Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 126


__ADS_3

Syifa segera berlari ke arah kakak sepupunya meski tak dapat di pungkiri jika dirinya sedikit terkejut dengan kehadiran Andrian apalagi melihat kondisi yang sangat mengenaskan.


''Kakak.'' Syifa berkata dengan lirih namun bukan nya Andrian berkata atau membiarkan Syifa berbicara kini tubuh Syifa ia tarik ke dalam pelukan nya.


Andrian memeluk erat tubuh adiknya ia merasa sangat bersalah.


Syifa hanya terdiam ia tidak mengerti kenapa Andrian seperti ini padanya bahkan ia juga tidak mengerti dari mana kakak nya bisa mendapat luka di kepalanya.


''Aku minta maaf dek.'' Lirih Andrian di sela-sela keheningan kini Andrian melepas pelukan nya dan berbalik menatap wajah sang adik sepupunya.


Sementara Syifa ia mengernyit bingung kenapa Andrian datang-datang dan meminta maaf padanya.


''Kita duduk dulu yuk kak.'' Syifa mengajak Andrian untuk duduk bersamanya di kursi yang berada di taman tak jauh dari mereka berdiri.


''Kakak kenapa terluka seperti ini?'' Syifa mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di dalam pikiran nya.


Andrian hanya tersenyum ia merasa Syifa tidak pernah berubah ia selalu nampak ceria bahkan ia tak pernah mengungkit masalah pribadi nya bahkan di saat dirinya di perlakukan dengan tidak baik ia menutupi semuanya bahkan bersikap baik di depan istrinya membuat Andrian merasa malu pada Syifa.


''Hanya kecelakaan kecil dek, kamu apa kabar?'' tanya Andrian mengalihkan pembicaraan.


''Astagfirullah harusnya kakak di rawat di rumah sakit. Jangan bilang kakak kabur.'' Syifa menatap curiga bagaimana Andrian bisa menemuinya padahal dirinya harus nya mendapat penanganan.


''Aku ini seorang dokter ya bebas lah dek mau gimana juga aku udah baik ko.'' Andrian tersenyum hambar. Meski sebenarnya ia masih merasa sakit tapi ia merasa tidak tenang jika belum menuntaskan keinginan nya. Apalagi Andrian sadar jika dirinya pergi tanpa pamit pada istrinya. Bagaimana pun perlakuan Nadia di masa dulu membuatnya geram tapi ia masih sayang bahkan jika semuanya sudah selesai ia akan kembali pada Nadia. Andrian tidak bisa egois bayi di dalam kandungan Nadia membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah. Bahkan bukan hanya bayi nya saja. Nadia sendiri membutuhkan dirinya.

__ADS_1


''Kakak itu gimana dokter apa nya. Pada diri kakak sendiri udah seperti ini apalagi sama pasien mu nanti. Jangan-jangan kakak dokter gadungan kali.'' Kesal Syifa karena melihat Andrian yang terlihat santai padahal dirinya ingin sekali mencubit Andria tapi ia tidak sampai hati bagaimana ia bisa mencubit lelaki itu di saat luka di sekujur tubuh nya menyakiti dirinya.


Air mata Syifa seolah ingin keluar ia menengadahkan pandangan nya berharap air mata itu tidak keluar.


''Aku minta maaf dek sangat minta maaf karena aku tidak bisa menjaga kamu.'' Andrian kembali menyampaikan maksud nya.


''Jelas kakak gak bakalan bisa jaga aku sampai kapan pun. Menjaga diri saja kakak sudah tidak mampu bagaimana kalau kakak menjaga aku.''


Hening seketika.


Syifa merasa sangat kesal andai saja ia tidak berada di dalam lingkungan pesantren ia ingin sekali mengingatkan pada lelaki itu berapa ia ingin mengeluarkan kekesalan nya.


''Kenapa kamu gak pernah cerita dek jika dulu kamu pernah di perlakukan tidak baik oleh istri kakak.'' Andrian kembali bersuara ia menatap wajah Syifa dengan perasaan yang sulit Syifa artikan.


Kini Syifa tahu kenapa kakak nya datang menghampiri dirinya karena itulah sebab nya.


''Untuk apa kak. Aku sudah memaafkan Ustadzah Nadia.'' Syifa sendiri ia kini menatap wajah kakak sepupunya.


''Aku tidak habis pikir dek, kenapa dengan sangat mudah nya kamu memaafkan dia, bahkan karena dia juga kamu tidak menikah dengan Yusuf lelaki yang Nadia katakan jika kamu dan dia saling mencintai.


Syifa menarik napasnya panjang ingatan nya seolah di tarik ke masa lalu yang membuat nya merasa sedih meski kini ia tidak merasa sedih bahkan ia sangat bersyukur dengan kehidupan yang saat ini ia miliki.


''Bukan kah kita akan merasa tenang jika kita menyimpan dendam? Aku memaafkan nya bukan aku melupakan kesalahan nya dan bukan berarti aku masih menyimpan rasa kecewa ku pada nya kak. Aku tahu jika Ustadzah Nadia tidak sengaja menyakiti aku. Aku tahu semua itu adalah takdir yang Allah berikan pada aku. Aku menerima nya kak dan aku juga sudah memaafkan istri kakak.'' Syifa tersenyum pada Andrian meski sang kakak terlihat sedang manahan emosi nya.

__ADS_1


''Tapi bagaimana bisa kamu menikah dengan Hanif dek. Bukan kah kamu mencintai dia dan dia juga mencintai kamu. Kakak harap-'' Belum juga Andria menyelesaikan nya Syifa sudah lebih dulu memotong perkataan nya.


''Aku tidak akan mengecewakan suami aku kak. Aku sudah melupakan cinta sesaat ku pada ustadz Yusuf dan aku hanya mencintai suamiku. Seperti halnya kakak mencintai Ustadzah Nadia seperti itu juga aku mencintai nya.''


''Aku tidak seperti itu dek aku memang mencintai nya tapi aku kini merasa ada sesal di dalam hati aku.'' Lirih Andrian.


Andrian menarik napasnya panjang seolah ia merasakan sesak di dalam hatinya.


''Aku juga pernah merasa kesal pada ustadzah Nadia tapi rasa kesal ku tidak membuat aku menjadi tenang justru dengan memaafkan kini aku merasa sudah terlepas dari beban yang selama ini menghimpit jiwa aku.''


Andrian melirik ke arah Syifa ia tahu jika Syifa kini sedang mengingatkan dirinya agar tidak sampai salah mengambil langkah meski dirinya sendiri merasa tidak mampu jika harus melepas Nadia ia tetap ingin bersama istrinya ia juga banyak berharap jika Nadia akan berubah.


''Sudah lah kak kasihan Ustadzah Nadia dia istri yang baik buka.Aku juga sampai iri pada kalian yang selalu terlihat mesra sedangkan aku kini malah berjauhan dengan suami aku.'' Ucap Syifa mengalihkan pembicaraan berharap Andrian r


tidak mengungkit masalah yang menurut Syifa semuanya sudah beres.


''Ya kakak tahu. Nadia memang istri yang baik. Tapi kamu jauh lebih baik dek. Kamu bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan sangat mudah nya bahkan kamu menutup rapat kejadian itu dari kakak. Maafkan istri kakak ya.'' Andrian kembali merengkuh tubuh kecil adik sepupunya dengan perasaan sedikit lega.


Syifa hanya tersenyum ia tidak bisa menolak perlakukan dari kakak sepupunya meski ia tahu tidak seharusnya ia menerima pelukan dari lelaki lain.


''Kapan kakak ke sini? lalu mana mobil kakak?'' tanya Syifa setelah ia sadar jika ia tidak melihat mobil yang terparkir di depan kediaman abah.


Andrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia merasa bingung harus berkata apa.

__ADS_1


''Lagi di servis.'' Ucap Andrian berbohong mana mungkin ia berkata jujur mungkin Syifa akan terkejut jika mobil nya sudah seperti rongsokan yang tak bisa ia pakai lagi.


......................


__ADS_2