Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 143


__ADS_3

''Sini bu biar Hanif gendong.'' Pinta Hanif pada ibu mertuanya.


Hanif segera menerima Raffa sari tangan ibu mertuanya. Ia terlihat sangat menggemaskan apalagi badan yang gembul membuatnya terlihat sangat lucu.


''Lucu nya adik kakak.'' Syifa terus saja mengajak Rania bermain membuat Mira sangat senang.


Beberapa jam telah berlalu kedua adik Syifa sudah kembali tidur karena memang di saat usia nya seperti sekarang mereka akan lebih mudah tertidur saat sedikit lelah.


Syifa sedang memasak makanan dengan Mira sedangkan Hanif ia sedang istirahat dulu karena mereka tidak akan menginap dan akan segera pulang kembali.


''Sayang maaf ya karena ibu gak bisa mengunjungi kamu saat di pondok bahkan ibu sama ayah gak datang saat kamu akan pulang.'' Tutur Mira merasa tidak enak hati lagian Mira memang sedikit kerepotan karena adik Syifa masih kecil jika ia bawa bepergian jauh kasihan juga.


''Gak apa-apa ko mah. Lagian mamah juga sekarang memang sedikit susah karena adik-adik aku.'' Syifa tersenyum ke arah Mira ia sangat tahu betul perasaan seorang ibu.


Syifa tidak bisa egois karena sekarang dia bukan anak satu-satu nya lagi. Apalagi sekarang Syifa sudah mempunyai sosok suami ia bahkan tidak merasa sedih karena tidak adanya orang tua Syifa karena memang menjadi seorang orang tua dengan dua bayi sekaligus bukan hal yang mudah.


''Fa, Kamu tidak menunda kehamilan mu kan?'' tanya Mira dengan menatap Syifa.


Syifa mendongak ia sedikit terkejut dengan pertanyaan yang ibu nya lontarkan pada dirinya sendiri.


Syifa hanya menggelengkan kepala dan tersenyum menanggapi pertanyaan dari sang ibu.


''Ibu harap kamu segera hamil sayang. Kasihan Hanif sepertinya ia sudah sangat menginginkan kehadiran seorang anak.'' Mira mengusap kepala Syifa.


Syifa menatap lembut kepada sang ibu kali ini ada perasaan berbeda yang ia dapat rasakan. ''InsyaAllah bu semoga aku segera di berikan kepercayaan aku harap aku segera bisa hamil seperti yang ibu harap kan.'' Syifa mengulas senyum nya dan kembali melanjutkan aktivitas nya.


''Ya sudah kamu istirahat sana. Temani suami mu kasihan, Biar ini semua bibi sama ibu saja yang masak.'' Mira segera mengambil alih sodet di tangan Syifa agar putrinya itu dapat istirahat. Apalagi Syifa akan melanjutkan lagi perjalanan nya sebentar lagi.


...


Waktu telah berlalu kini mereka sedang menyantap hidangan yang sudah tersedia rapih di sana dengan Aris juga karena belum lama ia pulang.


Saat mendengar kabar dari Mira, Aris segera pulang untuk bisa berkumpul dengan anak dan menantunya itu.

__ADS_1


Banyak obrolan dan canda tawa saat mereka berkumpul Aris sendiri ia merasa sangat senang ada hal yang membuatnya merasa lega melihat Syifa dan juga Hanif yang terlihat saling mencintai membuat dirinya merasa sangat tenang. Aris sangat bersyukur karena kini putri nya sudah dapat kembali bersama dengan Hanif setelah sekian lama mereka berpisah.


Hingga kini sudah menjelang magrib Syifa shalat di kamar nya sedangkan Hanif ia shalat dengan ayah nya ke masjid yang terdekat dari rumah nya.


Syifa menatap seisi kamar nya dulu yang tidak pernah berubah. bahkan seolah kamar ini terlihat sangat rapih dari sebelum nya buku-buku nya yang masih tersusun rapih dengan berbagai macam boneka koleksi milik nya Syifa mengulas senyum ia merindukan sosok nenek yang sudah sangat lama tak pernah ia kunjungi sejak kepulangan nya waktu itu dan saat itulah ia terakhir menemui nenek nya.


Jemarinya lentiknya kini mulai meraih satu boneka yang pernah menjadi sebuah kado istimewa nya dari sang nenek. Boneka beruang kecil yang sangat menggemaskan adalah boneka yang paling ia sukai.


Syifa memeluk boneka itu seolah ia sangat merindukan sosok wanita kedua yang paling ia sayangi setelah ibu nya. Bahkan tak terasa air matanya jatuh karena rasa rindu pada nenek nya.


Diam-diam aktifitas Syifa terlihat oleh sepasang mata Hanif. Hanif yang sudah kembali dari masjid ia melihat Syifa sedang memeluk boneka kesayangan nya.


Hanif berjalan perlahan masuk ke dalam kamar namun karena Syifa masih saja menikmati pelukan pada boneka itu membuat kehadiran Hanif tak ia sadari.


''Kenapa sayang?'' Hanif mengusap punggung Syifa yang terlihat bergetar karena tangis nya.


''Mas. Mas sejak kapan ada di sini?'' Syifa sedikit terkejut bahkan ia segera menghapus air matanya yang masih bercucuran di pipi nya.


''Kamu kenapa menangis?'' tanya Hanif sambil memeluk Syifa. Ia memang tidak tahu kenapa Syifa menangis.


''Aku rindu nenek mas.'' Ucap Syifa jujur.


Hanif menarik napasnya panjang ia sangat tahu rasa rindu yang kini Syifa rasakan. Beberapa menit telah berlalu Syifa sudah bisa lebih tenang ia tersenyum ke arah Hanif dan memeluk Hanif lebih erat membuat Hanif kembali tersenyum.


''Ya sudah apa kamu masih mau tinggal disini? mas izinin kamu ko jika kamu masih mau tinggal. Kamu bisa bertemu dengan nenek mu. Tapi mas gak bisa menemani kamu. Ada hal yang sedang menunggu mas di sana.'' Jujur Hanif karena sudah tiga hati lamanya ia meninggalkan abi dan ummi nya ia sendiri merasa tidak enak hati karena harus membuat abi nya turun tangan kembali ke pondok.


Syifa sendiri tahu jika ada amanah besar yang kini menunggu suaminya ia merasa tidak tega jika ia harus berpisah kembali dengan suaminya. Meski di dalam hatinya ia sendiri ingin sekali tinggal disini. Apalagi setelah beberapa jam lamanya ia tinggal disini membuat Syifa merasa nyaman.


''Enggak ko mas gak apa-apa kita pulang aja. Nanti kapan-kapan kita bisa kembali lagi ko.'' Tutur Syifa pada Hanif membuat Hanif tersenyum kembali.


''Kamu yakin?'' Hanif kembali menatap Syifa.


Syifa hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


''Ya sudah kalau begitu kita bereskan barang-barang bawaan mu kita akan berangkat sekarang.'' Hanif mengusap punggung Syifa seolah ia memberikan ketenangan.


Syifa hanya mengangguk ia kembali memasukan pakaian milik nya karena ia rasa akan lebih banyak membutuhkan pakaian di sana. Syifa memasukan beberapa pakaian saja karena ia berpikir akan memudahkan dirinya saat nanti berkunjung ke rumah ibu nya ia tidak perlu membawa banyak baju ganti.


Syifa dan Hanif sudah siap ia menuruni tangga bersama mereka melihat ibu dan ayah nya sudah menunggu mereka.


''Ibu Syifa pulang ya. Oh ya Syifa tidak sempat bertemu dengan nenek. Syifa titip salam ya buat nenek.'' Pinta Syifa pada Mira membuat Mira tersenyum.


''Iya sayang gak apa-apa. Minggu depan nenek mu akan pindah ke rumah ini karena ibu juga merasa khawatir di usianya nenek mu sendiri di rumah.'' Tutur Mira menjelaskan.


Syifa begitu senang mendengar nya ia merasa sangat senang karena kalau begitu ia dapat bertemu lagi dengan nenek nya tanpa harus ke sana kemari saat ia mengunjungi ibunya kembali.


''Ya sudah kalian hati-hati di jalan.'' Mira mengusap Syifa dan memeluk Syifa sebelum putri nya kembali pulang mengikuti Hanif suaminya.


Syifa saling melepas rindu ia memeluk Mira dan Aris bergantian dan menciumi kedua adik nya yang kini di gendong ayah dan ibunya.


''Kakak pulang dulu ya. Baik-baik disini ya kalian jaga ayah dan ibu ya.'' Syifa tertawa kecil sambil menciumi Rania dan Raffa.


Syifa segera masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan nya sebelum mobil yang ia tumpangi kembali ke jalanan.


...


Beberapa menit telah berlalu Syifa dan Hanif sudah kembali ke jalan kota Jakarta hanya dua jam lamanya mereka akan sampai ke kediaman Hanif dimana Syifa akan tinggal kembali bersama ummi dan juga abi.


''Kamu tidur saja sayang jika ngantuk.'' Hanif menoleh sesaat karena sejak tadi mereka di jalan Syifa menjadi pendiam mungkin ia masih merasa rindu pada keluarganya.


Syifa menatap Hanif ia tersenyum tipis menanggapi perkataan Hanif karena ia sendiri tidak merasakan kantuk bahkan ia merasa masih perih di matanya karena harus kembali berpisah dengan kedua orang tuanya. ''Enggak ko mas aku gak ngantuk, biar aku temani mas saja.''


Hanif mengangguk mereka saling terdiam Hanif hanya fokus ke jalanan ia memberikan waktu untuk Syifa berdiam mungkin istrinya memerlukan waktu untuk merenung.


Hingga hampir satu jam lamanya mereka terdiam. Hanif menoleh ke arah Syifa ia melihat kini istrinya sudah tertidur karena lelah.


......................

__ADS_1


__ADS_2