Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 68


__ADS_3

Pagi-pagi yang cerah Hanif yang yang masih berada di kamarnya dengan Syifa entahlah kini mereka seakan terbuai akan sentuhan yang mereka berikan untuk ke dua kalinya mereka melakukan penyatuan.


''Kamu capek Sayang?'' tanya Hanif yang kemudian memeluk erat tubuh Syifa yang terlihat lelah karena ulahnya.


Syifa bersemu merah ia tidak menjawab pertanyaan Hanif dan kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik suaminya itu.


Aroma yang begitu ia sukai entah sejak kapan Syifa mulai menyukai wangi yang selalu mengusik jiwanya. Dan entah sejak kapan ia selalu merasa nyaman saat berada di dalam pelukan sang suami.


''Kamu mau tidur lagi sayang?'' tanya Hanif yang memainkan rambut panjang milik Syifa.


Syifa pun menengadahkan pandangannya dan menatap wajah teduh suaminya itu seutas senyum terlihat dari sudut bibirnya yang membuat Hanif kembali mencium bibir istrinya itu.


Perlahan Hanif melepas kembali dan menatap wajah sang istri yang terlihat malu.


''Mas gak capek?'' tanya Syifa yang mengeratkan pelukannya ia sebenarnya merasa sangat malu namun entah kenapa suaminya selalu melakukan apa yang membuatnya merasa malu.


''Aku menyukainya.'' Hanif tersenyum ke arah wanita yang masih saja memperhatikannya.


''Ini sudah siang mas, aku malu gak bantu ummi masak lagi.'' Tutur Syifa yang merasa tidak enak karena belum juga membantu pekerjaan rumah selayaknya menantu idaman.


''Gak ala-apa sayang, masih ada hati esok.'' Tutur Hanif santai ia merasa orang tuanya tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti itu karena mungkin mereka sendiri pernah mengalami saat-saat seperti dirinya.


Syifa hanya tersenyum menanggapi jawaban yang Hanif berikan ia merasa jika Hanif pribadi yang tak terlalu memusingkan hal-hal sepele.


''Mas apa kita akan disi saja, aku masih merasa sedikit bosan jika di rumah. Mungkin aku belum bisa beradaptasi.'' Ucap Syifa mengutarakan perasannya.


''Kalau begitu bagaimana kalau nanti siang kita jalan-jalan?'' tutur Hanif memberikan saran.


''Benarkah? kita kemana?'' tanya Syifa antusias. Ia sangat senang karena kini Hanif akan mengajaknya untuk pergi jalan-jalan.


''Kamu maunya kemana?'' tanya Hanif kembali bertanya pada Syifa.

__ADS_1


''Mmmm aku ikut mas aja kemana aja yang penting berdua.'' Ucap Syifa menggoda Hanif.


Hanif pun menggelitik Syifa dengan bebas ia sangat gemas karena perlakuan Syifa pada dirinya.


''Mas hentikan.'' Ucap Syifa yang tidak tahan dengan sentuhan yang Hanif berikan ia pun cekikikan karena merasa geli.


''Mas nanti ngompol.'' Ucap Syifa mengancam karena Hanif tidak henti menggelitik badannya.


Akhirnya Hanif pun melepaskan Syifa dan meraih tubuh itu ke dalam dekapannya kembali.


''Istri nakal yah.'' Ucap Hanif yang kembali mendaratkan ciuman di puncak kepalanya.


Syifa tak bisa menahan tawanya karena di sebut sebagai istri nakal.


''Sembarangan aku udah sholehah seperti ini di bilang istri nakal.'' Ucap Syifa yang pura-pura kesal ia pun kembali mencubit pinggang suaminya hingga Hanif meringis kesakitan.


''Aw yang sakit banget.'' Ucap Hanif benar merasa sakit karena kuku Syifa yang panjang.


''Yang kuku kamu potong yah, aku takut kuku kamu nanti terluka karena terus cubit pinggang aku.'' Ucap Hanif menatap Syifa sedikit memohon karena pasalnya ia tahu Syifa bukan hanya kali ini akan mencubit dirinya sudah di pastikan hari-hati berikutnya akan terjadi lagi.


Syifa hanya tertawa mendengar perkataan suaminya itu mana ada kuku bisa terluka karena mencubit pinggang bukannya yang ada adalah sebaliknya.


''Gak mau sayang kuku nya baru di salon mas.'' Ucap Syifa cuek tanpa merasakan kesakitan yang Hanif rasakan.


Suara Hanif dan Syifa begitu terdengar sampai lantai bawah membuat ummi dan juga abi geleng-geleng kepala.


Mereka tidak menyangka jika Hanif ternyata dapat seperti itu biasanya Hanif terlihat kalem dan jarang berbicara bahkan terkesan pendiam namun sejak kehadiran Syifa di rumahnya kini Hanif terlihat sangat bahagia dan ceria membuat ummi dan abi sangat bersyukur karena kehadiran Syifa memberikan warna dalam kehidupan mereka.


''Andai saja Syifa sudah tidak sekolah rasanya ummi ingin sekali segera menimang cucu.'' Ucap ummi yang kemudian menyajikan berbagai makanan untuk sarapan pagi mereka.


Abi hanya tersenyum mendengar keinginan Ummi. Meski abi sendiri ingin sekali segera menimang cucu tapi abi tidak bisa memaksakan keinginan nya karena Syifa yang masih duduk di bangku sekolah mungkin memang lebih baik jika Syifa menunda dulu kehamilannya dan membiarkan Syifa dan Hanif menikmati dulu masa-masa pacaran setelah menikah.

__ADS_1


''Ummi harus sabar berikan mereka luang untuk bersama-sama memahami diri mereka sendiri dan yang paling utama mereka baru saja menikah.


Abi mengusap lembut punggung ummi yang kemudian duduk untuk makan bersama istri tercintanya.


Pernikahan abi dan ummi yang sudah terbilang jauh tapi tetap saja kemesraan tak pernah hilang dalam rumah tangga mereka abi pun menatap wajah lembut istrinya yang selalu setia menemaninya.


Ummi sengaja tidak memanggil Syifa dan juga putranya ia sengaja membiarkan Hanif dan Syifa menikmati keberadaan mereka yang merasakan indahnya pernikahan.


Setengah jam berlalu akhirnya Syifa dan Hanif turun dari kamar mereka dengan pakaian yang terlihat rapih.


Syifa pun berjalan di belakang Hanif yang sedang menuntun lengannya.


Terlihat ummi dan juga abi yang sedang duduk di kursi keluarga.


''Anak ummi baru keluar.'' Tutur ummi yang menampilkan senyumnya membuat Hanif dan juga Syifa menjadi salah tingkah.


''Ummi dan abi sudah makan?'' tanya Hanif yang kemudian menghampiri ummi nya.


''Ummi dan abi sudah makan, kalian makanlah dulu ummi sudah menyiapkan makanan di meja untuk kalian berdua.'' Tutur ummi yang menatap lembut sepasang pengantin baru itu.


''Terima Kasih ummu.'' Syifa pun tersenyum meski ia merasa sedikit malu karena tidak membantu pekerjaan rumah karena ulah Hanif yang ia lakukan.


Ummi hanya tersenyum ia sangat mengerti apa yang Syifa pikirkan.


''Iya sayang, ayo sana kamu makan dulu ajak suamimu agar makan lebih banyak kalian butuh tenaga yang cukup banyak untuk memberikan ummi seorang cucu.''


''Ummi,'' abi menatap wajah istrinya dengan lembut.


Sementara Hanif dan Syifa mereka malah salah tingkah. Syifa bahkan belum memikirkan untuk memiliki seorang anak karena mereka saja baru saling membuka diri untuk saling mengenal jauh dan apalagi Syifa yang masih sekolah. Justru Hanif sudah memikirkan untuk menunda kehamilan Syifa ia tidak ingin jika Syifa hamil di saat ia masih bersekolah membuat dirinya mendapat penilaian buruk dari teman sekolahnya atau lingkungan pesantren dimana ia mondok karena memang pernikahan mereka tidak di ketahui banyak orang hanya keluarga terdekat saja yang mengetahui jika Hanif dan Syifa telah menikah.


Bahkan Hanif tidak memberi tahu keluarga abah ia belum siap memberi tahu kabar pernikahan mereka. Hanif telah memikirkan kapan ia akan memberi tahu mereka mungkin di saat Syifa akan kembali pondok saat itulah Hanif akan berterus terang kepada keluarga abah agar terhindar dari fitnah.

__ADS_1


......................


__ADS_2