
Malam hari
Semua santri dan santriwati yang berada di mesjid seperti biasa mereka melaksanakan shalat magrib bersama karena hari ini malam Senin mereka akan mendengarkan tausiah yang biasa di adakan setiap seminggu sekali.
Tirai pembatas antara santri dan santriwati pun di buka oleh para pengurus masjid. Para santri dan santriwati pun duduk dan bersiap untuk mendengarkan tausiah yang akan di berikan oleh ustadz yang akan mendapat giliran, dan kali ini Ustadz Hanif lah yang akan mengisi acara tausiahnya.
Semua santriwati begitu khusyuk mendengarkan.
Syifa yang mendengarkan tausiah Ustadz Hanif tentang pernikahan pun, ia begitu tersentuh matanya tak pernah lepas dari Ustadz Hanif hingga tatapan mereka pun bertemu.
''Ko aku malah deg-degan gini sih, kenapa jantung aku seperti mau loncat.'' Gumam Syifa dalam hati.
Hanif yang tak sadar akan tatapannya terus tertuju pada Syifa ia pun menyunggingkan senyumnya.
''Astagfirullah.'' ia sedikit gugup dan melanjutkan kembali tausiahnya hingga selesai.
Tausiah pun selesai dan di tutup dengan doa bersama.
Setelah shalat isya berjamaah santri dan santriwati pun bergegas untuk kembali ke kamarnya masing-masing, namun Syifa masih berdiam diri di masjid ia masih ingin di sana karena ia ingin bertadarus sebentar. Sementara Arin dan yang lainnya mereka pun sudah pergi ke kamarnya.
Syifa yang telah selesai bertadarus ia di kaget kan karena Ustadz Hanif mengucapkan salam di balik tirai pembatas antara santri dan santriwati.
''Assalamualaikum Syifa....''
''Astagfirullah Ustadz? Ustad bikin aku kaget aja.'' Tutur Syifa yang memegangi dadanya karena kaget.
''Salam nya?'' Tanya Hanif yang menahan tawanya.
''Waalaikumsalam Ustadz maaf, aku kaget, Ustadz belum keluar? Aku kira Ustadz sudah balik.'' jawab Syifa dengan polosnya.
''Jadi kamu tadi mencari saya?'' tanya Hanif menggoda Syifa.
''Enggak, maksudnya, saya kira saya sendirian disini gitu.'' Syifa yang masih menggunakan mukenanya ia berniat akan mengemasi barang-barangnya.
''Sebenarnya, ada yang ingin saya sampaikan, mungkin ini memang kurang tepat apalagi di dalam masjid tapi saya kira mungkin ini waktunya.''
Syifa tidak menjawab ia terdiam dan mendengarkan apa yang Ustadz Hanif katakan.
.
Hening sejenak.
Hanif menarik nafasnya panjang ia memberanikan diri untuk menyampaikan niat baiknya.
__ADS_1
''Bismillah, saya Muhammad hanif alhisyam saya ingin bermaksud untuk melamar mu Syifa Nadira, maukah kamu menjadi calon istriku menjadi pendamping hidupku Syifa? Saya harap kamu menjawabnya sekarang.''
Syifa terkejut dengan apa yang ia dengar, sebelumnya ia telah di lamar Ustadz Yusuf memang ia sudah menolak lamarannya namun, sekarang Ustadz Hanif melamarnya ''apa yang harus saya katakan.'' Syifa masih terdiam ia tidak bisa berkata-kata.
''Syifa kamu dengar saya kan?'' Tanya hanif yang menahan debaran jantung nya ia memang sedikit takut jika Syifa menolaknya tapi ia akan lebih tenang meninggalkan pesantren ini jika ia telah mengetahui jawaban Syifa.
''Saya harap kamu akan menjawabnya Syifa, karena esok saya akan kembali ke kediaman saya, Abi saya sakit entah kapan saya akan kembali jika kamu menerima lamaran saya, saya akan kembali untuk menjemput kamu sebagai calon istri saya.'' Hanif yang menahan kegugupannya ia berusaha untuk tenang.
''Ustad sebelumnya saya ingin bertanya kenapa Ustadz memilih saya? banyak wanita yang lebih baik dari saya,'' tanya Syifa dengan gugup namun kali ini ia tidak ingin salah untuk memutuskan apa yang akan ia ambil.
''Banyak yang lebih sempurna, namun kita akan lebih baik jika kita saling menyempurnakan, jadi apa kamu mau menerima lamaran saya?''
Syifa yang merasakan ketulusan dari Ustadz Hanif ia tidak bisa menolak lamarannya, meski dulu saat Ustadz Yusuf melamarnya ia benar-benar ingin mengatakan iya tapi entah kenapa ia sangat sulit untuk menjawabnya mungkin memang ini adalah keputusan yang terbaik.
Syifa menarik nafasnya, nafasnya yang sedikit tidak beraturan membuat ia merasa gugup, tangannya pun dingin dan suhu tubuhnya terasa sangat dingin namun jantungnya ia sangat bisa merasakan detak nya seperti gemuruh yang hebat.
Syifa kembali menarik nafasnya sebelum ia benar-benar menjawabnya.
''Bismillah saya, Syifa Nadira menerima lamaran Ustad Hanif.''
Hanif yang mendengar jelas jika Syifa menerima lamarannya ia begitu bahagia, ia begitu tidak sabar untuk segera melamarnya secara resmi bahkan untuk mempersuntingnya.
Sementara Syifa, ia pun bahagia mungkin memang ini keputusan yang terbaik memang di hati kecilnya ia masih mencintai Yusuf tapi mungkin memilih Ustadz Hanif sebagai pendampingnya adalah keputusan yang lebih baik, biarlah Ustadz Yusuf Hanya Ustadz impiannya bukan sebagai pendampingnya.
''Terimakasih Syifa, saya akan kembali untuk menjemput mu sebagai istriku.'' Hanif meneteskan air mata bahagianya ia begitu terharu.
''Ambillah tasbih ini sebagai tanda kamu telah menerima saya Syifa, kapanpun itu pakailah sebagai rasa syukur kita telah di pertemukan semoga Allah akan senantiasa menjaga mu, mungkin esok pagi saya akan kembali dan mungkin ini perpisahan kita saya harap kamu bisa menjaga amanah saya Syifa dan semoga Allah mempertemukan kita kembali.''
''Iya ustad Terima kasih, semoga Ustadz selalu berada dalam lindunganNya kalau begitu saya pamit untuk kembali ke kamar Ustadz assalamualaikum.''
''Waalaikumusalam calon istriku''
Hanif pun tersenyum ia segera melaksanakan shalat sunnah ia sangat bersyukur atas apa yang ia dengar hari ini.
Sementara Yusuf ia menyaksikan semuanya hatinya sangat sakit, sahabat yang selalu menemaninya ternyata malah melamar seseorang yang sangat ia cintai, ia tidak bisa egois memang Syifa sudah menolak lamarannya ia tahu karena Nadia lah lamarannya di tolak, ada perasaan marah, kecewa yang menyelimuti hatinya saat ini tapi ia sadar semua itu adalah kehendakNya.
Yusuf pun menghampiri Hanif yang selesai melaksanakan shalat ia menepuk pundak sahabat baiknya.
''Aku bahagia karena Syifa menerima lamaran mu.'' Yusuf berusaha memberikan senyumnya.
''Aku... aku minta maaf yus, bukan aku...''
Perkataan Hanif terpotong Yusuf menyuruhnya berhenti untuk minta maaf.
__ADS_1
''Aku tau han, itu bukan salah mu, seperti apa yang kamu katakan semuanya adalah takdir, aku akan lebih bahagia jika dia bersama mu bahagiakan lah dia dan jangan pernah kamu sakiti dia.'' Yusuf pergi dari hadapan Hanif ia lega karena ia bisa menahan amarahnya.
Yusuf pun berjalan dan hendak pulang ke rumahnya.
Dari kejauhan ia melihat Syifa yang semakin menjauh seperti cintanya ia sudah tidak bisa menggapainya kembali. Cintanya tidak akan pernah saling bertemu.
Ia pun berjalan menghirup udara malam yang semakin dingin.
''Kamu baik-baik saja kan?'' Tanya Hanif yang kini berada di belakang Yusuf.
Langkah Yusuf perlahan terhenti ia menengok ke arah Hanif dan tersenyum. ''Aku baik-baik saja.'' Yusuf menepuk pundak Hanif dan memandangi gelapnya langit malam.
''Aku harap kamu tidak salah paham yus, aku juga tidak bisa menahannya jujur sejak pertama aku melihatnya aku mengagumi namun bukan hanya sekedar kagum aku berusaha untuk melupakannya setelah aku tau kalau kamu sudah melamarnya.''
''Sudahlah aku bahagia jika dia bahagia bersama mu, aku tahu kamu tidak seperti yang kamu takutkan aku tidak berpikir seperti yang kamu pikirkan.'' Yusuf tersenyum dan mengambil nafas panjang menurutnya persahabatan mereka lebih penting dari ego yang hanya akan menghancurkan semuanya.
''Terima kasih yus, aku akan benar-benar menjaga dan membahagiakannya kamu tidak usah hawatir.''
Syifa yang baru saja masuk ke kamarnya ia memegangi dadanya.
Ia sangat tidak menyangka dengan apa terjadi malam ini, ia sangat bahagia tapi di sisi lain ia takut jika Ustadz Yusuf kecewa padanya.
Arin dan Desi yang melihat tingkah Syifa yang aneh mereka pun menghampirinya.
''Hey Hey sepertinya ada yang kasmaran nih.'' ledek Desi yang menyunggingkan senyumnya.
Syifa hanya tersenyum dan berjalan ke kasurnya ia sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya.
''Cerita dong.''
Desi dan arin yang benar-benar dibuatnya penasaran.
''Sssttt jangan berisik kasihan tuh Arumi dia lagi tidur.'' jawab Syifa polos.
''Lagian datang-datang sudah kayak orang kesurupan hati-hati loh ini sudah malam.'' Desi pun cemberut karena tidak segera mendapat jawaban dari Syifa.
''Aku di lamar Ustadz Hanif.'' Syifa pun memeluk kedua sahabatnya yang hanya bengong mereka benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Syifa katakan.
''Syifa beneran? terus kamu terima?'' tanya Arin yang masih tidak percaya.
''Iya aku terima, lagian gak ada salahnya kan.'' Aku rasa ini yang terbaik semoga Ustadz Yusuf mendapatkan calon yang terbaik juga.
''Sudah ah aku mau tidur.''
__ADS_1
Syifa pun membaringkan tubuhnya dan terus menggenggam tasbih yang Ustadz Hanif berikan.
Ia benar-benar tidak menyangka jika Ustadz Hanif sangatlah romantis.