
Hanif yang sudah berangkat bersama ummi dan juga abi membuat Syifa hanya berdua di rumah.
Syifa hanya berdiam diri di kamar ia pun membuka buku yang telah Hanif berikan untuknya saat itu.
''Sayyidah Khadijah.'' Ya Sayyidah Khadijah beliau mempunyai gelar thahhirah atau wanita suci. ia adalah istri pertama Rasulullah Saw dan cinta pertama baginda Rasulullah. ia adalah wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan, Sayyidah Khadijah yang menghibahkan seluruh hartanya untuk islam dan mengabdikan hidupnya kepada rasullullah sebagai Suaminya.
Sungguh tinggi dan mulia kedudukan Khadijah sampai-sampai Allah dan malaikat Jibril mengirim salam langsung kepadanya. Khadijah dijanjikan sebuah istana di syurga, karena Khadijah adalah yang pertama kali membangun rumah islam tatkala tidak ada satupun rumah islam di muka bumi. kecintaan Nabi tetap melekat terhadap beliau walaupun sudah wafat, seakan-akan seperti tidak ada wanita di dunia ini kecuali beliau.
'' Demi Allah. Tidak ada pengganti yang Allah berikan (kepadaku) lebih baik darinya (Sayyidah Khadijah) .
Syifa pun menangis setelah ia membaca lembar per lembar tentang kisah Sayyidah Khadijah istri terkasih Rasullullah.
Ia merasa sangat bersyukur karena bersuamikan Hanif yang selalu mengingatkannya dalam kebaikan. banyak hal yang ia petik dari kisah Sayyidah Khadijah yang membuatnya semakin yakin jika Hanif adalah sosok lelaki yang baik untuknya dan juga banyak pembelajaran seperti apa rumah tangga nabi yang patut ia contoh.
Syifa merasa sangat bersyukur dengan apa yang ia baca. Dengan derai air mata ia pun kembali menutup buku yang telah ia baca.
waktu telah berlalu namun Syifa tetap saja tidak bisa menutup matanya. matanya masih terasa sangat perih hatinya sangat sakit mengingat ia belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya.
terdengar langkah kaki yang mungkin itu adalah Hanif. Syifa pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera menyambut kedatangan suaminya.
Syifa pun membuka pintu dan segera memeluk Hanif yang baru saja akan masuk. Ia memeluk erat suaminya dengan isak tangis yang belum juga berhenti membuat Hanif kebingungan.
''Sayang, kamu kenapa?'' Hanif mengusap kepala Syifa yang kini tak mengenakan hijab yang memperlihatkan rambut panjangnya.
Hanif pun segera masuk ke dalam dan menutup kembali pintu dengan Syifa yang masih saja memeluk dirinya.
''Aku minta maaf.'' Lirih Syifa yang masih saja menangis.
Hanif mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut ia tidak mengerti apa Syifa katakan.
''Mas gak ngerti sayang, kenapa kamu minta maaf kamu gak buat salah.'' Tutur Hanif jujur.
''Aku tadi ...'' Syifa tidak melanjutkan kata-katanya dan ia kembali terisak membuat Hanif menebak jika istrinya habis nonton drama Korea yang membuat ia menangis.
__ADS_1
Memang wanita itu paling pandai dengan perasaan bahkan nonton film opa-opa Korea saja sampai nangis tersedu-sedu. Hanif hanya tersenyum dengan pikirannya ia hanya menikmati pelukan dari Syifa yang membuatnya sangat nyaman.
Syifa yang telah tenang ia pun kembali menatap wajah suaminya yang terlihat begitu bahagia. Syifa pun mengerutkan dahinya karena melihat Hanif yang tak hentinya tersenyum.
''Mas ko malah senyum lihat aku nangis, mas itu gak peka sama istri. bukannya di buat tenang mas malah senyum-senyum.'' Syifa pun membalikan tubuhnya dan kembali ke kasurnya. Syifa sangat kesal karena sikap Hanif yang terlihat tidak peduli padanya.
''Ko malah ngambek sih.'' Tutur Hanif yang segera menyusul Syifa ia tidak mengerti kenapa Syifa malah berbalik marah padanya.
''Sayang, ko kamu malah ngambek sih, emang apa yang salah.'' Hanif menggoyang kan lengan Syifa berharap Syifa menatapnya.
''Mas itu nyebelin tahu. Masa ada istri nangis malah senang.'' Syifa menangis kembali ia merasa dirinya terabaikan bahkan tangisannya kini terdengar membuat Hanif jadi serba salah.
''Ya sudah mas minta maaf.'' Lirih Hanif yang merasa menyesal meski ia sendiri tidak tahu apa yang membuat Syifa menangis seperti itu.
''Apa Syifa sedang datang bulan.'' bukannya wanita kalau datang bulan itu nyebelin kata orang.'' gumam Hanif dalam hatinya ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan kembali membujuk Syifa agar berhenti menangis.
Beberapa menit berlalu akhirnya Syifa berhenti menangis kini ia menyandarkan kepalanya di dada Hanif meski tak ada percakapan setidaknya Hanif bernapas lega karena Syifa sudah berhenti menangis.
''fa, kamu sudah tenang kan?'' tanya Hanif dengan hati-hati.
Syifa hanya mengangguk dan pandangannya tetap lurus ke depan.
Hanif mengusap kepala Syifa dengan lembut dan mencoba menanyakan apa yang membuatnya menangis.
''Jadi sebenarnya kamu kenapa?''
Syifa pun menjelaskan apa yang membuatnya menangis dan memberikan buku yang telah ia baca itu ke tangan Hanif yang masih setia mengelus puncak kepalanya.
Hanif pun tersenyum ternyata dugaannya salah.
''Aku kira kamu menangis karena habis nonton opa korea.'' Tutur Hanif yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
''Sakit yang.'' Hanif meringis kesakitan karena Syifa mencubit nya dengan sangat keras bahkan sepertinya kuku panjang miliknya terasa menusuk sampai dalam.
__ADS_1
Syifa hanya tertawa melihat Hanif yang kini kesakitan karena ulahnya.
Hanif pun mencium Syifa kembali membuat Syifa bersemu merah.
Sementara Syifa ia begitu terkejut bahkan dadanya terasa sangat berdebar karena ulah Hanif yang membuatnya terasa jantungan.
.
.
Malam telah berlalu Hanif yang terbiasa bangun di jam malam ia pun segera membersihkan tubuhnya dan segera berwudhu ia akan kembali melaksanakan shalat tahajud.
Hanif yang telah selesai ia pun melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Syifa yang baru saja bangun kini menatapnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
''Kamu sudah bangun sayang?'' tanya Hanif yang kemudian menghampiri Syifa.
Syifa hanya mengangguk dan menatap lembut wajah suaminya yang kini selalu ia lihat saat bangun dari tidurnya.
''Baiklah aku siapkan air hangat dulu biar kita shalat bersama.'' Tutur Hanif yang hendak melangkahkan kakinya kembali ke kamar mandi.
''Gak usah mas, biar aku sendiri. mas shalat saja dulu biar aku menyusul.'' tutur Syifa yang berlalu dari hadapannya.
Lima belas menit berlalu akhirnya Syifa kembali ke kamarnya dengan wajah yang terlihat lebih segar.
senyum yang kini menghiasi wajahnya membuat Hanif sangat bersyukur kepada Allah karena telah mempersatukan mereka dalam ikatan suci pernikahan.
''Kita mulai.'' Ucap Hanif yang kemudian memulai shalat sunnah berjamaah.
''Aku sangat bahagia ketika aku di pertemukan dalam cinta yang halal. Cinta yang membuat aku sadar akan arti cinta dan cinta yang Sesungguhnya.
Cinta yang membawa ku ke dalam jalan menuju cintanya melangkahkan kaki bersama mengiri setiap detik bersamanya semoga langkahku dan langkahnya bersama hingga ke surga.''
Syifa Nadira.
__ADS_1