' Syifa pun segera menghampiri ayahnya dan memeluk erat ibunya yang terlihat sedikit pucat.


''Apakah ibu sudah membaik? ibu terlihat sedikit pucat.'' Tutur Syifa menatap lembut wajah teduh ibunya.


''Ibu baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, ada ayah yang selalu menemani ibu. Kamu yang hati-hati di sana, bersikaplah yang baik, dan yang terpenting patuhi suami mu dan hormati kedua mertuamu.'' Ibu pun mengusap lembut wajah putrinya.

__ADS_1


Mira tidak menyangka jika kini putri kecilnya sudah menjadi seorang istri tak pernah ia membayangkan jika Syifa akan menikah dalam waktu dekat.


Syifa pun mengangguk patuh, ia akan selalu mengingat apa yang telah ibunya amanah kan pada dirinya. Yang terpenting bagi Syifa kini adalah membangun rumah tangga yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah.


Mira pun kini beralih menatap Hanif yang berada di sisi Syifa.


''Hanif, ibu titip Syifa ya, mungkin Syifa akan sedikit merepotkan kamu, tapi percayalah dia akan selalu berada di sampingmu bimbinglah Syifa agar menjadi istri yang sholehah.'' Mira pun menepuk pundak menantunya itu dan tersenyum.


''InsyaAllah bu, aku akan menjalankan amanah yang telah ibu titipkan padaku, ibu tidak usah khawatir aku akan selalu menjaga Syifa dengan sepenuh hatiku.''


''Terima kasih nak,'' Aris pun tersenyum bangga pada menantunya itu. Aris percaya jika Hanif adalah sosok lelaki yang pantas untuk mendampingi putri nya.


Sikap Hanif yang terlihat tenang dan dewasa memang membuat Aris dan Mira bernapas lega karena Syifa mendapatkan sosok suami yang tepat untuknya.


Syifa pun tersenyum ia sangat bahagia karena apa yang ia dengar. Kali ini ia akan beradaptasi dengan keluarga barunya dan bukan hanya untuk satu atau dua hari saja namun untuk selama hidupnya.


Syifa hanya berharap jika pilihannya menikah dengan Hanif adalah pilihan yang benar semoga Allah akan selalu bersamanya. Ia sendiri masih belajar untuk mencintai Hanif dan membuka lebar hatinya untuk Hanif yang telah menjadi suaminya.


Mereka pun berjalan keluar dan menghampiri kedua orang tua Hanif yang sudah menunggunya di depan rumah.


Meski Mira selalu menggenakan celana berbeda dengan Syifa yang sudah jarang mengenakan celana ia lebih suka menggunakan gamis atau rok.


''Semoga kamu betah di sana. Kapan-kapan ayah akan berusaha untuk mengunjungi kamu.''


''Iya ayah, Syifa pamit ya ayah.'' Syifa pun menyalami kedua orang tuanya dan segera masuk ke dalam mobil Hanif yang sudah menunggunya untuk segera berangkat.


Mira dan Aris pun melambaikan tangannya hingga mobil Hanif melaju dan tak terlihat.


Hanif menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang ia pun menoleh ke arah Syifa yang kini sedang duduk di samping nya. Sementara abi dan juga ummi mereka duduk di kursi belakang.


Hanif tak hentinya bersyukur karena Syifa yang sudah menjadi istrinya bahkan senyum yang jarang ia perlihatkan di depan ummi dan juga abi nya membuat abi dan ummi menjadi ikut bahagia.


Perjalanan terasa sangat menyenangkan ummi dan Syifa yang selalu mengobrol membuat perjalanan tidak terasa membosankan hingga ummi pun memutuskan untuk tidur karena ia terasa sedikit pusing.

__ADS_1


perjalanan dari jakarta menuju banten tidak terlalu jauh hanya memakan waktu dua jam atau tergantung kondisi jalanan.


Cuaca yang terlihat sangat cerah dengan awan biru yang membuat Syifa menikmati perjalan.


ummi dan abi mereka tertidur membuat Syifa terdiam karena Hanif dan Syifa masih saling canggung beberapa kali saja mereka mengobrol dan itu juga karena pertanyaan-pertanyaan yang Syifa tujukan.


''Apakah masih jauh.'' Tutur Syifa yang kini menatap Hanif.


Hanif pun menoleh dan kembali fokus ke jajanan.


''Lumayan, apa kamu lapar? '' tanya Hanif pada Syifa.Hanif pikir jika Syifa lapar.


Syifa hanya menggeleng ia tidak lapar ia hanya ingin segera sampai agar ia dapat berdiam di rumah tanpa merasa canggung dengan keberadaan ummi dan juga abi. meski abi dan ummi sedang tidur tetap saja ia merasa masih canggung.


''Sebaiknya kita menepi dulu di restoran jika kamu mau?''


''Jangan!'' ucap Syifa dengan cepat.


''Baiklah.'' Hanif pun kembali fokus ke jalanan membuat Syifa bernapas lega.


Dua puluh menit berlalu kini mobil pun melaju di jalanan perkampungan. Syifa yang dari tadi menikmati pemandangan kini ia merasa seperti berada di Bandung. Suasana yang terlihat begitu sejuk membuatnya membuka jendela mobil dan menghirup udara di sore hari.


''Kamu menyukainya Syifa.'' Tanya Ummi yang membuat Syifa menoleh ke arah ummi yang berada dibelakangnya.


''Iya ummi, suasana ini mengingatkan aku seperti berada di Bandung.'' Tutur Syifa yang membalikan tubuhnya menatap sang ibu mertua yang kini tersenyum padanya.


Tidak terlalu banyak obrolan sepertinya ummi terlihat sedikit lelah begitu juga dengan abi.


Mobil pun kini berhenti di depan rumah yang terlihat begitu megah dengan suasana yang sejuk dan lapangan yang luas.


Syifa pun turun perlahan dari mobil ia memandangi sekitar rumah Hanif.


''Ayo nak kita masuk.'' Sahut ummi yang kemudian mengajaknya agar segera masuk.

__ADS_1


Syifa pun mengikuti langkah kaki ummi yang mengajaknya agar masuk ke dalam rumah.


......................


__ADS_2