Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 59


__ADS_3

Hanif yang sejak tadi menundukkan kepalanya ia pun menoleh ke arah Syifa yang kini berada di sampingnya ia begitu terpesona karena kecantikan Syifa. Hanif pun tersenyum simpul ke arah calon istrinya itu.


Hanif sendiri tidak menyangka jika ia akan menikah malam ini tentunya ia merasa sangat bahagia. Ia berharap jika Syifa bersedia menerima dirinya yang kini akan benar-benar masuk dalam kehidupannya.


para tamu undangan yang sudah hadir sejak tadi karena memang hanya keluarga inti saja, mereka turut bahagia karena pernikahan Syifa yang akan segera di langsungkan.


terlihat nenek dan juga tante Syifa yang tersenyum ke arah sepasang pengantin yang tengah duduk bersebelahan yang terlihat sangat serasi.


''Syifa apa kabar sayang, semoga kalian menjadi pasangan yang saling melengkapi dan semoga kalian bahagia.'' Ucap tante Rosa dan memeluk Syifa.


''Alhamdulillah tante.'' Ucap Syifa yang memeluk tubuh tantenya itu.


mereka sangat antusias menanti acara yang sebentar lagi akan di mulai.


semuanya telah siap bahkan seluruh anggota sudah berkumpul. acara akad pun akan segera di laksanakan.


seorang pemuka agama yang akan menjadi penghulu dan Aris sendiri yang akan menikahkan putri semata wayangnya itu dengan pria yang baru saja hari ini ia temui.


Sungguh Tuhan pembuat segala kemungkinan tidak ada yang tidak mungkin jika Ia telah berkehendak.


Hanif berulang kali menarik napasnya panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. Hanya dengan ucapan akad yang akan ia ucapkan di depan ayah Syifa. Ia akan menghilangkan pembatas antara dirinya dengan Syifa.


Hanif merasa seperti mimpi berulang kali ia mengucap syukur kepada sang Khalik kerena Kuasanya. ia hanya berharap agar ia mempu menjadi imam yang baik dan bertanggung jawab kepada keluarganya nanti.


''Tenang han, berdoalah agar semuanya lancar.'' Tutur ummi mengusap punggung Hanif ia berusaha menenangkan putranya yang terlihat sedikit gelisah.


Hanif hanya tersenyum kepada ummi nya dan terus berdoa dalam hatinya.


''baiklah sepertinya kita mulai saja acaranya.'' tutur seorang pembuka acara.


acara pun di mulai dengan beristigfar bersama.


terlihat Hanif yang begitu tegang. Meski ummi kulsum yang tengah berada di samping nya.


Aris pun menjabat tangan Hanif untuk segera melaksanakan akad.


''Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Muhammad Hanif alhisyam. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Syifa Nadira binti Aris prasetyo. Dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai.''


''Saya Terima nikah dan kawinnya Syifa Nadira Binti Aris prasetyo dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai.''


''Bagaimana saksi? sah?''


''Sah.''

__ADS_1


''Alhamdulillah. Barakallahu laka wa barakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Aamiin.''


Mereka pun mengucap syukur dan turut bahagia atas pernikahan Syifa dan Hanif. Bahkan tidak sedikit dari mereka mengabadikan momen kebahagiaan yang kini mereka rasakan.


Pemuka agama pun menyuruh Syifa untuk menyalami Hanif yang kini telah sah secara agama menjadi suaminya.


Syifa pun menatap Hanif ia benar-benar malu untuk menjabat tangan Hanif yang telah sah menjadi suaminya.


''Ayo nak,'' Ucap Aris yang terlihat begitu bahagia atas pernikahan putrinya itu.


Syifa pun meraih tangan Hanif dan menciumnya dengan lembut.


Hanif pun membalas nya dengan mencium kening Syifa.


acara demi acara telah selesai semua keluarga ikut bahagia mereka pun memakan makanan yang telah di sediakan.


karena memang tidak terlalu banyak tamu undangan Syifa juga tidak menginginkan pesta yang meriah ia hanya ingin pernikahan yang sederhana.


pernikahan yang tak pernah ia bayangkan ini cukup membuatnya bahagia.


malam telah berlalu semua tamu undangan telah pulang kembali ke kediaman mereka Masing-masing.


Syifa pun segera pergi ke kamarnya ia merasa sedikit lelah.


Perlahan ia duduk di kasurnya dan mengambil setangkai bunga mawar putih kesukaannya.


''Sangat indah.'' tutur Syifa pelan ia hendak membuka kerudung yang penuh dengan hiasan di kepalanya.


Hanif yang juga merasa lelah ia sangat tidak yakin untuk masuk ke kamar yang kini ia akan tempati.


Ada keraguan dalam dirinya untuk masuk ke dalam ruangan di hadapannya itu.


Dengan perlahan Hanif mendorong pintu kamar itu yang terlihat dekorasi kamar pengantin membuat jantungnya kembali berdetak sangat kencang.


ia pun melangkahkan kakinya kedalam dan melihat Syifa yang kini menatapnya.


''Ustadz kenapa masuk gak ketuk pintu dulu.'' Tutur Syifa yang kaget. ia pun segera memasangkan kembali kerudung yang hampir memperlihatkan rambutnya.


''Oh maaf,'' tutur Hanif ia merasa sangat bingung.


Hanif pun melangkahkan kakinya perlahan ke sofa yang berada di kamar Syifa ia pun mendudukkan dirinya di sana.


tak ada obrolan yang keluar dari mulut kedua pengantin baru itu mereka sama-sama merasa canggung dengan keadaan yang mempertemukan mereka kembali bahkan mengikat hubungan yang kini telah sah di mata agama.

__ADS_1


Syifa menarik napasnya ia sadar apa yang ia katakan adalah salah bagaimana pun Hanif kini adalah suaminya dan ia akan berbagi kamar dengannya.


Syifa pun menghampiri lemari untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan dan bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu.


Syifa kembali menatap dirinya yang berada di pantulan cermin ia kembali menatap wajahnya yang kini tubuhnya masih berbalut pakaian pengantin.


Syifa yang telah selesai berganti pakaian ia kembali teringat akan kewajibannya sebagai istri ia menarik napasnya perlahan ia sangat berharap jika Hanif tidak akan meminta hak nya saat ini juga.


Perlahan Syifa membuka pintu kamar mandi ia melihat Hanif yang baru saja masuk kembali ke dalam kamarnya dan membawa pakaian yang akan ia ganti.


Syifa pun berlalu ke kasurnya ia memperhatikan Hanif yang kini ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Hingga selesai mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hanif hendak berjalan ke sofa kembali ia berniat untuk tidur di sana ia tidak berani untuk tidur bersama Syifa.


''Ustadz mau tidur di sana?'' tanya Syifa pelan dengan debaran jantung yang terus tak bisa ia kendalikan.


Hanif pun tersenyum karena Syifa ternyata belum tidur ia pun menghampiri Syifa yang terlihat sedikit ketakutan dan membuatnya semakin gemas memandang Syifa.


''Tentu tidak, aku sudah menjadi suamimu.'' Hanif tersenyum lebar ia sangat bahagia mengatakan hal itu apalagi melihat wajah Syifa yang terlihat ketakutan.


Perlahan Hanif pun duduk di kasur Syifa dengan debaran jantung yang sama ia rasakan. Ia memberanikan diri untuk duduk bersama istrinya.


Hanif meraih tangan Syifa yang terasa begitu dingin ia tahu jika Syifa gugup. Hanif pun mencium mesra tangan mungil istrinya itu tanpa sedikit pun Syifa menolaknya membuat Hanif bahagia.


''Terima kasih Syifa, kamu bersedia menjadi istriku.'' Hanif pun kembali mencium tangan Syifa yang kini masih ia genggam.


''Iya Ustadz'' Cicit Syifa pelan sungguh ia takut jika Hanif akan meminta haknya.


''Aku ingin kamu tidak memanggilku dengan kata Ustadz karena aku adalah suamimu.'' Ucap Hanif dengan senyumnya yang membuat Syifa tidak bisa mengalihkan pandangannya seakan dirinya terasa di paksa untuk terus menatap sang pemiliknya.


''Lalu aku harus panggil apa? '' tanya Syifa dengan polosnya yang membuat Hanif terkekeh pelan.


''Apapun yang kamu mau, aku akan senang,'' Ucap Hanif yang kini melepas tangan Syifa membuat Syifa bernapas lega.


''Apa kamu sudah shalat isya?'' tanya Hanif yang menatap lembut istrinya.


Syifa menggeleng dan tersenyum karena ingin beristirahat dulu.


Hanif pun menarik hidung mancung Syifa ia merasa gemas karena apa yang Syifa lakukan.


''Baiklah kalau begitu kita shalat berjamaah dulu baru kita istirahat.'' Tutur Hanif yang bangun dari duduknya dan segera mengambil wudhu.


......................

__ADS_1


......................


__ADS_2