Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 20


__ADS_3

Hanif menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang ia tidak ingin terlalu buru-buru karena keselamatan memang harus di utamakan.


Perjalanan dari Bandung ke tempat tinggalnya di Banten memang memakan waktu yang lumayan melelahkan bisa memakan waktu 6 jam untuk perjalanan sedang bahkan lebih, tergantung kondisi jalan dan cuaca karena sesekali Hanif menepi ke rest area untuk beristirahat.


Syifa dan Arumi yang sudah di depan pintu rumah abah pun mengetuk pintunya.


Tok...tok...tok....


''Assalamualaikum.'' salam Syifa dan Arumi di depan pintu rumah abah.


Ummi yang sedang memasak ia mendengar ketukan pintu, ummi pun segera pergi ke depan pintu dan membukakan pintunya.


''Waalaikumsalam, nak Syifa, Arumi ayo masuk, kalian jadwal bantu ummi ya?'' tanya ummi dengan ramah.


''Iya ummi.'' sahut Arumi menjawab pertanyaannya.


''Baiklah kalian masuk kebetulan ada Syifa, nak Syifa mau bantu ummi masak?'' tanya ummi pada Syifa karena memang saat itu Syifa membuatkan bubur untuk abah dan abah menyukainya.


''Boleh ummi memangnya ummi mau masak apa?'' tanya Syifa dengan antusias.


Arumi yang mengambil alih untuk membereskan rumah abah sementara Syifa membantu ummi untuk memasak.


Syifa pun membantu ummi untuk membuat ikan goreng, ia mengupas beberapa bumbu untuk ikan goreng sementara ummi membersihkan ikannya.


''Sudah siap ummi.'' Syifa yang sudah selesai membuat bumbu untuk ikan gorengnya kemudian melumuri ikannya dan mulai menggorengnya.


Aroma ikan goreng itu menyeruak sampai ke kamar Yusuf.


Yusuf yang sedang membereskan berkas-berkas pesantren ia merasakan perutnya sedikit lapar karena aroma ikan goreng yang sangat lezat.


Ia pun segera membereskan berkas berkasnya dan segera turun ke dapur, ia sangat bersemangat karena ia merasa sangat lapar.


''Ummi masak ikan goreng ya, wangi sekali mi.'' Yusuf yang mulai memasuki dapur betapa terkejutnya karena ia melihat Syifa lah yang sedang memasak ikan goreng itu.


''Syifa.'' Yusuf tertegun ia tidak bisa berkata-kata ia sangat bahagia saat melihat Syifa yang sedang berada di dapur namun, ia teringat kembali Syifa telah di lamar oleh sahabatnya sendiri.


''Ustadz cari ummi ya?'' ummi sedang ke depan untuk membeli sayuran lainnya dari mang sayur yang kebetulan lewat.'' Syifa menjelaskan.

__ADS_1


''Oh baiklah.'' andai saja kamu belum menerima lamaran Hanif aku sangat berharap kamu akan menerima lamaran yang akan aku katakan sendiri andai saja,'' Yusuf berbicara dalam hati.


''Ustadz?'' tanya Syifa kembali.


''Oh iya.'' Yusuf yang malah melamun ia tidak sadar malah terus berdiam diri di sana.


''Syifa aku ikut bahagia kamu telah menerima lamaran Hanif.''


Degh, seketika jantung Syifa terasa terhenti ia merasakan sakit yang Ustadz Yusuf rasakan karena memang di hati kecilnya ia sangat mencintai Ustadz Yusuf namun, mungkin ini yang terbaik.


''Terima kasih Ustadz.'' Syifa menyunggingkan senyumnya, betapa hatinya sedikit rapuh kali ini. Ia merasa telah membohongi Ustadz Hanif, tapi ia tidak ingin lebih menyakiti Ustadz Yusuf.


''Semoga kalian menjadi pasangan yang saling menyempurnakan, aku akan bahagia jika melihat mu bahagia Syifa.''


Syifa yang mendengar itu ia tidak bisa menyembunyikan air matanya, hatinya tak sekuat apa yang ia kira. Ia menangis dan segera menghapusnya dan menampilkan senyumnya pada Yusuf, ia tidak ingin Yusuf melihat dirinya menangis.


Namun tetap saja air matanya tak bisa Syifa sembunyikan dari yusuf.


''Kenapa kamu menangis Syifa? Bukankah kamu mencintai Hanif? Jawab Syifa? Apa kamu benar mencintainya? Yusuf benar-benar ingin mendengarnya.


''Lalu kenapa kamu menerima nya?'' bukankah pernikahan harus dilandasi cinta kamu tahu itu kan?'' Yusuf memberikan pendapatnya.


''Mungkin untuk mencintai kita bisa menentukan tapi untuk jodoh saya tidak bisa menentukan kepada siapa kita akan berjodoh.'' Syifa menundukkan kepalanya ia tahu maksud dari pertanyaan Yusuf.


Karena memang untuk saat ini, ia belum benar-benar bisa mencintai Hanif bahkan mungkin ia akan belajar untuk mencintainya tapi jika memang Hanif adalah jodoh yang tertulis ia akan berusaha mencintainya setelah ia menikah atau setelah ia benar-benar melupakan Ustadz impiannya.


''Seperti itu kah cara mu memandang? Yusuf tertawa kecil namun hatinya sangat sedih ia tidak menyangka akan jawaban apa yang akan ia dengar.


''Ustad saya minta maaf jika saya telah melukai hati Ustadz, tapi jujur saya tidak ingin jika saya merusak hubungan Ustadz dengan Ustadzah Nadia saya rasa ini keputusan yang tepat saya berharap Ustadz akan bisa melupakan saya dan mendapatkan calon istri yang lebih baik.'' Syifa tidak mampu berkata-kata lagi ia takut jika semakin ia berbicara ia akan lebih menyakiti hati Ustadz Yusuf.


Yusuf hanya terdiam ia dengan sangat jelas mengetahui mengapa Syifa menolaknya ia pun tersenyum dan kembali ke kamarnya.


Ummi yang telah selesai ia kembali ke dapur, ia tidak mendengar apa yang Syifa bicarakan dengan Yusuf.


''Wah sepertinya enak sekali, Yusuf pasti suka ikan goreng buatan kamu Syifa.'' Seru ummi yang segera membawa piring.


Ummi pun menata ikannya dan segera menghidangkan berbagai makanan di meja makan.

__ADS_1


Syifa dan arumi yang telah selesai mereka ijin pamit untuk ke kamar mereka karena sudah pukul setengah 7 mereka akan bersiap untuk ke madrasah.


''Makanlah dulu disini Syifa, Arumi lagian kalian belum makan.'' Ummi menyarankan.


''Tidak usah ummi, sepertinya kita makan di dapur pesantren saja ummi.'' Arumi menyetujui perkataan Syifa.


Namun di saat bersamaan abah pun datang dan menyuruh agar Syifa dan Arumi untuk makan bersama. Mereka tidak bisa menolak permintaan dari guru besarnya, akhirnya mereka pun makan bersama.


''Yusuf, Adi ayo turun nak kita makan!'' Teriak ummi dari lantai bawah.


Yusuf dan Adi pun keluar mereka duduk bersama.


Adi yang memang sosok pendiam tak banyak bicara dan duduk berdampingan dengan yusuf.


Sementara Yusuf ia sedikit gugup karena ada Syifa di sana, Ia sangat gugup meski ia sudah tahu jika Syifa berada di rumahnya.


Abah dan ummi yang melihat tingkah Yusuf mereka tersenyum, mereka sangat berharap jika anak mereka segera mempunyai pasangan.


''Andai aja ya mi anak kita sudah memiliki istri betapa lengkapnya keluarga kita.'' Sahut abah yang belum mengetahui jika Syifa sudah menerima lamaran Hanif.


Uhuk...uhuk....


Syifa dan Yusuf tersedak bersamaan mereka tidak menyangka dengan apa yang abah katakan.


Abah dan ummi tersenyum sedangkan Arumi yang mengetahui maksud dari kata-kata abah ia pun ikut merasakan jika abah menginginkan Syifa dan Ustadz Yusuf bersama.


''Minumlah nak,'' ummi memberikan air kepada Syifa,


Sementara Yusuf segera mengambil air yang berada di depannya.


Adi yang telah selesai sarapan pamit lebih dulu ia belum menyiapkan berkas-berkas yang akan di tandatangani oleh Yusuf, ia segera menaiki anak tangga tanpa banyak berbicara.


Setelah selesai makan Syifa dan Arumi membereskan meja makan dan berpamitan untuk segera ke kamar mereka.


''Abah kenapa godain Yusuf dan Syifa, kasihan kan mereka jadi terbatuk-batuk gitu.''


''Abah hanya ingin tahu perasaan mereka saja mi, ummi lihat kan kalau mereka memang sangat serasi.'' Abah tersenyum mengingat kejadian tadi ia sangat berharap jika Yusuf segera memiliki seorang pendamping.

__ADS_1


__ADS_2