Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 152


__ADS_3

''Ummi Syifa kini sadar ia melihat ummi yang sedang menundukkan kepalanya.


''Nak, kamu sudah sadar.'' Ummi masih setia menggenggam lengan Syifa dengan mata yang sangat sembab.


''Dimana Ana ummi?'' tanya Syifa karena ia tidak melihat putri kecil nya.


''Ana sedang sama bi Lastri. Kamu jangan pikirkan Ana nak istirahatlah.''


''Ah.'' Syifa merasa sakit saat ia berusaha bangun.


''Istirahat sayang.'' Ummi tak kuasa menahan tangis nya meski begitu ia harus kuat untuk Syifa.


''Ummi.'' Syifa kaget saat mendapati perut nya sudah rata.


''Ummi kemana bayi ku ummi,'' Syifa sedikit histeris saat melihat perut nya.


''Sabar sayang,'' ummi memeluk Syifa yang kini menangis bahkan sangat terdengar memilukan.


''Kemana bayiku ummi.'' Tangis Syifa semakin melemah ada rasa sesak yang sangat dalam ia gak bisa merasakan apapun hanya sakit yang kini seolah menancap di dadanya.


...


Kini Abi masuk ke dalam ruangan Syifa dengan Hanif yang kini terduduk di kursi roda. Abi tidak memberitahukan Hanif ia khawatir jika Hanif akan terluka.


''Kita mau kemana abi?'' tanya Hanif karena abi nya terus saja mendorong Hanif.


''Abi harap kamu kuat han. Untuk nya.'' Ucap abi tanpa memperjelas perkataan nya.


Kini Abi membuka pintu ruangan Syifa dan menjadi dorong Hanif untuk masuk bersama nya.


Seketika Syifa yang sejak tadi menangis kini ia terdiam ia sangat kaget melihat kondisi suaminya yang terlihat sangat mengenaskan dengan luka di kepala nya juga tangan nya.


''Mas.'' Lirih Syifa ia kembali menangis melihat kondisi suaminya yang seperti itu.

__ADS_1


''Mas anak kita.'' Lirih Syifa di sela-sela tangis nya membuat abi dan ummi pun tak kuasa menahan air mata mereka.


''Mas.'' Ucap Hanif kaget dengan perkataan wanita yang kini memanggil nya dengan kata mas terlebih ia mengatakan anak kita.


''Maksudnya siapa dia abi?'' tanya Hanif pada abi dan ummi nya. Ia tidak mengerti kenapa abi nya mengantarkan dia ke ruangan wanita itu terlebih ummi nya sendiri berada di sisi wanita yang kini memanggilnya mas.


''Han ini Syifa istri kamu, kamu jangan bercanda han.'' Ummi semakin terisak dengan pertanyaan Hanif yang tak pernah ia bayangkan.


Seketika Syifa lemas mana mungkin suaminya melupakan dirinya di saat ia sangat membutuhkan dirinya.


''Tidak mungkin ummi, aku bahkan masih mencintai Lita. Mana mungkin aku menikahi dia.'' Tegas Hanif membuat Syifa semakin terluka.


''Hanif.'' Ucap ummi dengan linang air mata yang tak dapat ia tahan.


Abi segera membawa Hanif keluar dengan sekuat tenaga ia berusaha kuat abi segera membawa Hanif kembali ke ruangan nya untuk di periksa lebih lanjut.


...


''Anak bapa mengalami hilang ingatan di masa yang sekarang dan ingatan nya kembali ke masa silam dimana ia mencintai seorang wanita dan saat itu ingatan nya berakhir.''


''Kita bisa mengembalikan ingatan nya kembali hanya saja pasien membutuhkan dukungan dari setiap orang yang sangat penting dari hidupnya.''


Ummi pun tak kuasa menahan tangisnya bagaimana bisa putra nya mengalami hal seburuk itu.


''Kita yang sabar ummi kita pasti bisa mengembalikan ingatan Hanif kembali.'' Abi menguatkan ummi.


...


Sementara Syifa ia gak hentinya menangis bagaimana bisa ia bertahan dalam keadaan yang seperti ini di saat ia kehilangan calon bayi nya ia juga harus menerima kenyataan pahit jika suaminya melupakan dirinya dalam waktu yang bersamaan.


''Kami harus kuat sayang ibu yakin kamu mampu melewati semua ini.'' Mira mengusap puncak kepala putrinya meski ia sendiri merasa sangat sedih melihat kondisi putrinya seperti sekarang ini.


....

__ADS_1


Dua minggu sudah berlalu kini Syifa sudah berada di rumah abi kembali dengan Hanif yang sudah lebih membaik bahkan ia terlihat sudah jauh lebih baik hanya saja ia masih belum bisa menggerakkan tangan nya karena tangan nya mengalami patah tulang.


''Bunda Ana mau bobo sama ayah.'' Pinta Ana karena sejak Hanif kembali Ana tidak pernah tidur bersama ayah nya karena Hanif pun tidak mengingat siapa Ana. Ia hanya mengingat jika dirinya hendak melamar Lita dan yang ia ingat hanya abi dan ummi nya dengan dia asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja pada ummi dan abi nya.


Bahkan sejak Syifa kembali ke rumah Hanif tidak mengijinkan Syifa untuk tinggal di kamar nya dan tidak ingin dekat dengan Syifa karena ia rasa jika Syifa bukan istrinya.


''Ana sabar ya, ayah kan masih sakit nanti kalau ayah sudah sehat kita bobo sama ayah ya.'' Syifa mencoba menenangkan Ana yang sudah sejak kemari merengek ingin tidur dengan ayahnya.


''Tapi kenapa ayah tidak ingin Ana panggil ayah bunda.'' Ucap Ana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''Mungkin ana salah dengar ma a mungkin sayang, ya sudah Ana sekarang bobo sama bunda ya.'' Syifa mulai menidurkan Ana ia juga sangat berharap jika Hanif akan segera mengingat nya lagi.


Syifa merasa kebelet pipis ia berjalan keluar kamar saat Ana sudah terlelap tidur namun langkahnya terhenti saat mendapati Hanif yang kini berasa di dapur.


''Aku rindu kamu mas.'' Lirih Syifa bahkan air mata itu tak bisa ia tahan ia selalu ingin menangis ketika Hanif selalu menolak dirinya jika di ingatkan kalau Syifa adalah istrinya.


Hanif berusaha membuka mie dengan susah payah ia melakukan nya namun mie itu malah terjatuh.


''Biar aku bantu.'' Syifa mengambil bungkusan mie dan membuka kan untuk Hanif.


''Makasih.'' Ucap Hanif tanpa ingin memanjangkan obrolan mereka.


''Sama-sama mas.'' Syifa masih diam melihat Hanif yang mulai merebus mie namun ia sedikit kesulitan membuka bumbu mie nya.


''Biar aku bantu.'' tanpa menunggu jawaban Syifa langsung merebut bumbu mie dari tangan Hanif dan segera membukakan bahkan ia menyajikan di mangkuk yang akan Hanif gunakan.


''Makasih, kenapa kamu selalu membantu aku?'' tanya Hanif pada Syifa.


''Karena aku istri kamu mas.'' Ucap Syifa langsung.


''Berhenti bilang jika kamu istri aku. Aku tak pernah menikahi mu dan satu lagi berhenti memanggil aku dengan kata mas mu itu. Jika kamu masih menolong ku karena kasihan aku akan terima tapi tidak dengan alasan kamu istri aku.'' Hanif memunggungi Syifa ia bahkan selalu merasa pusing jika mendengar Syifa memanggil nya mas bahkan kepalanya selalu merasa sakit dengan ucapan yang Syifa berikan padanya.


Syifa menarik napasnya panjang bahkan kini ia merasa sangat sesak di dadanya andai saja jika Ia masih hamil setidaknya mungkin suaminya akan bisa mengingat dirinya atau jika saja Hanif tak hilang ingatan mungkin luka pada dirinya tak akan sedalam ini.

__ADS_1


......................


__ADS_2