
Syifa yang sudah merasa suntuk karena sejak ashar ia hanya diam di kamarnya, membuatnya sedikit bosan, ia pun berjalan ke luar untuk menghirup udara malam sebelum para santriwati keluar dari masjid.
Suasana yang sangat menenangkan baginya, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan ia merasakan udara yang begitu dingin memasuki rongga pernafasannya, hembusan angin yang begitu dingin terasa begitu menusuk sampai ke tulang.
Syifa menengadahkan pandangannya ke langit yang sudah sangat terlihat gelap dengan bertaburan bintang di atas sana, sesekali ia memejamkan matanya dan tersenyum merasakan keheningan malam yang membuatnya sangat menyukai suasana malam di pesantren.
Tak lama kemudian terdengar suara riuh dari arah masjid, karena para santri maupun santriwati yang akan kembali ke kamar mereka.
Syifa hanya diam di depan kamarnya berniat untuk menanti ke tiga sahabatnya.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, Syifa pun membalikan tubuhnya ke arah suara. Ternyata benar ke tiga sahabat nya lah yang baru pulang dari masjid.
''Kamu masih bangun syifa, aku kira kamu sudah tidur.'' Sahut Desi yang berjalan dengan langkah yang terlihat tidak bersemangat.
''Aku kesepian gak ada kalian,'' tutur Syifa yang mengikuti langkah kaki Desi yang masuk ke kamarnya.
Arin dan Arumi terlihat menyimpan mukena mereka,sementara Desi ia terlihat sangat mengantuk dan benar saja ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur.
''Kalian mau langsung tidur?'' tanya Syifa memandangi Arin dan Arumi
Sementara Arin ia sibuk dengan buku-buku yang berada di lemarinya.
Arumi yang terlihat lemas, ''memang kamu belum mengantuk Syifa?'' tanya Arumi yang menatap sahabat baiknya.
''Enggak, kenapa malah mau tidur si?'' Syifa pun cemberut karena ke dua temannya sepertinya memang benar-benar mengantuk.
''Iya kalian malah tidur saja, padahal banyak cerita yang mau aku ceritakan'' sahut Arin yang terlihat sedikit kesal.
__ADS_1
''Kita keluar yu fa.'' Ajak Arin yang lebih dulu berjalan keluar.
Sementara Syifa membuntuti Arin yang berjalan lebih dulu darinya.
Syifa mengedarkan pandangannya ke depan taman yang cukup luas, ia menarik nafas menghirup udara yang semakin hari semakin ia sukai, suasana yang selalu ia rindukan ketika malam menyapa.
Ia melihat ada sosok seseorang yang hendak akan melewatinya, karena memang pencahayaan yang tidak terlalu terang membuatnya berhenti sesaat untuk menunggu sampai orang dihadapannya melewatinya.
Semakin dekat langkah kaki itu, semakin ia merasakan debaran jantung yang membuat dirinya sedikit gugup, ya Ustadz Yusuf lah yang berjalan di taman itu karena memang satu-satunya jalur untuk nya pulang ke rumah harus melewati taman itu.
Syifa merasa seluruh tubuhnya kaku, ia tidak bisa melangkahkan kakinya sesaat Yusuf menatapnya dan kembali berjalan melewatinya begitu saja.
Syifa merasakan sesuatu yang berbeda pada Ustadz Yusuf, ia bahkan tidak menampilkan senyumnya seperti yang selalu ia lakukan ketika berpapasan dengannya, hatinya sedikit ngilu ketika ia menerima perlakukan Yusuf yang terasa sangat dingin baginya.
Namun, Syifa sadar jika memang dirinya sendiri yang telah menciptakan pembatas untuknya dan Ustadz Yusuf, ia tahu keputusan yang telah ia ambil dengan memilih Ustadz Hanif membuatnya tak akan bisa memilih kembali, hatinya harus benar-benar ia tata untuk mencintai yang akan menjadi pendampingnya nanti, meski ia juga belum tahu siapa yang akan menjadi pendampingnya kelak, setidaknya ia tidak mempermainkan perasaan orang lain, terlebih Ustadz Yusuf adalah gurunya sendiri di pondok ini.
Arin yang merasa jika Syifa tidak berada di belakangnya, ia kembali mencari Syifa.
''Maaf, lagian kamu jalannya cepat banget, kalau gitu bukannya kita menikmati udara malam, tapi kayak di kejar-kejar setan tahu.'' Syifa memajukan bibirnya, sebenarnya ia tak sungguh- sungguh berkata demikian namun, ia tidak mau jika Arin mengetahui apa yang sedang ia pikirkan.
Arin menarik lengan Syifa dengan sedikit kencang dan menyeretnya ke kursi yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
''Fa kamu tahu, kamu sangat beruntung banget.'' Ucap Arin yang yang memandangi langit malam.
''Beruntung apa Arin? Kamu gak jelas,'' tutur Syifa yang memandangi sahabatnya itu.
''Iya, kamu beruntung mempunyai ayah dan ibu yang sangat menyayangi kamu, di tambah ada Ustadz lagi yang mencintai kamu, kamu sempurna fa, aku iri.''
__ADS_1
''Sssttt jangan bilang kayak gitu rin, kata siapa kamu gak beruntung? kamu juga beruntung, kamu mempunyai kecerdasan di atas aku, kamu selalu menjuarai pelajaran di kelas kita.'' Syifa merasa tak enak hati dengan perkataan Arin.
''Kamu tahu, ibuku sudah meninggal fa sejak aku duduk di bangku SD dan ayahku, ia selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan juga ibu tiri ku yang tidak pernah memberikan kasih sayangnya, aku selalu berharap jika ibu tiri ku akan menyayangiku seperti ia menyayangiku adik-adikku.'' Arin tak mengalihkan pandangannya dari langit, ia terus menatapnya dengan tatapan sendu, Syifa dapat merasakan apa yang Arin rasakan, karena ia pun mengalami rindunya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Syifa mengusap punggung Arin perlahan dan memeluknya ia berharap Arin dapat sedikit tenang.
''Syifa makasih iya, kamu selalu ada buat aku.'' Ucap Arin dengan mata yang sudah memerah. Arin berusaha menahan genangan air mata yang hendak keluar dari matanya, namun Arin tidak sekuat itu, tetap saja air matanya tumpah ia merasakan sesak di dadanya. Hanya air mata yang keluar yang mewakili perasaannya sekarang.
Syifa yang berusaha menenangkan Arin, ia pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis, tapi melihat sahabatnya yang menangis tersedu sedu membuat hatinya sakit.
Mereka pun saling berpelukan menumpahkan rasa yang selama ini mereka rasakan.
Arin yang sudah cukup tenang ia melepas pelukannya, dan menghapus jejak air mata di pipinya.
''Ko kamu nangis sih? kan aku yang sedih.'' Arin terkekeh seraya menangis.
Syifa hanya tersenyum dan mengerucutkan bibirnya karena perkataan Arin.
''Aku juga sedih ra,'' jawab Syifa dengan nada khas yang habis menangis.
Mereka pun menghabiskan beberapa menit di luar sana untuk menenangkan pikiran dan perasaan mereka.
.
Yusuf yang sudah sampai di rumah nya, ia pun mengucapkan salam dan menutup pintunya kembali, namun tidak ada jawaban dari dalam, mungkin abah dan ummi nya sedang di kamar pikir Yusuf yang beralih menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
Yusuf merebahkan badannya di kasur ia mengingat kembali wajah polos Syifa saat berpapasan dengannya sebelum ia pulang. Hatinya memang menolak untuk bersikap dingin padanya, namun pikirannya tidak. Ia harus benar-benar bisa melupakan Syifa, karena tujuannya sekarang hanya menjalan amanah dari abah nya, selebihnya ia akan serahkan kembali pada Allah.
__ADS_1
Yusuf pun bangun dari tidurnya Pikirannya yang mulai mengingat sosok wanita yang memang sampai saat ini memiliki hatinya ia tak ingin jika usahanya akan sia-sia ia pun berjalan mendekati meja di kamarnya dan membuka laptopnya, ia menerima email dari Adi yang kembali melaporkan data-data pengiriman.
''Astagfirullah..''