
''Mas kenapa diam di sini panas lagian.'' Ucap Syifa yang kemudian duduk bersama Hanif.
''Aku hanya takut kamu nyariin aja, lagian aku senang disini jadi aku bisa lihat kamu ketawa bareng Arumi.''
Syifa hanya mengerucut kan bibirnya menurut nya tidak masuk akal menunggu seseorang yang sedang berbicara di tengah panasnya matahari.
''Bagaimana Arumi?'' tanya Hanif langsung pada intinya.
''Ya aku jelasin semuanya, lagian jika aku tutupin juga buat apa mas, aku gak mau Arumi salah paham sama hubungan kita.''
Hanif mengusap kepala Syifa dengan sayang lalu ia mengecupnya.
''Sini.'' ucap Hanif menyuruh Syifa agar lebih dekat dengannya.
''Gak mau mas. ini tempat umum.'' Tegas Syifa menolak permintaan Hanif.
Hanif terkekeh dengan ucapan Syifa padahal ia hanya ingin memeluk nya saja sebentar.
''Jadi kalau bukan di tempat umum kamu mau.''
''Mas mulai deh.'' Syifa kembali bersemu karena malu membuat Hanif kembali tertawa.
Lama mereka menghabiskan waktu di pantai mulai dari menaiki perahu, berfoto ria berjalan bersama bahkan lari-lari seperti sepasang kekasih yang baru saja pacaran.
''Mas aku capek kita mandi yu aku sudah lengket banget.'' Ucap Syifa yang kemudian berdiri dari duduknya.
''Ayo sayang.'' Hanif pun ikut berdiri dan berjalan meninggalkan pantai karena sudah sore.
Kini mereka telah dalam perjalanan untuk kembali ke penginapan setelah lama menghabiskan waktu bersama.
''Kamu capek yang?'' tanya Hanif menatap lembut wajah sang istri yang kini terlihat memerah karena lamanya di bawah sinar matahari.
''Iya mas aku pengen tidur.'' Ucap Syifa yang membenahi duduknya untuk segera tidur.
sementara Hanif ia pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang karena mereka hanya akan menghabiskan waktu hanya sekitar dua puluh menit perjalanan.
Tak berselang waktu perjalanan akhirnya mereka pun telah sampai di penginapan yang akan mereka habiskan satu malam lagi karena besok pagi mereka akan kembali untuk pulang.
''Yang.'' Hanif mengusap lembut wajah Syifa agar bangun karena ia tertidur selama perjalanan menuju penginapan.
Syifa mengerjapkan mata nya ia masih mengantuk.
''Yang kita sudah sampai.'' ucap Hanif yang masih setia mengusap pipi mulus istrinya.
Syifa pun menggeliat ia merasa badannya sangat pegal.
__ADS_1
''Udah sampai.'' Syifa mengulangi perkataan Hanif dan kini menatap wajah Hanif yang tersenyum kearah dirinya.
''Ya udah, kita turun.'' Syifa hendak membuka pintunya.
''Masih pusing gak? biar kita diam dulu sebentar.'' Pinta Hanif karena takut nya Syifa masih pusing.
''Enggak ko mas.'' Jawab Syifa yang langsung membuka pintu di samping nya dan menunggu Hanif di luar.
.
.
Kini mereka telah berada di kamarnya dan siang malam telah berganti.
Syifa kini tengah menatap langit malam di balkon.
Hanif yang selesai shalat isya ia pun menghampiri istrinya yang kini masih berdiam di luar.
''Tidak baik diam di luar ini sudah malam nanti kamu masuk angin.''
Syifa hanya tersenyum menanggapi perkataan Hanif ia sangat menyukai langit malam karena menatap langit malam ia selalu merasa tenang.
''Mas.'' Ucap Syifa yang masih menatap langit malam.
''hmm'' jawab Hanif dengan gumaman.
''Kenapa Sayang?''
''Aku takut kita berpisah.'' Lirih Syifa pelan namun matanya masih menatap Hanif ia ingin mendengar jawaban dari lelaki yang kini menjadi suaminya.
Hanif tersenyum ia tahu arah pembicaraan Syifa .
''Tak perlu kita takutkan hanya dengan doa kita akan selalu bersama. Aku sendiri tidak ingin berpisah dengan kamu tapi bukankan kerinduan akan menambah rasa cinta di antara kita.''
Perlahan Hanif merangkul Syifa ia pun memeluknya dan menatap langit malam yang begitu menenangkan.
''Apa besok kita akan pulang?'' Tanya Syifa yang masih berada dalam pelukan Hanif. Ia mulai menikmati pelukan yang Hanif berikan.
''hmmm sepetinya begitu, lagian ummi tadi telpon karena kita pergi tidak memberi tahu ummi terlebih dahulu.'' Ucap Hanif yang mengatakan sebenarnya.
Syifa hanya mengangguk ia sendiri tidak ingin membuat mertuanya khawatir.
Lama mereka berdiam di luar dan menikmati udara malam yang tak pernah mereka bayangkan.
Pagi Hari.
__ADS_1
Syifa masih terlelap padahal jam kini tengah menunjukan pukul enam pagi.
Hanif yang sudah bersiap ia pun kini membangunkan Syifa karena sebentar lagi mereka harus kembali pulang.
''Yang ayo bangun ini sudah siang.''
Syifa menggeliat ia merentangkan tangannya karena merasa pegal.
''Sudah pagi ya, aku masih ngantuk mas.'' Ucap Syifa menarik kembali selimut yang kini ia gunakan.
''Ayo bangun lagian kita akan pergi dulu ke suatu tempat.''
Syifa pun akhirnya mau tak mau ia pun bangun dengan mata yang masih terpejam.
''Iya aku bangun.'' Sahut Syifa laku berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Hanif yang kini sedang menelpon seseorang.
Dua puluh menit berlalu akhirnya Syifa kini telah selesai mandi dan segera mengambil beberapa pakaian yang akan ia pakai.
Syifa pun kembali ke kamar mandi karena ia tidak bisa berganti pakaian di depan Hanif.
''Yang sudah selesai?'' teriak Hanif yang kini kembali ke kamarnya.
''Sudah. Tapi sebentar aku belum pakai make up. Ia pun memoles wajahnya dengan make up tipis dan memakai lipstik berwarna merah muda.''
Mereka pun telah siap dan segera mengemasi barang untuk segera pulang.
''Kita makan dulu ya di bawah.'' Ajak Hanif yang langsung menyimpan barang bawaan nya ke dalam mobil sementara Syifa ia menunggu Hanif di lantai bawah karena mereka akan makan terlebih dahulu.
Hanif yang telah kembali ia pun tersenyum ke arah Syifa yang kini setia menunggunya tanpa sedikitpun memakan makan yang kini telah ter hidang.
''Kenapa kita harus buru-buru sih mas, kan baru juga jam tujuh pagi.'' Gerutu Syifa karena ia merasa sangat tidak nyaman.
''Gak apa-apa sayang lagian kita tidak akan langsung pulang, kita akan pergi dulu ke suatu tempat.'' Ajak Hanif yang tidak memberi tahu kemana mereka akan pergi.
''Memangnya harus selagi ini?'' tanya Syifa yang mulai menyendok kan makanan ke piring suaminya.
''Iya sayang biar kita gak kena macet.''
''Memangnya kita mah kemana? apa berlibur lagi?'' tanya Syifa yang mulai bersemangat karena memang ia masih belum puas berlibur bersama suaminya.
Hanif tersenyum lembut ke arah Syifa yang kini masih setia menatapnya dengan wajah yang berseri ia sangat senang melihat ekspresi Syifa yang menurutnya sangat menggemaskan.
''Kamu akan tahu nanti.'' Ucap Hanif yang kemudian memakan makanan nya dengan lahap.
''Kamu romantis banget sih mas, aku kayaknya gak bakalan bosen-bosen jika terus sama kamu.'' Gumam Syifa yang masih menatap Hanif.
__ADS_1
Ia merasa sangat beruntung mendapatkan suami yang selalu membuat harinya berwarna.
......................