
Hanif kembali menjalankan mobil nya ia sengaja mengajak Syifa ke penginapan yang selalu ia sewa saat berkunjung ke Bandung karena dengan begitu ia sedikit leluasa menghabiskan waktu bersama Syifa apalagi jarak antara hotel tempat dimana Yusuf akan menikah dengan penginapan mereka tidak terlalu jauh membuat Hanif merasa sedikit senang karena tidak perlu menghabiskan banyak waktu saat nanti ia akan pergi ke pernikahan sahabat nya itu.
''Mas ko tahu jika Ustadz Yusuf akan menikah?'' tanya Syifa baru menyadari padahal dia sendiri belum memberitahu Hanif.
''Iya dong. Mas di kasih tahu sama Yusuf dan mas sengaja langsung jemput kamu biar kita bisa barengan kan lebih enak pas sekali kan kamu sudah selesai juga ujian nya.'' Hanif menatap sekilas Syifa dan kembali menatap jalanan.
Syifa hanya menganggukkan kepala ia melupakan jika Ustadz Yusuf dan suami nya memang sahabat sejak dulu.
''Kamu sudah makan?''
''Udah tadi pagi.'' Kekeh Syifa karena sejak tadi pulang ia langsung mengemasi barang bawaan nya hingga melupakan makan siang nya bahkan di saat ia lapar namun kedatangan Hanif membuat rasa lapar yang sejak tadi ia rasakan menjadi hilang seketika.
''Kebiasaan. Ya sudah kita makan dulu.'' Hanif segera berhenti di sebuah rumah makan Sunda karena memang pas sekali ia melihat jadi teringat ia sendiri yang merasa lapar.
Hanif memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan Sunda yang terlihat sederhana. Namun rumah makan itu ramai dengan pengunjung. Hanif segera turun dari mobil sementara Syifa ia sudah lebih dulu turun darinya.
Syifa segera masuk di ikuti oleh Hanif dan segera memesan makan sesuai kesukaan mereka.
Hanif yang menyukai olahan ikan apalagi ikan bakar ia segera memesan ikan bakar dengan ukuran yang besar dan juga teh tawar yang harus selalu ada di setiap ia makan hidangan khas sunda.
Sementara Syifa ia memesan ikan balado dan juga beberapa menu makanan lain nya.
Mereka pun memakan makanan yang kini sudah terhidang di depan mereka.
''Pelan-pelan yang.'' Hanif menatap ke arah Syifa yang makan begitu lahap nya. Entah Syifa memang lapar atau memang ia sangat suka makanan nya namun bersama seperti ini seperti impian yang sudah sejak dulu Hanif harapkan.
__ADS_1
.........
Beberapa menit telah berlalu kini mereka kembali melanjutkan perjalanan apalagi Hanif belum istirahat membuat ia merasa sangat lelah.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja kini mereka telah sampai di penginapan di mana dulu Syifa menghabiskan waktu di sana saat kunjungan pertamanya bersama Hanif setelah menikah.
Tempat yang sangat sejuk dengan beberapa pohon yang berada di sana membuat suasana yang terasa begitu menenangkan.
''Mas kenapa kita ke sini? kenapa gak sekalian di hotel saja?'' Tanya Syifa pada Hanif.
Syifa memang suka dengan suasana yang tidak terlalu ramai dengan orang lain apalagi penginapan yang sedikit jauh dari lingkup kota membuat ia merasa sedikit tenang di tambah fasilitas yang cukup membuat Syifa merasa tenang. Tapi meski begitu ia merasa heran kenapa Hanif memilih tempat ini yang di jadikan ia tempat untuk istirahat padahal hotel dimana Arumi akan menikah adalah hotel yang memiliki kapasitas besar untuk menampung banyak orang dan jika mereka di sana membuat Syifa tidak akan menghabiskan banyak waktu untuk pulang pergi ke sana.
''Gak apa-apa mas suka di sini. Apalagi tidak banyak orang yang menginap di penginapan ini hanya orang-orang yang ingin ketenangan memilih untuk menginap disini.'' Jawab Hanif segera mengeluarkan beberapa barang miliknya dan juga milik Syifa.
Syifa mengerti akan hal itu dan memang benar dugaan nya jika suaminya menyukai tempat yang jauh dari keramaian.
Hanif dan Syifa kembali berjalan ke kamar mereka bahkan kamar yang akan mereka tempati adalah kamar yang pertama kali Syifa tinggal di sini membuat Syifa mengingat masa-masa itu apalagi saat itu ia menginap di sana dengan ummi dan juga abi.
''Kamu enggak suka yang?'' tanya Hanif karena Syifa sejak tadi tidak banyak berbicara membuat Hanif sedikit berpikir jika Syifa tidak menyukai ide nya untuk menginap disini.
''Enggak ko mas aku hanya mengingat saat kita pertama ke sini. Apalagi saat itu kita bersama ummi dan juga abi.'' Syifa berkata jujur karena memang itulah yang kini ia rasakan.
Hanif menyimpan beberapa barang nya tanpa membereskan ia langsung saja membaringkan tubuhnya karena lelah membiarkan Syifa yang sedang berada di luar menikmati udara siang hati di sana.
Syifa masuk ke dalam kamar nya ia mencari sosok suaminya yang menghilang sejak tadi mereka ke sana.
__ADS_1
''Mas.'' Panggil Syifa karena tidak menemukan keberadaan suaminya.
Syifa berjalan ke kamar nya dan mendapati Hanif sedang tertidur pulas. Membuat Syifa tersenyum simpul ia menatap wajah tampan suaminya yang terlihat lelah.
Syifa segera membenarkan posisi tidur suaminya karena Hanif tertidur dengan kaki yang turun ke bawah ranjang. Namun belum juga ia membetulkan posisi tidur Hanif kini tangan nya sudah di pegang oleh Hanif membuat Syifa tersenyum namun ia sedikit kaget karena kini Hanif terbangun bahkan ia tersenyum menatap Syifa membuat jantung Syifa berpacu dengan cepat.
''Mas.'' Syifa berkata dengan sedikit gugup karena Hanif kini menarik dirinya dan memeluk Syifa dengan sangat erat.
''Ya.'' Jawab Hanif namun matanya kembali ia pejamkan.
Hanif sangat menyukai kegugupan Syifa ia hanya ingin menikmati hari-hati seperti ini dengan Syifa.
''Aku mau mandi.'' Cicit Syifa karena kini dirinya tak bisa sedikit pun bergerak karena Hanif memeluknya dengan sangat erat.
''Istirahat lah dengan ku, aku ingin tetap seperti ini.'' Hanif tak sedikit pun membiarkan Syifa bangun bahkan di menit-menit selanjutnya ia tertidur pulas dengan tangan yang masih memeluk istrinya.
Membuat Syifa hanya bernapas panjang. Meski sebenarnya ia sendiri merasa nyaman namun entah kenapa dengan perlakuan Hanif seperti tadi membuat Syifa kembali merasa gugup.
Syifa menatap wajah Hanif kembali yang terlihat sudah tertidur dengan pulas bahkan terasa hembusan napas dari suaminya dengan teratur membuat Syifa yakin jika Hanif memang sangat lelah sehingga dengan mudah suaminya kembali tertidur. Perlahan wajahnya ia dekatkan ke wajah tampan Hanif ia mengecup Hanif dengan pelan takut membuat Hanif kembali terbangun. Ada rasa bahagian yang kembali ia rasakan Syifa benar-benar sangat senang bahkan sejak ia bertemu kembali dengan Hanif meski sempat ia merasa sedih berpisah dari teman-teman nya. Tapi perjalan hidup memang harus berlanjut setiap orang akan menjalani kehidupan nya masing-masing. Begitu juga dengan dirinya. Syifa hanya perlu belajar menata diri dan menjadi seorang istri yang patuh pada suaminya.
Ia hanya berharap kebahagian seperti ini akan selalu ia rasakan di dalam rumah tangga nya dan selamanya bahagia bersama Hanif suami nya.
Lama Syifa menatap wajah suaminya membayangkan kehidupan yang akan ia jalani bersamanya hingga membuat dirinya ikut tertidur bersama Hanif.
......................
__ADS_1