Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 48


__ADS_3

Syifa dan ke tiga sahabatnya sedang asyik mengobrol mereka banyak membicarakan berbagai hal.


''Rin jika kita sudah lulus dari sini, kamu melanjutkan pendidikan kemana?'' tanya Desi memandangi Arin yang sedang duduk bersama.


Syifa dan Arumi pun menoleh kepada Arin, karena Arin memang santriwati yang paling banyak di kagumi, prestasi yang ia dapat sangat membanggakan membuat mereka berpikir jika Arin pantas melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.


Arin terlihat sedikit berpikir, ia sebenarnya tidak tahu apa ia akan meneruskan pendidikannya atau tidak, ia ingin sekali dapat bersama kedua orang tuanya, ia berharap jika ia bersama kedua orang tuanya ia akan mendapat kasih sayang yang selama ini ia harapkan.


''Rin kok gak jawab?'' tanya Syifa sedikit penasaran karena Arin malah terlihat sedikit melamun.


Arin pun tersentak kaget ia pun mencari jawaban yang tepat agar ketiga sahabatnya tidak menanyai apa yang ia pikirkan.


''Aku belum memikirkannya, aku sendiri bingung, kalau kalian?'' tanya Arin cengengesan.


Sementara ke tiga sahabatnya dibuat kesal, karena mereka kira jika Arin akan memberinya jawaban yang mungkin membuat mereka berkeinginan sama.


''Kalau aku sih sepertinya mau lanjut disini saja, mungkin sambil aku berkuliah di universitas dekat sini saja.'' Tutur Arumi yang memandangi ke tiga sahabatnya.


''Itu ide bagus, aku juga bakal ikut ide kamu.'' tutur Desi yang malah ikut-ikutan.


Sementara Syifa ia terlihat sedikit memikirkan sesuatu, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan namun ia berharap jika ia tidak berjauhan dengan kedua orang tuanya.


''Kalau kamu Syifa?'' tanya Arin dan ke dua sahabatnya yang menatap penasaran dengan jawaban Syifa.


''Sepertinya aku akan lanjut kuliah, aku ingin sekali melanjutkan pendidikan tapi mungkin aku tidak akan mondok lagi.'' Tutur Syifa tertunduk lesu, ia merasa sedih ketika mengingat ia akan berpisah dengan ketiga sahabatnya.


''Kenapa?'' tanya Arumi yang merasa tidak setuju dengan keinginan Syifa.

__ADS_1


''Aku tidak ingin berjauhan lagi dengan ibu dan juga ayahku, Arumi.'' Tutur Syifa tertunduk.


Syifa tahu jika keputusan yang akan ia ambil akan membuatnya merasa sedih karena ia akan berpisah dengan ketiga sahabatnya, namun ia tidak memiliki pilihan lain, ia sendiri sangat merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya, meski tidak dapat di pungkiri Syifa nyaman mondok di pesantren Nurul Huda ini.


Mereka bertiga pun berpelukan, mereka merasakan apa yang Syifa rasakan meski mereka yakin suatu saat mereka akan berpisah karena keadaan, namun mereka berharap jika persahabatan mereka tidak akan pernah berpisah.


''Ko aku jadi sedih sih.'' Tutur Syifa yang mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


''Iya aku juga sama.'' Tutur Arin yang merasakan sedih karena mengingat mereka akan berpisah suatu saat nanti.


Mereka pun tertawa bersama mengingat hal yang akan membuat mereka berpisah, mereka memang saling menyayangi, selalu ada antara satu sama lain. Dalam suka dan duka mereka seperti tubuh yang saling membutuhkan.


''Semoga persahabatan kita sampai nanti, sampai ke surga, kalian sahabat baik aku, kalian akan banyak mengajariku tentang hal agama.'' Tutur Syifa yang menahan tangisnya.


''Iya sama kalian juga, udah dong jangan bikin bawang lagi, aku jadi sedih.'' Tutur Arin yang kemudian saling memeluk satu sama lain.


''Apa dengan cara aku membuka hati kepada Nadia, aku dapat menebus kesalahan yang telah aku perbuat,'' Yusuf merasa jika karena dirinya Nadia mengalami guncangan jiwa, meski tidak sepenuhnya tapi ia merasa jika karena Yusuf lah Nadia seperti itu sekarang.


Ia merasakan hatinya sedikit sakit mengingat ia tidak bisa mendapatkan cinta yang sudah ada sejak Syifa berada di pondoknya tapi ia mengingat apa yang abah nya katakan, jika Allah sudah memberikannya petunjuk dengan cara Syifa menerima lamaran Hanif.


Yusuf menarik nafasnya panjang, Ia pun segera mengambil wudhu ia ingin menenangkan pikirannya.


Yusuf membasahi wajahnya dengan air wudhu hingga selesai. Ia pun berjalan ke arah lemari yang terlihat susunan alat shalatnya. Yusuf pun menggelar sajadah dan segera melaksanakan shalat sunnah yang selalu ia lakukan sebelum tidur.


Yusuf yang telah selesai dengan shalatnya ia pun tidak lupa berzikir dan membaca ayat suci Al-qur'an ia pun mengakhiri dengan doa.


Yusuf menengadahkan tangannya memohon petunjuk dari sang pemiliknya, ia merasa jika apa yang akan ia ambil adalah sebuah hal yang berat karena akan merubah hidupnya. Ia pun memohon ampun atas apa yang telah ia lakukan.

__ADS_1


''Ummi?'' abah memanggil ummi yang sedang berada di kamarnya.


''Iya bah?'' Jawab ummi yang berjalan mendekati suaminya.


''Abah hanya sedikit kepikiran, apa salah abah yang mengeluarkan Nadia, sehingga kini Nadia mengalami guncangan jiwa?'' abah bertanya kepada ummi karena apapun pendapat ummi abah selalu merasa tenang dengan berbagi dengannya.


''Tentu tidak, mungkin karena Nadia saja yang terlalu berlebihan dengan apa yang ia inginkan, kita sebagai mahluk hanya dapat berdoa dan berusaha, sedangkan takdir kita tidak bisa mengubahnya bah. Abah tidak perlu merasa bersalah.'' Tutur ummi menuturkan pendapatnya.


''Tapi apa yang akan Husein pikirkan dengan abah, ia teman baik ku mi, abah merasa sangat kasihan dengan kondisi putrinya, meski abah tahu apa yang Nadia dulu lakukan adalah kesalahan, tapi kita sebagai muslim yang beriman haruslah memaafkannya.''


Ummi hanya terdiam dengan penuturan abah, ia tidak dapat menyangkal jika pendapat suaminya memang benar.


''Lalu apa yang akan abah lakukan?'' tanya ummi menatap suaminya.


Ummi berharap abah tidak akan memaksa Yusuf untuk menerima Nadia, karena ummi tidak ingin jika Nadia lah yang akan menjadi menantunya.


Abah menarik nafasnya, ada sesuatu yang terus membuatnya merasa mengganjal dalam hatinya. Jika saja abah dalam posisi abi Husein tentu ia sangat mengharapkan jika Yusuf dapat memaafkan kesalahan yang telah Nadia perbuat dan bersedia menerimanya.


Yusuf yang telah melaksanakan shalat ia pun turun menuruni tangga karena akan menemui abah dan juga ummi nya.


Ummi yang melihat keberadaan Yusuf segera menepuk paha abah berharap abah tidak membahas Nadia di depan Yusuf.


''Ummi, abah belum tidur?'' tutur Yusuf yang kemudian duduk di depan kedua orang tuanya.


''Ummi hanya menemani abah, kenapa kamu belum tidur? Ini sudah larut malam.'' Tutur ummi menatap putranya.


''Aku tidak bisa tidur ummi, aku kepikiran terus Nadia.''

__ADS_1


Ummi pun terkejut dengan apa yang putranya bicarakan. Ia sangat berharap jika suaminya tidak membicarakan Nadia lagi tapi kini anaknya malah membicarakan Nadia.


__ADS_2