Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 46


__ADS_3

Yusuf yang sudah puas dengan tawanya ia pun kembali kedalam ruangannya. Ia menatap sekeliling ruangan yang menjadi kebesarannya namun ia merasa apa yang ia dapatkan ini adalah hasil dari doa kedua orang tuanya.


Karena tanpa doa orang tuanya Yusuf bukanlah apa-apa, ia sangat bersyukur karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayanginya dan juga seorang adik yang sangat peduli terhadapnya.


Adi yang mengikuti langkah kaki kakaknya kini ia duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Yusuf.


''Apa yang membuat kakak bingung?'' tanya Adi menatap Yusuf yang terlihat seperti memikirkan sesuatu.


Yusuf hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia hanya merasa tanggung jawab yang akan ia hadapi jauh lebih berat dari sekedar perusahaannya.


Yusuf beralih ke mejanya dan membereskan berkas-berkas yang telah ia tanda tangani, ia pun merapikan kembali meja itu seperti semula.


''Aku akan shalat dulu, setelah itu baru nanti kita pulang.'' Sahut Yusuf yang berlalu ke arah mushola kecil khusus untuknya sendiri.


Yusuf yang terbiasa shalat di awal waktu membuatnya tidak nyaman jika menunda shalat, karena menurutnya lebih terasa tenang jika shalat di awal waktu, selain itu juga membuat pikirannya terasa lebih jernih.


Adi tersenyum dan ia pun mengikuti arah Yusuf dan shalat berjamaah.


Yusuf menjadi imamnya sedangkan Adi ia menjadi makmumnya.


Berjam-jam sudah berlalu mereka habiskan di ruangan itu dan banyak bercengkrama hingga jam sudah menunjukan pukul lima sore, matahari yang sudah terlihat indah suasana yang hampir dekat magrib membuat Yusuf segera mengemasi barangnya dan bersiap pulang ia menuruni lift yang berada di samping ruang kerjanya bersama Adi yang selalu berada disisinya.


Adi mengambil alih kemudi sedangkan Yusuf duduk di samping Adi.


Yusuf menatap jalanan yang sedikit ramai ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan memejamkan matanya.


Hatinya sedikit lega karena masalah dan beban yang selama ini ia pikirkan kini telah selesai, dalam pikirannya ia selalu teringat apa yang Adi katakan padanya.


''Harusnya kini memang tinggal aku yang menata hati untuk membuka hati untuk siapa saja.'' gumam Yusuf dalam hatinya.

__ADS_1


Yusuf memang tipe orang yang dingin jika bersama lawan jenis, ia akan lebih banyak diam, dan hanya akan memperhatikan lawan jenis jika sedang mengobrol, atau sekedar menjawab seperlunya jika ada yang bertanya. Ia memang tidak terbiasa dengan wanita manapun selain Nadia, dan itu pun karena Yusuf menganggap Nadia seperti adiknya sendiri.


Meski tak dapat di pungkiri jika pertemanan antara lawan jenis tidak di benarkan, namun ia merasa seperti itu, tapi memang benar Yusuf pun sempat berpikir mungkin karena kesalahannya terlalu dekat bersama Nadia, membuat banyak orang salah menilai kedekatan mereka, bahkan Nadia sendiri menyalah artikan perhatian Yusuf terhadapnya.


''Kak ada tukang cuangki.'' Tutur Adi yang melihat pedagang kaki lima di sebrang jalan sana.


Yusuf mengikuti arah pandang Adi, Yusuf pun tersenyum karena memang jajanan kaki lima itu memang kesukaan mereka berdua sejak kecil bahkan sampai sekarang mereka menyukainya.


''Kita beli dulu di.'' Usul Yusuf yang merasakan cuangki itu seperti sudah di dalam mulutnya.


Dengan cepat Adi pun segera melajukan mobilnya dan memarkirkannya di bahu jalan.


Adi pun membuka pintu mobil dan bergegas keluar untuk membeli lima bungkus cuangki kesukaan mereka.


Setelah selesai Adi pun segera melajukan mobilnya kembali, karena waktu sudah hampir menjelang adzan maghrib.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di depan rumah abah nya. Yusuf bergegas turun dengan membawa sekantong keresek berisi jajanan yang mereka beli di jalan.


Ia mengucapkan salam dan segera masuk kedalam rumahnya, terlihat abah dan ummi nya sedang duduk di kursi menanti kepulangan mereka berdua.


Mereka pun menyalami kedua orang tua mereka yang sedang duduk berdampingan. Sementara Adi ia pun berlalu ke arah dapur dan kembali dengan membawa mangkuk dan sendok untuk menghidangkan makanan kesukaan mereka.


Abah dan ummi hanya tersenyum melihat kedua putranya yang sudah tumbuh dewasa, bahkan seharusnya mereka sudah menikah, namun melihat perilaku kedua putranya itu ummi dan abah merasa mereka seperti anak-anak.


''Pulang-pulang bawanya cuangki, harusnya kalian pulang bawa calon istri.'' Seru abah berkata, abah pun menerima semangkuk cuangki yang diberikan Adi.


Sementara Adi dan Yusuf mereka malah saling pandang dan saling tunjuk-menunjuk seolah melempar tuduhan terhadap apa yang Abah nya bicarakan dan pun tertawa.


Ummi hanya tersenyum ia tidak menyangka jika kini putranya telah dewasa, namun mereka malah terlihat seperti anak remaja.

__ADS_1


Ummi pun menepuk bahu kedua putranya dan berkata.


''Kalian berdua, seharusnya membawa calon istri untuk ummi dan abah, ummi sudah tidak sabar ingin menimang cucu.'' Tutur ummi dengan senyum lebarnya.


Yusuf dan Adi di buat terkejut dengan perkataan ummi nya, bagaimana tidak jangankan calon istri, dekat saja dengan lawan jenis mereka tidak, lalu bagaimana bisa mempunyai pasangan.


Yusuf hanya tertawa dan kembali memakan makanannya, ia tahu kalau ummi memang berkata serius, tapi ia merasa jika hal jodoh hanya Allah lah yang akan memberikan petunjuknya.


Ia akan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhannya, Yusuf sudah tak ingin berharap siapa yang akan menjadi jodohnya, ia akan menerima siapapun itu, ia merasa jika takdir akan mempertemukan mereka dan sudah pasti jika itu yang terbaik dari sang pemiliknya.


Suara sholawat menggema di masjid para santri bershalawat sebelum adzan magrib akan tiba.


Yusuf yang telah selesai makan, ia segera pergi ke kamarnya dan membersihkan badannya yang memang terasa sedikit lengket.


Beberapa menit berlalu akhirnya ia telah selesai dan berganti pakaian dengan pakaian koko warna navy dengan balutan sarung dan juga sorban yang ia simpan di pundaknya tidak lupa dengan kopiah yang ia kenakan di kepalanya membuat Yusuf sangat terlihat tampan.


Wajahnya yang memang tampan di tambah air wudhu yang masih terlihat membasahi wajahnya membuat ia sangat terlihat sempurna.


Ia pun segera menuruni satu persatu anak tangga dan bergegas pergi ke masjid, karena sepertinya abah dan Adi sudah lebih dulu ke masjid.


Syifa dan ke tiga sahabatnya berlarian karena mereka hampir telat. Namun untung saja sebelum adzan selesai mereka sudah menggelar sajadahnya.


Syifa bernafas lega, karena jika tidak ia akan sangat malu jika terkena hukuman.


Adzan pun selesai dan para santri dan santriwati segera memaksakan shalat berjamaah.


Kali ini abah lah yang menjadi imam, para santri dan santriwati pun mengikuti shalat dengan khusyuk.


......................

__ADS_1


__ADS_2