Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 72


__ADS_3

''Mas kita mau kemana?'' tanya Syifa pada Hanif yang kini mengajaknya ke sebuah lapangan luas.


''Aku mau menunjukan tempat ini. Aku ingin kita bersama hidup di sini fa, kita akan bangun rumah di sini jika kamu mau.'' Tutur Hanif yang kemudian mendudukkan Syifa di sebuah taman yang terhampar luas.


''Sayang sekali mas.'' Ucap Syifa yang menatap taman yang terlihat sedikit terawat itu.


''Kenapa? apa kamu tidak menyukainya?'' Hanif menatap wajah istrinya. Hanif kira jika Syifa akan bahagia jika ia akan membuatkannya sebuah rumah yang besar dan juga taman yang akan membuatnya merasa nyaman.


''Aku senang jika mas buatkan aku rumah, aku juga sangat berterima kasih. tapi, aku rasa kita akan kesepian jika hanya berdua.'' Ucap Syifa yang tak mengalihkan pandangannya ke arah taman yang penuh bunga.


''Kita akan mempunyai seorang anak, ya mungkin bukan sekarang karena kita juga akan membangun rumahnya dulu dan kamu juga masih harus menyelesaikan sekolah dulu.''


Syifa pun tersenyum mendengar apa yang Hanif katakan ia pun memeluk erat suaminya itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


''Terima kasih mas, karena mas mencintai aku.'' Ucap Syifa yang kemudian mencium pipi sang suami.


Hanif pun membalas senyum yang Syifa berikan untuknya dan mengusap puncak kepala nya lalu menciumi puncak kepala istrinya.


Tak ada kebahagian yang paling sempurna ketika ia merasa saling mencintai ia sangat bersyukur karena telah di pertemukan dengan Syifa.


.


.


Lita masih saja menangis dalam ruangannya entah berapa lama ia mengunci pintu ruangan itu dan meminta dokter lain untuk mengambil alih pekerjaan nya.


Kali ini ia sangat kecewa karena Hanif yang kini sudah menikah.


Cinta yang sejak dulu masih tersimpan dengan rapih di dalam hatinya kini ia harus membuang jauh semua perasaan yang ada.


''Kamu jahat han, kamu gak kasih aku kesempatan.'' Lirih Lita yang masih tersedu-sedu di dalam ruangannya.


Rian yang sejak tadi berdiri di luar pintu ruangan Lita ia harus kembali merasakan sesak yang entah berapa kali ia rasakan. Ia merasa jika Lita memang tak pernah mencintainya.


Rian sangat mencintai Lita meski ia tahu jika Lita masih mencintai mantan kekasihnya itu ia setia menanti hatinya untuk dirinya.

__ADS_1


Rian pun kembali menjauh dari ruangan wanita yang selalu mengusik hatinya.


''Andai kamu mencintai aku ta, aku tak akan membuat kamu menangis.'' Rian menghembuskan napasnya terasa sangat sedih sekali bukan karena perasaan yang bertepuk sebelah tangan namun karena ia melihat seseorang yang sangat ia cintai menangis karena orang lain.


Waktu telah berlalu wanita yang sejak tadi menangis ia pun mulai sedikit tenang ia tahu jika kesempatan nya untuk mendapatkan Hanif sudah tak akan bisa ia gapai lagi perlahan ia membuka pintu ruangan itu dan berjalan untuk segera pulang.


''Lita?'' Rian memanggil Lita yang hendak keluar.


Lita pun menoleh ke arah suara yang baru saja memanggilnya. Ia tahu jika Rian lah yang memanggilnya.


''Ya?'' tanya Lita dengan senyum yang sejak tadi ia paksakan. Mata yang terlihat begitu sembab membuat hati Rian terasa sangat perih.


Rian pun menghampiri Lita yang sejak tadi menunggu jawaban darinya.


''Bisa kita pergi sebentar?'' tanya Rian menunggu jawaban dari wanita yang kini sedang patah hati itu.


''Sepertinya aku tidak bisa ian, aku ada sesuatu yang menunggu.'' Lita beralasan ia tidak ingin pergi dengan kondisi dirinya seperti ini.


''Ayolah hanya sebentar saja, nanti aku akan mengantarmu pulang.''


Rian pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan nya dengan perlahan. Ia sangat bersyukur karena Lita menerima ajakannya ia sangat bahagia karena hal itu.


''Mungkin aku tidak bisa membuat kamu jatuh cinta sama aku ta, tapi aku janji aku akan menghapus segala luka mu agar kamu bahagia ketika bersama aku.'' Lirih Rian dalam hatinya.


Rian yang sejak tadi menatap Lita ia pun beralih ke jalanan membiarkan Lita melepaskan penat yang sejak tadi ia rasakan.


.


Tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka sampai tujuan. Rian memarkirkan mobilnya di depan restoran yang selalu ia kunjungi bersama Lita saat mereka masih pacaran.


Rian pun turun dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil di sampingnya membiarkan Lita turun.


''Terima kasih ian.'' Ucap Lita yang kemudian turun dari dalam mobilnya. Terlihat Lita yang sudah tidak terlalu murung seperti tadi bahkan ia terlihat sedikit tenang.


Mereka pun melangkahkan kakinya ke dalam restoran Sunda kesukaan Rian. Ia pun memanggil seorang pelayanan dan memesan makanan yang Lita sukai. Rian sengaja memesan makanan kesukaan Lita berharap Lita dapat melupakan luka yang sejak tadi membuatnya bersedih.

__ADS_1


''Ta, kamu bisa cerita sama aku jika kamu sedang dalam masalah, aku akan dengerin semuanya.'' Ucap Rian yang setia menanti.


Lita menarik napasnya panjang ia tahu jika Rian memang selalu peduli padanya tapi ia rasa tak seharusnya ia memperlakukan Rian sebagai penyembuh lukanya. Ia berhak mendapatkan kebahagian yang seharusnya ia dapatkan.


Lita pun menggeleng ia tidak ingin bercerita apapun padanya.


Rian hanya menarik napas berat ia sangat tidak ingin melihat Lita bersedih.


''Ta, aku akan selalu ada buat kamu kapan pun meski aku tahu kamu tidak pernah mencintai aku.'' Tutur Rian lirih ia memang mencintai Lita tapi tidak dengan memaksakan cinta Lita untuknya berteman baik saja ia sangat bahagia asal Lita dapat bahagia.


.


.


Hanif dan Syifa yang sudah lama menghabiskan waktu di taman mereka pun akan kembali ke rumah karena cuaca sudah sangat terik.


''Kita makan dulu ya, baru setelah itu kita pulang.'' Ucap Hanif yang kemudian menjalankan mobilnya.


Syifa hanya tersenyum menanggapi permintaan Hanif karena ia sendiri memang sudah sangat lapar.


''Kamu mau makan apa yang?'' tanya Hanif menoleh ke arah istrinya.


''Apa aja mas,'' tutur Syifa yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan kembali melihat hasil foto yang tadi ia ambil bersama Hanif.


Ia sangat bahagia ternyata Hanif memang sosok suami yang baik.


''Kenapa apa ada yang lucu?'' tanya Hanif karena sejak tadi Syifa senyum-senyum melihat ponselnya.


''Mas, lihat deh ternyata aku terlihat jauh lebih muda yah jangan-jangan orang kira kita bukan suami istri tapi kakak adik.'' Ucap Syifa yang kemudian tertawa apalagi melihat hasil foto mereka karena Hanif yang terlihat sangat kaku saat di foto.


Hanif pun tertawa menanggapi perkataan istrinya karena memang seperti itu adanya.


Memang cinta tidak bisa kita pilih kepada siapa kita akan jatuh cinta.


......................

__ADS_1


__ADS_2