
Sikap Syifa kini mulai berubah bahkan menurut Hanif jika kini istrinya sangat mudah tersinggung bahkan ia merasa jika Syifa mudah sekali berubah terkadang senang tapi terkadang ia juga mudah terlihat kesal apalagi di minggu ini ia sangat terlihat sangat manja pada dirinya membuat Hanif terkadang bingung dengan tingkah istrinya.
''Mas aku mau jalan-jalan.'' Rengek Syifa saat melihat Hanif sudah siap dengan pakaian kerjanya.
''Boleh, tapi jangan sekarang ya aku gak bisa yang, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.'' Hanif mencoba memberikan pengertian pada Syifa.
Namun seperti hari-hari kemarin Syifa kembali seperti itu kini ia cemberut lagi membuat Hanif semakin bingung.
Syifa keluar dari kamar nya meninggalkan Hanif yang masih bersiap. Dengan wajah yang ia tekuk Syifa menuruni tangga dan segera membantu ummi menyajikan makanan nya di meja untuk sarapan pagi ini.
''Mana suami mu sayang?'' tanya ummi pada Syifa karena biasanya Syifa akan turun dengan Hanif tapi kini tidak.
''Masih di kamar ummi.'' Jawab Syifa dengan simpel dan segera duduk bersama ummi dan juga abi.
Hanif yang sudah siap ia segera mengambil alih duduk di samping Syifa. Namun ia masih melihat wajah kesal dari istrinya membuat Hanif bernapas berat.
''Yang aku mau sayurnya.'' Pinta Hanif pada Syifa dengan lembut nya ia berkata.
Syifa segera membawa semangkuk sayur yang berada tak jauh darinya dan menyimpan di hadapan Hanif tanpa berniat menyajikan di piring Hanif membuat ummi dan abi merasa sangat heran dengan tingkah menantunya yang terlihat berbeda.
ummi dan abi menatap heran pada Hanif membuat Hanif jadi serba salah.
''Makasih.'' Ucap Hanif dengan senyum yang menghiasi wajahnya namun begitulah Syifa ia tidak menanggapi Hanif bahkan ia sama sekali tak merespon Hanif membuat Hanif menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mereka kembali makan dengan hening tak ada obrolan yang keluar dari mulut mereka padahal saat awal-awal Syifa berada di rumah ummi dan abi selalu dibuat tersenyum dengan tingkah romantis nya anak dan menantu nya.
Hanif yang sudah selesai ia segera berpamitan kepada ummi dan juga abi nya.
''Mas berangkat dulu sayang.'' Ucap Hanif pada Syifa yang berarti ia ingin jika keberangkatan nya diantar oleh Syifa seperti biasa yang Syifa lakukan padanya.
Meski Syifa masih kesal tapi ia tidak mungkin menunjukan kekesalan nya di hadapan ummi dan abi. Dengan langkah beratnya ia mengantar keberangkatan Hanif sampai pintu.
''Mas berangkat dulu ya.'' Ucap Hanif lagi. Hanif mengecup puncak kepala Syifa dengan lembut setelah Syifa meraih tangan suaminya.
Hanif berangkat dengan perasaan yang serba salah ia bukannya tidak ingin jalan-jalan dengan Syifa tapi bagaimana lagi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya untuk hari ini meski ia sadar jika akhir-akhir ini ia tidak bisa membawa Syifa untuk jalan-jalan karena padatnya kerjaannya.
__ADS_1
Syifa kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah ia melihat ummi yang kini tersenyum ke arah dirinya membuat Syifa merasa tidak enak hati.
Syifa berpikir jika ummi mengetahui dirinya yang sedang kesal pada Hanif.
''Ummi.'' Syifa duduk di samping ummi dan kini entah kenapa matanya mulai berkaca-kaca.
''Kenapa sayang? apa kalian ada masalah?'' tanya ummi pada Syifa.
Syifa menggeleng dan kini ia menangis.
Ummi tersenyum melihat tingkah Syifa. Ummi merasa kembali teringat saat dirinya berada di fase awal menikah memang ada banyak hal yang harus ia pelajari lagi terlebih dengan sikap perbedaan yang tak sejalan dengan nya ummi sangat merasakan hal itu sangat berat meski seiring waktu ummi bisa mengimbangi suaminya hingga kini mereka berumah tangga.
''Ya sudah kalau tidak ingin bercerita ummi tidak akan memaksa tapi ingat jangan biarkan emosi menguasai diri kalian jika saat bertengkar. Tenangkan lah dirimu ajak hatimu agar selalu dekat sangat mana pencipta karena tidak ada ujian yang lebih besar sesungguhnya ujian yang hadir di antara kalian adalah bumbu dalam rumah tangga tak ada rumah tangga yang sempurna setiap yang berumah tangga akan mengalami ujian baik itu besar atau kecil tinggal kita bagaimana menyikapi masalah yang datang menghampiri kita.'' Tutur ummi memberikan nasehat pada Syifa.
Syifa hanya menganggukkan kepalanya bahkan ia menghapus jejak air mata yang meleleh begitu saja. Ia juga merasa jika akhir-akhir ini ia sering dibuat kesal oleh Hanif entah apa itu ia merasa jika dirinya mudah sekali menangis.
''Kamu tahu, salah satu yang membuat rumah tangga menjadi kuat adalah dengan adanya masalah. Dengan adanya masalah kita akan tahu bagaimana kita mencari jalan permasalah yang kita hadapi bersama dengan masalah juga kita menjadi tahu bagaimana pasangan kita baik atau buruknya tapi yang lebih penting kita akan lebih mengenal titik kelemahan tiap pasangan dengan cara itu kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah di masa mendatang. Ummi harap kamu akan sabar dengan sikap Hanif yang tidak sejalan dengan mu karena memang seperti itulah hubungan rumah tangga akan ada masanya kita senang dan ada masanya kita sedih.''
Syifa kembali tersenyum mendengar perkataan ummi memang apa yang ummi katakan Syifa selalu mengingatnya untuk bekal ia menjalani hubungan rumah tangga nya dengan Hanif.
''Ummi mau pergi ke panti siang ini apa kamu mau ikut?'' tanya ummi mengalihkan pembicaraan agar menantunya tidak bersedih lagi ummi rasa jika Syifa membutuhkan waktu untuk menghilangkan kesedihan nya.Ummi rasa dengan cara mengajak Syifa pergi ke panti akan membuat Syifa kembali senang.
''Iya ummi Syifa mau.'' Syifa merasa senang karena dengan begitu ia akan bertemu dengan anak-anak meski saat Syifa mendengar kata panti ia menjadi teringat sosok Raja yang membuat nya merakan hal yang berbeda saat itu.
''Ya sudah kamu bantu ummi yuk, ummi mau buat makanan untuk mereka.'' Ummi segera berjalan ke dapur di ikuti oleh Syifa yang kini siap membantu nya dengan senang hati.
''Ummi mau buat apa?'' tanya Syifa saat melihat ummi mengeluarkan pisang dari kulkas.
''Kita buat pisang goreng, kue bolu sama sekalian ummi mau buat udang asam manis buat abi karena nanti siang abi pulang pasti abi suka.'' Ucap ummi mengeluarkan beberapa bahan yang akan ummi masak.
Syifa dengan senang hati membantu ummi membuat adonan pisang goreng sementara itu ummi kini mengupas kulit udang yang masih menempel.
''Ummi buat dulu udang nya ya kamu bisa kan Syifa buat pisang goreng nya? biar nanti ummi langsung siapkan bahan buat kue bolu.'' Ucap ummi memberi ide karena dengan begitu pekerjaan mereka akan segera selesai.
''Iya ummi gampang ko.'' Syifa tersenyum lebar ia dengan cepat mengupas kulit pisang dan membuat adonan.
__ADS_1
Ummi dengan cepat sudah membersihkan udang kini ummi mengupas beberapa bumbu penyedap untuk udang yang akan ia masak.
Syifa sudah mulai menggoreng bahkan kini tinggal setengah adonan lagi yang akan ia goreng.
''Sudah siap.'' Ummi berkata sambil memanaskan minyak dan menumis bumbu untuk udang dan segera memasukan udang itu ke wajan.
''Hoeeek.'' Seketika Syifa merasa mual saat mencium aroma udang yang sudah masuk ke wajan. Padahal belum lama udang itu masuk tapi rasanya bau yang masuk ke dalam indra penciuman nya sangat menyengat membuat Syifa merasakan sangat mual.
Syifa segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Ummi segera mematikan kompor nya dan mengangkat pisang yang sudah matang. Ummi segera berjalan menghampiri Syifa yang terus saja muntah-muntah.
''Kamu kenapa Syifa?'' ummi sedikit khawatir karena sejak tadi menantunya terlihat baik-baik saja.
''Udang nya ummi.'' Ucap Syifa setelah merasa baikan dan hendak kembali.
''Udang?'' ummi mengernyitkan karena tidak paham.
''Udang nya bau ummi tolong matikan.'' Pinta Syifa dengan sedikit susah payah karena ia masih mencium bau udang yang sangat menyengat.
Syifa segera berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sana.
Ummi yang sudah kembali setelah mematikan kompor ia duduk bersama Syifa dengan membawa minyak kayu putih di lengan nya.
''Biar ummi oleskan minyak ya biar gak mual.'' Pinta ummi hendak mengoleskan minyak kayu putih.
belum juga ummi mengoleskan bahkan ummi baru saja membuka minyak kayu putih itu Syifa sudah mual kembali.
''Aku gak mau ummi bau sekali.'' Ucap Syifa menutup hidung nya karena jika tidak sudah di pastikan ia akan mual lagi.
Ummi menyimpan kayu putih itu di meja dan kini ummi malah tersenyum lebar.
''Syifa kamu hamil nak, ummi rasa kamu hamil.'' Ummi berkata dengan sangat senang karena ummi juga pernah mengalami hal yang sama.
Syifa sedikit terkejut dengan perkataan ummi. Ia mengingat kembali waktu haid nya untuk memastikan jika dirinya benar hamil atau hanya masuk angin saja.
__ADS_1
......................