
''Mas mau kemana?'' tanya Syifa yang merasa terusik dalam tidur nya. Perlahan ia membuka mata yang terasa sangat berat ia buka.
''Kita shalat yang ini sudah ashar.'' Hanif berjalan ke kamar mandi meninggalkan Syifa yang masih mengumpulkan kesadarannya.
Syifa yang kini telah membuka matanya ia menatap langit-langit kamar yang mereka tempat-tempati.
''Uh, lapar sekali,'' rintih Syifa memegangi perutnya karena saking lamanya perjalanan yang tadi ia lewati sampai tertidur dan melupakan jadwal makan siangnya.
Syifa akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan mengitari penginapan yang kini mereka tinggali. Ia menatap tiap sudut ruangan yang sangat terlihat nyaman pemandangan alam yang kini terlihat sangat jelas membuatnya sangat menyukainya. Ia menghirup Udara sore hari yang sangat sejuk dan jauh dari polusi membuat ia bernapas lega.
Syifa mengedarkan pandangan nya mencari sesuatu yang bisa ia makan. karena perutnya terus saja memintanya untuk segera makan.
''Wah kapan makanan itu terhidang.''
Ia pun segera menghampiri meja makan yang terlihat romantis itu.
perlahan tangan nya mengambil satu buah makanan yang tertata di piring.
''Sayang sekali sudah dingin.'' Gumam Syifa yang masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Pintu kamar mandi kini terbuka lebar Hanif yang sudah selesai mandi ia pun melihat kasur yang sudah kosong entah kemana Syifa tak ada si sana.
''Yang?'' panggil Hanif karena tidak mendapati Syifa di sana.
Hanif hanya mengenakan handuk yang kini melilit tubuhnya karena pakaian yang tadi ia pakai sudah terasa tidak nyaman.
Hanif melupakan pakaian yang tadi Syifa beli dan entah dimana tadi ia meletakan nya.
''Yang?'' panggil Hanif kembali karena Syifa sama sekali tak menyahuti panggilannya.
Syifa yang merasa terpanggil ia pun menyahuti sambil makanan yang kini memenuhi mulutnya.
''Iya mas, aku lagi disini.'' Ucap Syifa tanpa beralih dari tempat duduknya.
Hanif pun berjalan ke arah dimana Syifa bersuara.
''Yang, kamu malah makan aja.''
Syifa pun tertawa karena dirinya tidak bisa lagi menahan perutnya yang sejak tadi minta di isi.
''Habisnya aku lapar mas.''
ia pun beralih berjalan ke arah suaminya yang kini diam di ambang pintu kamar.
__ADS_1
Ia melihat kembali Hanif yang kini tak mengenakan pakaian hanya handuk yang kini melekat di tubuh tegapnya.
detak jantung yang selalu merasa gugup saat ia mendapati Hanif yang selalu membuat ia merasa canggung.
''Mas kenapa gak pakai baju sih.'' Ucap Syifa yang merasa malu mendapati suaminya.
Hanif tertawa pelan meski Syifa sudah pernah melihat dirinya tapi tetap saja wanita itu terlihat bersemu.
''Aku lupa tidak membawa masuk kamar pakaian yang tadi kita beli sayang.'' Ucap Hanif yang kini merangkul dirinya ke dalam pelukannya.
''mas.'' Syifa merasa sangat tidak nyaman meski ia sudah pernah memberikan haknya.
''Iya?'' tanya Hanif yang tersenyum lebar.
''Biar aku ambil dulu baju nya mas, aku masih lapar.'' Ucap Syifa yang kini merasa gugup.
Hanif pun akhirnya melepaskan Syifa ia sangat senang melihat Syifa yang masih saja merasa malu.
Syifa berlalu dari hadapan Hanif dengan debaran jantung yang begitu kencang ia tahu jika Hanif kini suaminya tapi tetap saja perasaan gugup nya masih menyelimuti dirinya.
Tak berselang lama akhirnya Syifa kembali ke kamar mereka dengan membawa kantong belanjaan ia menyodorkan satu setel pakaian untuk Hanif dan juga **********.
''Makasih sayang.''
Terlihat Hanif yang sedang duduk di sajadah nya ia menanti Syifa untuk shalat berjamaah.
Namun yang di tunggu malah sepertinya asyik di dalam sana.
''Yang ayo cepat nanti keburu habis waktunya.'' Teriak Hanif karena Syifa sepertinya belum beres juga.
''Kenapa mas?'' sahut Syifa dalam kamar mandi.
''Ayo kita shalat.''
''Mas duluan aja aku lagi dapat.'' Syifa melanjutkan aktifitasnya ia mandi dan menikmati setiap waktunya di kamar mandi.
''Dapat.'' Hanif bergumam pelan mengulang perkataan Syifa yang baru saja ia dengar.
''Hah. Kenapa bisa tepat begini sih.'' Gumam Hanif yang kemudian mengacak-acak rambutnya karena ia mengerti arti dapat sebenarnya.
Hanif merasa sangat tidak adik karena apa yang ia harapkan harus di kubur dalam.
ia pun akhirnya melaksanakan shalat sendirian.
__ADS_1
.
.
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore Syifa dan Hanif kini sedang menikmati makan sore di luar karena Hanif kini mengajaknya untuk jalan-jalan.
Kini mereka berada di taman yang terlihat sunyi karena tak banyak pengunjung di sana
''Mas aku senang sekali mas ajak aku ke sini.'' tutur Syifa yang kini memandangi langit dengan bersandar kan dada suaminya.
''Aku juga senang apalagi bersama kamu seperti ini.'' Ucap Hanif yang merasa tidak akan lama lagi mereka akan berpisah kembali.
''Kenapa mas seperti sedih gitu sih nadanya?''
''Mas hanya pikir kita tidak akan lama lagi akan berpisah. lagian beberapa hari lagi kamu kan harus kembali ke pondok.'' Lirih Hanif merasa berat hati andai saja waktu bisa di percepat ia ingin sekali jika Syifa telah lulus dan menemaninya bersama.
Syifa menarik napasnya panjang ia mengerti apa yang kini menganggu pikiran suaminya sebenarnya ia sendiri berpikir sama apalagi ia akan kembali ken pondok bukan hanya waktu yang sebentar saja ia harus rela berjauhan karena menurut Syifa kesalahan yang mereka ambil sendiri.
''Gak apa-apa mas kan bisa kunjungi aku jika mas sedang tidak sibuk.'' Syifa berusaha menenangkan Hanif padahal dia sendiri sedang tidak enak hati mengingat perpisahan yang akan mereka lalui.
''Ya jelas aku akan selalu mengunjungi mu, yang terpenting kamu harus jaga diri di saat aku jauh. semoga Allah menjaga rumah tangga kita.''
Hanif oun mencium kepala Syifa dengan lembut hatinya kembali menghangat saat Syifa menerimanya bahkan sejak pernikahan mereka Syifa selalu bersikap baik dan patuh kepada dirinya membuat Hanif bernapas sedikit lega jika mereka berpisah.
''Mas aku mau kita ke pantai.'' ucap Syifa seketika mengingat perjalanan mereka ke pantai tidak terlalu jauh.
''Boleh tapi kita besok saja, lagian kalau dari sini tidak akan memakan waktu lama.''
Mereka pun menikmati kebersamaan yang selalu membuat cinta yang kini kian tumbuh dalam hati mereka.
Sebelum waktunya mereka akan kembali berpisah.
......................
''Halo di, ada apa?''
''Ya gak apa-apa biar aku pergi sekarang.'' Yusuf pun mengakhiri perbincangan mereka.
Yusuf yang sejak tadi bersantai di balkon kamarnya ia memandangi masjid dan pesantren yang kini terlihat sunyi karena para santri dan santriwati kini masih belum kembali.
Ia masih mengingat jelas wajah sosok wanita yang selalu mengusik hatinya sudah berapa lama ia berusaha menghapus bayang wanita itu namun belum juga bisa ia lupakan bahkan di saat ia mengambil keputusan untuk berniat menikahi Nadia namun takdir tak mempersatukan mereka mungkin Allah tidak ingin membuat Nadia kembali terluka karena hatinya masih terpaut pada wanita yang kini telah meresmikan hubungannya di depan orang tuanya.
''Kapan aku bisa benar merelakan mu.'' ucap Yusuf lirih yang kini masih setia menatap bangunan yang menjadi saksi cinta yang tak bisa ia dapatkan.
__ADS_1
......................