
Syifa hanya mengangguk mendengar perkataan dari suami nya bagaimana pun Hanif mempunyai tanggung jawab yang lebih penting.
''Kamu mau makan apa sayang?'' tanya Hanif.
''Apa aja deh aku terserah mas.''
Hanif menatap ke jalanan dan memperhatikan sekeliling.
''Kita makan mie ayam aja yuk.'' Ajak Hanif pada Syifa yang langsung mendapat persetujuan dari Syifa.
Dengan cepat Hanif segera berhenti di depan kedai bakso yang menyediakan mie ayam juga.
Perlahan Syifa segera turun dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam kedai.
Beberapa menit telah berlalu sejak Hanif memesan mie ayam dan duduk di depan Syifa.
''Mas ada sesuatu yang ingin mas bicarakan.'' Ucap Hanif sedikit serius.
''Soal apa?'' tanya Syifa yang tak kalah serius nya dari Hanif.
Hanif merogoh ponsel nya dan memainkan ponsel nya tak lama ia memberikan ponsel miliknya pada Syifa.
''Anak siapa mas, lucu sekali.'' Syifa tersenyum dan mengalihkan dari satu foto ke foto yang lain nya.
Syifa mengira jika kini suaminya menginginkan seorang anak. Memang setiap pasangan pasti menginginkan seorang anak di kehidupan mereka tapi bagaimana bisa Syifa sendiri masih sekolah walau sebentar lagi ia akan lulus.
''Kenapa malah melamun.'' Hanif menyodorkan sebuah mangkuk berisi mie yang baru saja ia terima dari seorang pelayan.
''Aku hanya memikirkan jika aku belum bisa menjadi seorang istri yang baik buat mas.'' Ucap Syifa merasa bersalah.
Hanif hanya tersenyum melihat Syifa yang salah menanggapi isi foto itu.
Syifa kembali menyodorkan ponsel milik suami nya ia melihat foto Hanif yang tersenyum memangku dia bayi bersamaan ''Sangat menggemaskan.'' Ucap Syifa menaruh ponsel milik suami nya tanpa berniat lagi menanyakan siapa mereka.
''Kamu tidak ingin siapa mereka?'' tanya Hanif sesaat sebelum ia memakan mie.
''Hmm memangnya anak siapa?'' tanya Syifa tanpa rasa penasaran sedikit pun.
__ADS_1
''Adik mu.'' Ucap Hanif sambil tersenyum ke arah Syifa yang dengan lahap memakan mie milik nya.
Syifa segera menghabiskan makanan yang berada di dalam mulut nya bahkan ia hampir tersedak.
''Pelan-pelan sayang.'' Hanif mengingatkan.
''Maksud mas, mereka adalah adik ku?'' tanya Syifa tidak percaya.
Karena memang ayah dan ibu nya tidak memberikan kabar kelahiran adik nya apalagi ibu bilang jika adiknya akan lahir akhir bulan ini jika menurut perhitungan nya.
''Iya sayang. Kemarin malam Mas mendapat kabar dari ayah. Jadi mas sengaja memberi tahu agar kamu tidak dulu di beri tahu biar mas saja yang datang ke sini.'' Hanif tersenyum senang menatap Syifa.
''Ih ko gitu sih.'' Syifa tersenyum meski begitu ia merasa senang karena kini ibu nya sudah melahirkan dengan selamat.
Waktu telah berlalu Hanif dan Syifa segera kembali ke pulang karena Syifa akan melewati ujian lagi apalagi waktu istirahat sebentar lagi berakhir.
''Mas sudah kasih kado pada adik aku?'' tanya Syifa sedikit penasaran karena mengingat dirinya tidak membelikan sesuatu untuk adik nya.
''Sudah dong, mas sengaja beli stroller untuk mereka. lagian tidak mungkin ibu menggendong kedua nya.'' Kekeh Hanif membayangkan jika ibu mertuanya menggendong kedua adik nya.
''Laki-laki sama perempuan.'' Ucap Hanif dengan senyum lebar nya.
''Wah lucu nya. Aku ingin segera bertemu mereka.'' Syifa tersenyum lebar karena mengingat adiknya yang sangat menggemaskan apalagi saat berada di pangkuan suami nya membuat dirinya ingin segera menggendong adik kecilnya.
''Lalu siapa nama nya?'' tanya Syifa kembali.
''Muhammad Raffa dan juga Rania azzahra.'' ucap Hanif dengan senyum lebar yang kini menghiasi wajah nya.
''Wah bagus sekali namanya. Siapa yang buat nama itu yah pasti ibu.'' Ucap Syifa merasa yakin.
''Yah bisa jadi.'' Kekeh Hanif menutupi karena sebenarnya Hanif sendiri lah yang memberikan nama untuk kedua adik nya Syifa.
''Ko malah tertawa sih mas. Memangnya ada yang lucu?'' Syifa menatap Hanif seolah mengintimidasi.
''Enggak ko tinggal nanti kita juga persiapan nama untuk anak kita.'' Goda Hanif pada Syifa.
Syifa hanya tersenyum menanggapi perkataan dari suami nya.
__ADS_1
''Mas bisa aja. Soal nama sih gampang aku juga bisa. Memang nya mas bisa buat nama seindah nama adik ku.'' Jawab Syifa dengan datar nya.
''Bisa lah. Buat adik kamu saja bisa apalagi buat anak kita nanti.'' Kekeh Hanif membuat Syifa salah tingkah.
''Ih nyebelin mas. Kenapa lagian gak jujur.''
Mereka pun tertawa bersama ada rasa bahagia yang selalu Syifa rasakan ketika ia bersama suami nya bahkan obrolan kecil saja membuat Syifa merasa senang.
''Anak kita.'' Gumam Syifa pelan mengingat perkataan Hanif seolah suaminya sudah menginginkan anak dari dirinya. Seketika Syifa tersenyum bagaimana tidak mengingat anak membuat dirinya merasa sangat lucu dirinya sendiri masih belum lulus tapi Syifa sendiri berharap suatu saat nanti ia memiliki anak yang sangat lucu dan menggemaskan yang akan menemani dirinya.
Beberapa menit telah berlalu kini ia sudah sampai di depan pondok.
Syifa hendak membuka pintu mobil nya karena ia sudah hampir telat.
''Hati-hati jaga mata nya.'' Ucap Hanif mengingatkan.
Syifa tersenyum menanggapi perkataan suami nya dan segera keluar.
Terlihat sudah sangat sepi ia segera berjalan ke madrasah sebelum dirinya telat.
Waktu terasa lebih cepat dari sebelum nya Syifa merasa tidak ingin melewatkan hari nya bersama suami nya tapi kenyataan nya lagi dan lagi tetap sama ia hanya harus lebih sabar sampai ia akan seutuhnya bersama Hanif menjalani hari-hari yang selalu ia impikan.
Syifa segera masuk ke dalam kelas nya. Banyak para santri maupun santriwati yang saling berbisik membicarakan dirinya karena mungkin tadi ia berangkat bersama Hanif apalagi kedekatan Syifa dan Hanif tidak biasa di mata mereka. Namun Syifa seolah biasa saja. Syifa sudah tidak peduli dengan perkataan buruk pada dirinya karena bagaimana pun memang benar apa yang di katakan Hanif dulu padanya lambat laun hubungan mereka akan di ketahui banyak orang.
''Cie yang udah pacaran.'' Arin menggoda Syifa yang baru saja duduk di kursinya.
Syifa hanya tertawa kecil meski wajahnya terasa panas karena godaan dari Arin.
''Jadi Ustadz Hanif hanya pacar kamu fa?'' tanya salah seorang santri yang mendengar perkataan Arin.Karena diam-diam merasa kesal entah aoa uang membuat wanita itu terlihat sedikit sensi pada nya.
''Ya kalau pacar aku gimana?'' tanya dengan dingin menanggapi pertanyaan dari santriwati itu.
''Ya gak nyangka aja ya. Bagaimana bisa seorang laki-laki bergelar ustadz tapi malah pacaran gak bermoral sekali.'' Ucap wanita itu merasa puas karena dengan begitu secara tidak langsung ia sudah merendahkan kekasih dari Syifa.
Syifa hanya tertawa dengan tudingan itu ia berusaha bersikap tenang karena bagaimana pun memang salah dirinya sendiri yang menimbulkan prasangka buruk di kalangan santri dan santriwati.
......................
__ADS_1