Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 154


__ADS_3

Malam semakin larut namun mata yang sejak tadi ia pejamkan tak kunjung juga terlelap hingga Hanif memutuskan untuk keluar kamar nya.


Ia menghirup udara malam di atas balkon kamar nya. Hanif mengedarkan pandangan nya hingga kini pandangan nya tertuju pada taman ia melihat sosok wanita yang kini duduk di gelapnya malam.


Hanif sedikit kaget ia segera beranjak pergi ke kamar nya dan turun ke lantai bawah langkahnya semakin cepat mengingat wanita itu diam di malam seperti ini hingga beberapa saat ia sudah sampai di taman itu.


Terlihat Syifa sedang menengadahkan pandangan nya ke langit tanpa suara bahkan sesekali ia memejamkan matanya.


''Kenapa kamu masih di luar di seperti ini, ini sudah malam apa kamu tidak punya waktu di saat siang?'' tanya Hanif sambil melampirkan sebuah jaket ke punggung wanita itu agar tidak kedinginan.


Syifa terkesiap meski begitu ada kehangatan dalam dirinya ia bersyukur karena setidak nya Hanif peduli pada dirinya.


''Apa kamu mencintai aku?'' tanya Hanif menatap wajah polos Syifa.


Syifa sedikit terkejut dengan perkataan suaminya itu.


''Aku mencintai kamu mas, sangat.'' Ucap Syifa tanpa di sadari air matanya kembali jatuh.


Hanif mengusap air mata Syifa yang jatuh ke pipinya dengan lembut.


''Jangan menangis lagi, aku tidak ingin kamu menangis lagi.''


Hening seketika Syifa merasa sangat rindu sosok Hanif yang lembut seperti ini dalam hidupnya kembali.


''Aku akan menerima kamu kembali, aku akan berusaha mengingatmu lagi, kamu mau bantu aku?'' tanya Hanif lembut.


Entah mengapa melihat Syifa menangis seperti ini membuat Hanif merasa sangat tidak tega hatinya sangat sakit entah kenapa Hanif tak ingin melihat Syifa menangis.


Dengan cepat Syifa mengangguk ia sangat senang dengan ucapan Hanif padanya.


Hanif merangkul Syifa ia mendekap nya dengan perasaan yang sepertinya tidak asing bau tubuh Syifa seakan tak asing di penciuman nya membuat Hanif semakin erat memeluk Syifa.


''Apa kamu benar istriku tapi kenapa aku bisa melupakan mu Syifa,'' Lirih Hanif pelan membuat air mata Syifa seketika jatuh kembali.


Hanif melepas kembali pelukan nya ia menatap dalam sosok Syifa yang sudah lama ia diamkan melihat Syifa kembali menangis Hanif mengusap lembut air mata yang tak henti nya jatuh.


''Maaf karena aku belum bisa mengingat mu.'' Ucap Hanif pelan.


Syifa hanya mengangguk ia sendiri tidak tahu harus berkata apa hanya air mata yang terus mengalir semakin deras.


Beberapa menit telah berlalu hanya keheningan yang menyelimuti mereka meski Hanif memeluk Syifa.


''Kita masuk yuk, tidak baik diam di luar apalagi ini sudah malam.'' Hanif berkata ia segera bangun di ikuti oleh Syifa.


Mereka berjalan ke rumah dengan langkah yang saling beriringan hingga kini mereka sudah berada di dalam rumah kembali.


Syifa yang hendak masuk ke dalam kamar nya kini langkahnya terhenti saat satu tangan Hanif menahan pergerakan nya.


Syifa kembali membalik badan nya dan menatap Hanif yang menatap dirinya penuh tanya.


''Kita bisa mulai dari awal, kamu sudah janji akan membantu aku mengingatmu lagi.'' Ucap Hanif mengingatkan sementara Syifa ia masih diam ia masih belum paham maksud perkataan Hanif.

__ADS_1


''Kita bisa mulai dari awal, kamu tidur dengan aku kembali seperti layaknya seorang istri.'' Hanif sedikit menyungingkan senyum dan kembali menuntun tangan Syifa untuk mengikuti langkahnya.


...


Pukul tiga dini hari.


Syifa yang sudah terbiasa bangun malam ia kembali bangun namun ia tidak mendapati Hanif yang semula tidur bersamanya.


Syifa mengedarkan pandangan nya namun ia sedikit bernapas lega saat melihat Hanif yang baru saja keluar dari kamar mandi.


''Kamu sudah bangun?'' tanya Hanif dengan wajah yang masih basah dengan air wudhu.


''Iya mas,'' Syifa berkata dengan sedikit canggung meski Hanif sudah memberikan harapan baru tapi entah mengapa seakan ada pembatas diantara mereka membuat Syifa tak sepenuhnya seperti dulu.


''Ya sudah kalau begitu kita shalat berjamaah.'' Hanif segera menggelar sajadah untuk nya.


''Sajadah mu masih di tempat yang sama, apa mau aku yang carikan?'' tanya Hanif karena ia tidak pernah mengeluarkan pakaian pribadi Syifa karena ummi meminta agar pakaian Syifa tetap di taruh di sana dengan harapan suatu saat Hanif akan mengingat Syifa dengan pakaian nya.


''Tidak usah biar aku ambil sendiri.''


Syifa segera bangun dari duduk nya dan beranjak mendekati lemari pakaian nya ia melihat baju nya yang tersusun rapih bahkan ada beberapa perlengkapan bayi di sana yang sempat ia beli namun tak sempat ia pakaian kan pada calon bayi mereka seketika membuat Syifa kembali bersedih namun dengan cepat Syifa mengalihkan perasaan nya. Ia tidak bisa terus bersedih karena ada seseorang yang kini harus ia pertahankan dalam hidupnya.


Syifa segera mengambil mukena nya dan menggelar sajadah di belakang Hanif.


Syifa yang sudah selesai ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Hanif yang melihat kepergian Syifa ia menatap sajadah yang telah Syifa gelar hingga jemari nya ia gerakan untuk mengambil sebuah manik tasbih yang sangat ia kenal.


''Aahh.'' Hanif merasa sangat sakit bayangan wanita yang terluka kini menghampirinya bahkan beberapa ingatan wanita yang pernah ia peluk, wanita yang menarik perhatian nya sedang membaca buku di bawah rindang pohon itu adalah wanita yang sama meski tak jelas siapa wanita itu.


''Mas.'' Syifa berkata sambil mengusap punggung Hanif yang sedang memegangi kepalanya.


''Mas kenapa?'' Syifa sedikit khawatir karena suaminya tak hentinya merintih kesakitan.


''Mas.'' Ucap Syifa kembali karena tak ada respon hingga satu tangan mengangkat seolah dia baik-baik saja.


Syifa segera mengambil air dari nakas dan memberikan nya pada Hanif.


''Mas minum dulu.'' Pinta Syifa meski tak dapat di pungkiri jika dirinya sangat khawatir.


Hanif yang sudah merasa sedikit baikan ia segera minum dan menarik napasnya dalam-dalam.


''Mas kenapa?''


''Kenapa tasbih ini bisa berada di dalam lipatan mukena mu? apakah benar kamu istri aku?'' Hanif mengangkat tasbih yang kini ia pegang.


''Iya mas, mas sendiri yang kasih sama aku saat mas melamar aku.'' Ucap Syifa yakin.


''Apa mas mengingat semuanya?'' Syifa sedikit tersenyum lebar karena pertanyaan Hanif.


Hanif hanya menggeleng dan memasukan tasbih itu ke dalam saku koko nya dan segera berdiri.

__ADS_1


''Sebaiknya kita shalat dulu.'' Hanif segera bangun dan mulai melaksanakan shalat dengan cepat Syifa pun segera mengikuti gerakan suaminya.


...


Pagi telah menyapa Syifa sudah siap dengan pakaian yang sudah rapih ia berniat untuk pergi ke panti dengan Ana seperti janjinya kemarin pada Ana ia akan membawa Ana untuk bermain dan berjalan-jalan.


Syifa sudah turun dari kamar Hanif lebih dulu dan beranjak ke kamar Ana.


''Bunda bobo dimana?'' tanya Ana penasaran karena semalam ia tidak melihat bundanya.


''Bunda di kamar ayah sayang, ya sudah Ana sekarang kita mandi nanti siang kita jalan-jalan oke.''


Syifa segera menyiapkan pakaian Ana dengan sabar ia memandikan Ana dengan air hangat hingga kini Ana sudah selesai berpakaian dengan baju berwarna pink warna kesukaan Syifa.


''Pagi cucu nenek.'' Ummi memeluk Ana dan menuntun Ana ke meja makan.


''Pagi nenek.''


Syifa yang hendak mengikuti langkah Ana kini ia diam saat melihat Hanif turun dari kamar nya.


''Kita makan dulu mas.'' Syifa tersenyum ke arah Hanif yang langsung mendapat balasan senyum dari Hanif.


...


''Fa, kamu jangan terlalu capek, jangan lari-lari ingat apa kata dokter.'' Ucap Ummi mengingatkan karena Syifa belum lama keguguran ummi khawatir jika terlalu capek Syifa kenapa-kenapa.


Hanif yang mendengar perkataan ummi seolah ingatan nya kembali di tarik ke masa lalu membuat sakit kepala yang waktu sebelum subuh terasa kini terasa kembali bahkan sakit yang kini ia rasakan semakin kencang.


''Aahhh.'' Teriak Hanif membuat semua orang di sekeliling nya merasa panik.


Terbayang dirinya yang sedang berada di ambang pintu dengan wanita


''Mas berangkat dulu ya sayang, kamu hati-hati di rumah sama Ana jangan lari-lari ingat apa kata dokter.''


''Mas?''


''Iya sayang.''


''Aku mau bubur,'' bayangan wanita yang merengek meminta bubur padanya kembali munduk dalam ingatan nya dengan manja ia berkata, Hingga wanita yang berlarian di pantai dengan senang nya berfoto ria itu menari dalam ingatkan nya membuat Hanif semakin merintih kesakitan.


''Mas.'' Syifa mengusap punggung Hanif yang semakin bergetar karena sakit nya namun dengan kekuatan nya ia menolak bantuan Syifa ia bahkan sempat mendorong Syifa hingga membuat Syifa terjatuh.


''Bunda.'' Ana berteriak karena suasana kini mulai tidak baik untuk gadis kecil itu.


Dengan rasa sakit yang Syifa rasakan ia segera bangun dengan bantuan ummi dan beralih memeluk Ana.


''Aahhhh.'' ''Tenang nak.'' Abi Abdullah merangkul Hanif dan mencoba menenangkan Hanif.


......................


...

__ADS_1


__ADS_2