
''Assalamualaikum.'' Yusuf pun membuka pintu rumahnya ia terkejut saat abah nya ternyata sedang duduk di kursi tamu.
''Abah belum tidur?'' tanya Yusuf dan menyalami abah nya.
''Waalaikumusalam, belum abah ingin bicara sesuatu sama kamu.'' jawab abah santai dan menyuruh Yusuf agar duduk.
''Iya bah apa yang ingin abah katakan, apa soal perjodohan itu lagi?'' tanya Yusuf sedikit menebak-nebak.
''Abah tidak akan memaksa kamu, abah pun sudah melamar Syifa untuk mu sekarang semua keputusan ada di tangan kamu, abah dan ummi hanya sedikit khawatir jika Nadia berulah kembali, apalagi dia dengan terang-terangan mengatakan jika dia mencintai mu.''
''Lalu sekarang abah maunya aku seperti apa? Abi Husein dengan sendirinya meminta aku agar segera menikahinya bisakah abah memberi aku ruang sebentar bah,'' lirih Yusuf ia benar-benar tidak bisa berpikir karena seseorang yang sangat ia cintai kini telah memilih sahabatnya sendiri.
''Bukannya abah tidak ingin, tapi kapan kamu akan segera mengambil keputusan yus, abah ini sudah tua dan mungkin pesantren ini pun kamu yang akan teruskan semuanya abah sudah serahkan sama kamu yus.''
Yusuf yang mengerti perasaan abah nya tapi kali ini memang benar apa yang di katakan abah ia tidak boleh egois, ia tahu jika ke khawatiran abah nya itu memang jelas.
''Aku akan segera menikahi Nadia bah.'' jawaban itu lolos dari mulutnya.
''Apa abah tidak salah dengar? Lalu bagaimana dengan Syifa? Bukankah kamu mencintai Syifa? dan abah rasa kalian memang saling mencintai, abah harap kamu tidak salah dalam menentukan pilihan yus.''
''Aku akan menikahi Nadia bah tapi...'' ucapan Yusuf terhenti lidahnya terasa kaku untuk mengatakannya.
''Tapi apa? Apa Syifa telah menjawab lamarannya?'' Abah menanyakan dengan sedikit serius abah merasa tak mungkin jika Syifa menolak lamarannya.
''Syifa menolak lamaran ku bah,'' Yusuf tertunduk ia sangat mencintai Syifa dan ia sangat berharap Syifa akan menerima nya tapi apa daya kini ia memilih sahabatnya.
Sementara abah yang tahu perasaan Yusuf ia menarik nafasnya dan mengusap pundak Yusuf seakan mengingatkan semua itu akan baik-baik saja.
''Abah hanya tidak ingin jika kamu salah dalam memilih yus, tapi ini semua keputusan mu abah akan mendukung apa yang menurut mu itu yang terbaik.'' Abah pun tersenyum dan kembali mengusap pundak Yusuf.
__ADS_1
''Insya allah bah, jika memang Nadia jodohku insya allah, semuanya akan ada jalannya,aku hanya berdoa siapa pun itu yang akan menjadi jodohku semoga ia adalah wanita yang sholehah.''
''Aamiin yus doa abah akan selalu menyertaimu, ya sudah kamu Istirahat terlalu banyak beban yang kamu pikul sendirian.''
Abah pun mengusap pundak Yusuf dan berlalu ke kamarnya.
Yusuf pun naik ke kamarnya ia belum ingin menceritakan kenapa Syifa tidak bisa menerima lamarannya karena ia sendiri sangat tidak menyangka kenyataannya akan menjadi seperti ini.
.
.
Hanif yang sedang berbunga-bunga hatinya, ia sangat bahagia ia ingin segera membawa Syifa dan mengenalkannya pada ummi dan Abi nya ia tidak sabar untuk segera meresmikan lamarannya.
Hanif adalah anak tunggal dari keluarga Abi Abdullah dan ummi kulsum ia adalah keturunan orang Arab karena Abi Abdullah adalah adalah asli keturunan Arab dan menikah dengan ummi kulsum yang memang berasal dari Indonesia dan mereka menetap di Indonesia.
Abi Abdullah mendirikan pesantren yang terbilang lebih besar dari pesantren milik keluarga Yusuf, namun Hanif tidak pernah memberi tahu itu bahkan pada Yusuf, ia dari kecil selalu mondok di luar untuk mencari pengalaman dan ilmu yang luas dengan sendirinya Abi Abdullah lah yang mendukung itu sendiri, ia ingin jika hanif menjadi sosok pria yang mandiri.
Adzan subuh sudah berkumandang semua santri dan santriwati sudah berada di mesjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Hanif pun mengikuti shalat subuh berjamaah bersama Ustadz lainnya.
Setelah semuanya selesai ia segera keluar dan pergi ke kamarnya ia berniat untuk ke kantin dulu untuk mengganjal perutnya dan berangkat ke rumah abah untuk berpamitan pulang.
Abah yang sudah kembali ke rumahnya seperti biasa ummi selalu menyambutnya dan menyalaminya tidak lupa ummi menghidangkan secangkir kopi hangat kesukaan abah dan sedikit cemilan di pagi hari.
Tok...tok... tok....
''Assalamualaikum.'' salam Hanif di depan pintu rumah abah.
__ADS_1
Ummi yang mendengar seseorang mengucapkan salam, ia segera mendekati pintu dan membukanya.
''Waalaikumusalam, nak Hanif ayo silahkan masuk nak!'' ummi meminta Hanif untuk duduk si kursi depan selagi menunggu abah.
Abah pun tak lama datang dan duduk di depan Hanif.
''Tumben pagi-pagi ada apa nak?'' Tanya abah yang mempertanyakan kedatangan Hanif yang memang tidak biasanya datang di waktu yang sangat pagi.
''Saya mau pamit bah, ummi saya mau pulang dulu karena mendapat kabar jika Abi sekarang sedang sakit,'' Hanif menjelaskan kedatangannya.
Ummi dan abah yang mendengar penjelasan Hanif pun mengerti, mereka hanya tersenyum karena Hanif memang sangat sopan.
''Baiklah tapi kapan-kapan jika kamu mau mondok kembali datanglah, kamu tidak perlu sungkan, pintu pondok ini akan selalu terbuka untuk mu, dan sampaikanlah salam saya kepada Abi dan ummi mu semoga Abi mu segera mendapatkan kesembuhan aamiin.'' tutur abah pada Hanif.
''Baiklah ummi, abah saya pamit dulu assalamualaikum.'' Hanif pun menyalami ummi dan abah yang sangat Hanif hormati seperti kepada ummi dan Abi nya sendiri.
‘’Waalaikumsalam.''
Hanif pun keluar dari rumah abah dan segera pergi menggunakan mobilnya sendiri.
Yusuf yang telah mengetahui keberangkatan Hanif ia kembali mengambil alih mengajar di madrasah karena memang tenaga kerja pengajar di madrasah semua di lakukan oleh tenaga pengajar pesantren.
Pukul 06.00 telah tiba semua santri dan santriwati pun keluar dari masjid, dan seperti biasa mereka melakukan kerja bakti untuk membersihkan masjid dan area pesantren.
Syifa yang saat ini kebagian untuk membersihkan rumah abah dengan Arumi ia segera pergi ke rumah abah.
Tatapan Nadia yang melihat kemana Syifa pergi ia begitu kesal ia sangat benci pada Syifa yang menurutnya ia selalu mencari muka abah dan ummi.
Ia ingin sekali menghancurkan Syifa tapi setelah apa yang telah ia lakukan pasti dengan mudah ia akan di tendang keluar dari pesantren itu, bahkan sudah di pastikan ia tidak akan mendapatkan kesempatan itu kembali. ''Aku harus lebih hati-hati lagi untuk menghadapi bocah itu.'' seringai licik Nadia yang tidak pernah lelah ia akan benar-benar berhenti sampai apa yang ia inginkan tercapai.
__ADS_1
............