
''Mas kamu mau makan sama apa?'' tanya Syifa karena ia hendak menuangkan sup pada nasi untuk suaminya.
''Apa aja sayang asal jangan pakai sambal.'' Hanif setia menanti hidangan yang akan di berikan oleh istrinya.
''Makasih sayang.''
Syifa hanya tersenyum dan mengambil alas makan untuk dirinya sendiri.
Makan malam sedikit berbeda yang kini ia rasakan biasanya Hanif selalu mengajak nya makan di bawah tapi kali ini berbeda ia menikmati makan malam berdua di kamar nya dengan jendela kamar yang sengaja ia buka membuat angin malam menerpa tubuhnya.
Mereka makan dalam diam hingga kini mereka sudah selesai.
Syifa membereskan alas makan mereka yang sudah ia pakai dan kini ia berjalan ke luar menatap langit malam kota Bandung yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.
''Kenapa sayang?'' Hanif memeluk Syifa dari belakang ia melihat raut wajah kesedihan dari istrinya membuat Hanif merasa heran.
''Tidak mas, hanya saja di kota ini kita di pertemukan dengan cara yang yang sungguh tak pernah aku duga. Aku sedikit merasa sedih mas mungkin ini adalah malam terakhir aku tinggal disini.'' Syifa menarik napasnya panjang ia menghirup udara malam yang sangat dingin masuk ke rongga pernafasan nya.
''Ya cara Allah mempertemukan kita memang sangat tak pernah aku bayangkan. Bahkan aku mencintai kamu sejak pandangan pertama.'' Jujur Hanif karena memang seperti itu keadaan nya meski ia tidak dapat mengungkap kan perasaan nya sejak pertama ia mengenal Syifa karena sudah jelas jika Syifa sudah di lamar lebih dulu oleh Yusuf meski pada akhirnya Syifa menjadi istrinya.
Syifa membalikan tubuh nya ia menatap wajah tampan suaminya ia menelisik apa yang di katakan oleh suaminya memang benar atau hanya sekedar gombalan belaka. Namun saat ia berusaha mencari kesalahan tak sedikit pun Hanif memperlihatkan jika dirinya sedang berbohong.
''Kenapa? apa kamu tidak percaya?'' tanya Hanif karena Syifa hanya diam saja.
''Ya mana mungkin lah mas. Mas gombal aja.'' Syifa berkata padahal sungguh tidak sedikitpun rasa ragu dalam hatinya. Syifa sangat mempercayai Hanif.
''Buktinya mas melamar kamu sayang. Bahkan mas berniat menjemput kamu agar menjadi pendamping hidup mas.'' Jujur Hanif membuat Syifa mengulas senyum nya.
''Tapi kenapa mas mau nikah dengan aku apa alasan mas mau menikah dengan aku padahal kita saat itu belum saling mengenal mengapa mas yakin mengapa mas mau menjadikan aku istri mas?'' tanya Syifa kembali. Syifa tidak pernah berpikir untuk menanyakan hal seperti itu sebelum nya bahkan tak pernah sekalipun terbersit dalam hatinya untuk menanyakan perihal itu pada Hanif karena iya merasa jika Hanif adalah sosok lelaki yang Allah pilihkan untuk nya hingga tak sedikitpun niatan mempertanyakan hal seperti itu. Tapi kini entah apa yang membuat Syifa ingin sekali menanyakan hal seperti itu di saat usia pernikahan nya sudah menginjak enam bulan lamanya.
''Entahlah mas sendiri tidak tahu hanya saja mas selalu berharap suatu saat nanti mas akan bisa menjadikan kamu istri mas menjadikan kamu sebagai teman berbagi keluh kesah tentang apa yang mas rasakan. Mas selalu berharap jika suatu saat nanti mas bisa menghapus luka mu menggenggam tangan mu di saat kamu sedih dan berduka selalu berada di samping mu dan saling menguatkan dalam kondisi apapun. Mas cinta kamu Syifa itulah alasan mas kenapa menikahi mu mas sangat mencintai mu.'' Hanif berkata dengan tulus dari hati nya ia memang sangat mencintai Syifa bahkan di saat Syifa terluka oleh Nadia ingin sekali ia menghapus duka nya ingin sekali ia berkata aku akan selalu ada untuk mu namun Hanif tak dapat mengungkap dirinya karena dirinya saat itu masih dilema dengan perasaan nya sendiri ia belum bisa menyadari jika jauh sebelum kejadian itu ia sudah jatuh hati pada Syifa.
__ADS_1
Meski saat itu juga ia mengetahui jika kenyataan nya tak memungkinkan dirinya untuk mengungkapkan perasaan nya ia memilih diam dan lebih mengubur dalam perasaan nya karena Syifa telah di kamar Yusuf tapi sejak ia tahu jika Syifa tidak bisa menerima Yusuf saat itulah ia merasa yakin untuk mengutarakan perasaan nya.
Syifa merasa tersentuh ia tak pernah mendengar perkataan setulus itu dari mulut suami nya bahkan ini adalah kali pertama dirinya merasa jika Hanif memang sosok lelaki yang sangat mencintai dirinya.
''Makasih mas. Makasih karena semua yang telah mas berikan pada aku.'' Ucap Syifa dengan haru. Syifa memeluk Hanif yang masih terdiam dan kini Hanif pun membalas pelukan dari Syifa.
Malam sudah sangat larut sepasang suami istri itu saling memeluk melepas rindu yang sudah lama mereka rasakan apalagi di malam ini mereka hanyut dalam kebahagian yang kini mereka rasakan.
Syifa merasa sangat senang karena telah mendapat cinta dari Hanif yang sangat sempurna dan tulus mencintai dirinya.
''Kita shalat isya dulu yuk.'' Ajak Hanif setelah beberapa saat mereka saling memeluk akhirnya kini Syifa pun melepas pelukan nya dan mengangguk untuk segera melaksanakan shalat berjamaah.
Hanif lebih dulu pergi ke kamar mandi dan membiarkan Syifa menggelar sajadah untuk dirinya dan juga Syifa.
Beberapa menit telah berlalu Hanif keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah dengan air wudhu membuat Syifa menyungingkan senyum ke arah dirinya.
''Aku wudhu dulu ya.'' Syifa berjalan ke kamar mandi untuk segera berwudhu. Hanya lima belas menit saja kini Syifa sudah selesai dengan wudhu nya ia segera berjalan ke arah Hanif yang sejak tadi menatap kedatangan nya dari kamar mandi.
Allah sangat berbaik hati pada mereka hingga kini separuh jiwa mereka telah Allah sempurnakan dengan jalan yang halal Allah mempersatukan mereka.
Kini harapan Hanif hanya satu ia ingin memiliki buah Hati yang sudah sangat ia harapkan sejak tak lama ia menikahi Syifa perasaan untuk memiliki seorang anak darinya selalu menjadi harapan nya.
....
Malah telah berlalu Syifa sudah melakukan tugas nya ia memberikan kembali hal nya kepada Hanif membuat Hanif merasa sangat senang.
Hanif yang sudah terbangun dari tidurnya ia melihat Syifa yang masih terlelap dalam tidurnya.
Ia mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut agar Syifa tidak terbangun.
''Semoga Allah segera menitipkan buah hati pada kita.'' Hanif kembali mengecup kepala Syifa dengan lembut dan bangun dari tidurnya karena ia akan mandi dan bersiap untuk shalat sunnah malam nya.
__ADS_1
Hanif sudah masuk ke dalam kamar mandi membuat Syifa segera bangun ia sebenarnya tidak tidur ia hendak bangun namun saat Hanif mengecup kepalanya dan berkata seperti itu ia mengurungkan niat nya. Syifa mendengar semua perkataan dari mulut suaminya bahkan ia juga berucap aamiin untuk segenap harapan Hanif.
''Semoga apa yang mas harap semoga Allah mengabulkan nya mas.''
Ia segera bangun dan menggelar sajadah untuk Hanif shalat dan juga untuk nya. Syifa juga membereskan kembali tempat tidur mereka sambil menunggu Hanif keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit telah berlalu Hanif sudah keluar dari kamar mandi dengan senyum lebar nya ia melihat Syifa sedang duduk di atas kasur nya.
''Kamu sudah bangun? maaf karena mas telah mengganggu tidurmu.'' Hanif berjalan ke arah Syifa saat ia melihat senyum tipis dari mulut istrinya.
''Kenapa sayang?'' tanya Hanif sambil mengambil kopiah di dekat Syifa.
''Enggak aku mandi dulu ya mas.'' Syifa bangun dari duduk nya dan beranjak pergi untuk mandi dan ikut shalat dengan Hanif.
Waktu telah berlalu Syifa sudah keluar dari kamar mandi daan sudah rapih dengan pakaian nya ia berjalan ke arah Hanif yang sudah menunggu dirinya.
''Mas ko bukan nya mulai aja kenapa harus nunggu aku?''
''Biar kita berjamaah saja sayang lagian kalau berjamaah pahalanya nambah.'' Kekeh Hanif mengusap kepala Syifa namun tanpa sengaja tangan nya mengenai kening Syifa.
''Ahh mas.'' Kesal Syifa karena dengan begitu ia harus mengulang lagi wudhu nya.
Hanif tertawa melihat reaksi Syifa yang terlihat sangat kesal bahkan ia mengerucutkan bibir nya membuat Syifa terlihat sangat menggemaskan.
''Gak apa-apa sayang lagian wudhu itu menghapus dosa kamu.''
''Tapi dingin mas.'' Ucap Syifa lirih bagaimana tidak subuh udara di kota bandung memang lebih dingin terlebih saat menjelang waktu subuh.
''Ya sudah sini biar aku hangatkan.'' Kekeh Hanif membuat Syifa sontak memerah karena malu.
......................
__ADS_1