Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 65


__ADS_3

Kini Syifa keluar dengan linangan air mata yang sudah tak bisa ia tahan sesak di dadanya pun kini terasa menyeruak. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni tangga hatinya sangat sakit meski ia tidak mengetahui siapa orang yang bernama Lita itu, yang ia tahu jika ada wanita lain yang mencintai Hanif.


''Nak, kamu sudah bangun.'' Tutur ummi yang melihat punggung menantunya itu di dekat pintu.


Syifa yang mendengar ucapan sang mertua ia pun segera menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipinya. ia pun segera membalikan tubuhnya dan tersenyum pada ibu mertuanya.


''Oh, ummi ia aku mau ke luar sebentar.'' Tutur Syifa mengatakan keinginannya.


''Kenapa tidak bersama Hanif? apa jangan-jangan dia tidak ada di rumah.'' tanya ummi yang mulai menebak-nebak keberadaan putranya.


''Tidak ummi biar Syifa sendirian, lagian aku hanya ingin keluar sebentar,''


''Baiklah,'' ummi pun membiarkan Syifa pergi ke luar.


Syifa pun pergi ke area taman yang terlihat sangat luas ia menatap banyak sekali pohon dan bunga yang kini membuatnya sedikit tenang.


Ia pun duduk di kursi yang berada di belakang rumah ummi ia menatap bangunan yang mengingatkannya pada pondok.


Bangunan yang terlihat begitu luas itu membuat Hati Syifa lebih tenang. ''Kenapa aku baru melihat masjid di sebelah sana? ataukah ada pesantren juga.'' Gumam Syifa pelan.


Masjid yang begitu megah itu membuat Syifa merindukan suasana pesantren dan ketiga sahabatnya yang kini sangat ia rindukan.


.


.


Hanif yang masih berada di kamarnya ia pun mengambil ponsel yang sepertinya ada sebuah pesan karena terdengar sebuah notifikasi.


Terlihat Lita memberikannya sebuah pesan.


''Han, aku mohon aku ingin bertemu kamu sekarang.''


Hanif menarik napasnya panjang ia tidak mengerti apa yang membuat Lita terus seperti itu sudah jelas ia mengatakan terakhir mereka bertemu untuk dia agar berhenti berharap kepadanya. Hanif pun menaruh kembali ponsel yang ia pegang ia bahkan tak berniat untuk membalas pesan yang Lita kirimkan untuknya.


Perlahan ia berjalan menuruni tangga untuk mencari keberadaan Syifa namun ia melihat ummi yang kini tengah berada di dapur.


Hanif pun melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk memastikan istrinya sedang bersama ummi.


''Ummi, aku kira ummi sedang bersama Syifa.'' Ucap Hanif yang kini tengah berada di ambang pintu.


''Tidak, Syifa bilang dia mau keluar. Kenapa kamu tidak menemaninya?'' Ummi menoleh ke arah Hanif yang masih terdiam.

__ADS_1


''Oh, mungkin Syifa bosan, biar aku mencarinya ummi.'' Hanif pun berlalu dan mencari keberadaan Syifa.


Hanif tak pernah memikirkan apapun karena Syifa terlihat biasa saja bahkan ia tak mengatakan sesuatu ia hanya berpikir jika Syifa sedikit bosan.


Ia membuka pintu dan melihat sekeliling rumahnya namun tak melihat keberadaan istrinya.


Hanif pun berjalan ke belakang rumahnya mungkin Syifa sedang berada di taman karena Syifa sepertinya menyukai keheningan seperti apa yang selalu ia lakukan.


Perlahan Hanif berjalan dan benar saja terlihat Syifa yang sedang asyik menatap langit sore di sana.


''Apakah kamu menyukainya?'' Hanif berkata dan menampilkan senyum hangatnya membuat Syifa pun tersenyum kembali.


''Kenapa Ustadz kesini.'' Tutur Syifa yang menatap lembut Hanif.


''Aku akan kesini jika aku sedang bosan. Dan aku tahu pasti kamu akan kesini seperti apa yang selalu kamu lakukan saat di pondok.''


Syifa menatap lekat-lekat suaminya ia merasa jika Hanif tahu tentang kebiasaan dirinya saat berada di pondok.


''Sejak kapan Ustadz tahu jika aku suka ke taman yang berada di pondok?'' tanya Syifa yang tak mengalihkan pandangannya.


''hmmm, sejak aku mulai menyukaimu dan sejak aku tahu jika Yusuf telah melamar mu.''


''Aku tahu tentang semuanya, bahkan aku tahu jika kamu memiliki perasaan yang sama Syifa.'' Tutur Hanif dengan perasaan yang sulit di artikan.


Syifa menarik napasnya ia menatap wajah tulus suaminya meski Syifa pernah menyimpan rasa untuk Ustadz Yusuf tapi kini Hanif lah yang menjadi suaminya dan ia yang lebih berhak untuk mendapatkan cintanya.


''Itu semua hanya masa lalu aku, aku telah mengubur dalam semua perasaan aku.'' Tutur Syifa perlahan ia sangat takut jika Hanif salah paham.


Hanif pun kembali tersenyum ia sangat bahagia mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut istrinya itu.


''Terima kasih Syifa.'' Hanif pun duduk bersebelahan dengan Syifa tak ada obrolan hanya keheningan sore hari yang kini menemani mereka.


''Apa Ustadz memiliki seorang kekasih?'' Tanya Syifa yang kini menatap langit sore. ia mengatakan apa yang membuat pikirannya merasa terasa terganggu.


Hanif hanya menoleh sesaat sebelum ia menjawab pertanyaan yang membuat ia merasa aneh.


''Tidak, aku tidak memiliki kekasih jika aku memiliki kekasih mungkin sudah dari dulu aku qmenikahinya.''


Syifa hanya mengangguk ia ingin sekali bertanya tentang siapa Lita namun ia tidak terlalu memiliki keberanian untuk menanyakan nya secara langsung.


''Apa ada sesuatu yang mengganggumu?''

__ADS_1


Hanif menunggu apa yang ingin Syifa katakan ia merasa jika Syifa menyimpan sesuatu darinya.


''Ustadz,''


''Ya,'' Hanif masih menunggu apa yang ingin Syifa katakan.


''Siapa Lita? apakah dia mantan kekasih mu?'' seketika Hanif terkejut dengan apa yang Syifa katakan ia tidak menyangka jika Syifa menanyakan Lita.


''Dari mana kamu mengetahui Lita?''


''Tadi dia menelpon Ustadz dan maaf aku lancang mengangkat telpon darinya.'' Syifa merasa bersalah.


Kini Hanif tahu apa yang sebenarnya terjadi ternyata Syifa pergi hanya untuk menenangkan pikirannya.


''Dia hanya masa lalu ku seperti halnya Yusuf yang juga masa lalu mu, aku harap kita akan bersama fokus ke depan membangun rumah tangga dengan penuh cinta. Aku juga harap kamu dapat membuka hati untuk ku Syifa.''


Syifa tak bisa berkata-kata ia merasa bersalah karena dirinya masih belajar untuk mencintai Hanif padahal Hanif adalah lelaki yang seharusnya ia cintai.


''Insyaallah Ustadz semoga aku bisa menjadi istri yang sholehah.''


Hanif pun mengusap puncak kepala Syifa ia sangat bersyukur karena Syifa membuka hatinya untuk Hanif meski ia belum mengetahui jika ia kini mencintainya.


''Aku ingin kamu tidak memangil ku Ustadz lagi.'' Hanif tersenyum ia pun menarik hidung mancung milik istrinya. Ia merasa sangat gemas melihat Syifa yang merintih kesakitan.


''Ustadz, sakit tahu!'' ucap Syifa yang mengusap hidung mancungnya.


Sementara Hanif ia terkekeh karena melihat tingkah istrinya itu.


''Sudah aku bilang jangan panggil Ustadz atau aku tarik lagi hidung mu.'' Tutur Hanif yang merasa sangat gemas.


''Baiklah, Ustadz mau di panggil apa? Abi, sayang, cinta, darling?'' ucap Syifa yang kemudian tertawa karena merasa sangat lucu melihat wajah suaminya yang kini terlihat kesal.


''Mas saja.''


''Mas? ko mas sih Ustadz? Syifa tertawa kembali karena merasa lucu.


Hanif pun hanya mengangguk dan mengecup puncak kepala istrinya membuat Syifa terdiam seketika.


''Itu lebih baik sayang, dan lebih baik kita kembali ke rumah ini sudah terlalu larut.'' Ia mengusap puncak kepala Syifa dan kembali mengecup nya membuat Syifa bersemu merah.


......................

__ADS_1


__ADS_2