
Yusuf terus tersenyum ia begitu bahagia saat mendengar apa yang di ucapkan Syifa meski mungkin itu tidak benar tapi ia merasa jika itu benar-benar yang ia rasakan.
Ada apa fa? Kenapa Ustadz Yusuf panggil kamu?'' Tanya Arin yang melihat Syifa menghampirinya.
''Enggak rin dasar Ustadz nyebelin.'' Syifa yang masih kesal di buat malu di depannya ia pun segera mengambil sapu dan mulai beres-beres.
Sementara Arin yang tidak mengerti ia menatap heran pada temannya itu.
''Eh ada Arin dan Syifa,'' sahut ummi yang baru keluar dari kamar abah.
''Iya ummi maaf kami langsung aja beres-beres, tadi ada Ustadz Yusuf yang beri izin kami masuk.'' jelas Arin pada ummi.
''Iya gak apa-apa ko, oh ya Syifa gimana kamu betah disini?''
Syifa tersenyum dan menjawab pertanyaan ummi.
''Iya umi Syifa betah disini.'' Tutur Syifa yang tersenyum manis pada ummi.
''Syukurlah, semoga kamu terus betah disini, kalau ada perlu sesuatu kamu gak usah sungkan bilang aja sama ummi atau sama abah.'' ummi yang memang ramah pada siapa pun membuat para santriwati sangat senang karena bagi mereka ummi itu seperti ibu mereka sendiri.
''Iya ummi.'' Syifa sangat bahagia karena ummi begitu baik padanya seperti sosok seorang ibu yang sangat Syifa rindukan.
‘’Syifa boleh ummi minta tolong?''
''Iya ummi.'' Syifa menghampiri ummi yang sedikit kerepotan karena ingin mengambil karung berisi beras dari luar dapur.
''Tolong panggilkan Yusuf dia ada di kamarnya di atas.'' Tutur ummi memberi tahu.
''Baik ummi'' Syifa pun segera menuju tangga sesuai dengan apa yang ummi perintahkan.
.
.
Sementara Nadia ia sedikit kebingungan ia hanya mondar-mandir memikirkan apa yang akan Yusuf lakukan, ''Apa ini keputusan yang tepat? kalau Yusuf menolak cinta aku, aku harus bagai mana? Aku sangat malu sekali.'' Lirih Nadia pelan, ia sangat merasa kebingungan.
Yusuf yang sedang berbunga-bunga ia melupakan kertas dari Nadia ia malah sibuk dengan ponselnya.
Apa aku berikan surat pada Syifa, aku benar-benar ingin tahu perasaannya mungkin akan lebih mudah jika aku mengetahui perasaannya dan mungkin perjodohan ini tidak akan pernah terjadi.
Yusuf yang sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Ia pun berniat untuk mandi agar menyegarkan badan, ia pun mulai membuka bajunya tanpa dia sadari pintu kamar yang masih terbuka memperlihatkan tubuhnya yang kini bertelanjang dada.
''Astagfirullah.'' Syifa pun segera membalikan badannya ia kaget karena ia melihat Ustadz Yusuf yang sedang tidak memakai baju dan memperlihatkan dadanya yang bidang dengan otot-otot yang atletis meski Ustadz Yusuf masih mengenakan celana kolor.
.
''Astagfirullah.'' Yusuf menepuk jidatnya. ''Betapa bodohnya aku, aku lupa kalau ada santri yang piket untuk membersihkan rumah.''
Yusuf pun segera mengenakan pakaian nya dan bergegas menghampiri Syifa yang masih diam membalikan tubuhnya.
''Ada apa?'' Yusuf sedikit kesal karena kelakuannya sendiri.
''Ustadz kenapa gak tutup pintu sih.'' Gerutu Syifa dengan nada sedikit kesal juga.
''Suka-suka saya ini kamar saya, lagian kamu mau apa kesini.'' jawab Yusuf dengan tak kalah ketusnya.
''Ih Ustadz saya tau, tapi Ustadz kan gak pakai baju, lain kali tutup pintunya.'' Syifa sedikit Tersulut karena Yusuf yang malah seperti menuduh Syifa salah.
Ummi yang mendengar suara perdebatan antara Syifa dan Yusuf pun segera pergi ke arah kamar putranya.
''Ada apa ini?''
Tanya ummi pada mereka berdua.
Ummi yang mendengar itu hanya tertawa kecil dan balik menatap Yusuf yang malu karena aduan Syifa padanya.
''Lagian kamu mau ngapain kesini?'' Tanya Yusuf tak mau kalah.
Namun sebelum Syifa menjawab ummi lebih dulu menjawab pertanyaan Yusuf yang di tujukan pada Syifa.
''Umi yang suruh Syifa buat panggil kamu, lagian udah sering ummi bilang kalau pintu kamar itu kunci Yusuf, untung saja Syifa cuma lihat gak pakai baju coba kalau Syifa lihat semuanya ummi nikahkan saja kalian.'' Seru ummi yang membuat mereka kaget.
Syifa dan Yusuf saling pandang lalu mereka memalingkan pandangannya kembali. Ummi yang baru pertama kali melihat kelakuan anaknya itu, Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
''Sudah-sudah ayo sini bantu ummi memindahkan karung beras, nanti kalau kalian sudah menikah ummi gak bakalan ganggu ko.'' Goda ummi pada Yusuf.
''Ummi.'' Syifa yang malu pun memperlihatkan wajahnya yang sedikit memerah.
Sementara Yusuf ia kembali bahagia karena godaan ummi nya, mungkin ummi akan setuju jika ia menikah dengan Syifa.
Mereka pun turun seperti sepasang kekasih yang berdampingan.
__ADS_1
Abah yang baru saja keluar dari kamar pun tersenyum, tak pernah abah melihat Yusuf dekat dengan wanita lain hanya Nadia lah yang selalu dekat dengannya dan itu tak lebih seperti apa yang Yusuf katakan seperti adik sendiri itulah yang selalu abah ingat.
''Abah kenapa keluar?'' tanya ummi saat bersama Yusuf dan Syifa yang turun dari tangga.
''Abah bosan ummi diam di kamar terus, lagian abah sudah sembuh.'' Abah berjalan di papah oleh ummi, terlihat sangat jelas kalau ummi begitu mencintai abah, meski usia mereka sudah tua tapi kemesraan mereka sangat terlihat jelas.
''Apa abah sakit?'' Tanya Syifa pelan.
Ummi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Syifa.
''Boleh Syifa buat bubur untuk abah ummi?'' Tanya Syifa pada ummi yang kembali ke dapur.
''Tentu boleh, kebetulan ummi juga mau buat bubur buat abah.''
''Kalau gitu biar Syifa aja ummi''
Syifa pun mencari beras untuk ia masak
''Apa yang kamu cari?'' Tanya Ustad Yusuf yang melihat Syifa kebingungan.
''Ustad apa ada beras?'' Cicit Syifa sedikit gugup.
''Di sebelah sana lihatlah, memangnya kamu mau apa?'' Yusuf yang sedikit aneh karena tak pernah ada santri yang memasak di rumah abah mereka hanya di beri tugas untuk membereskan rumah sementara pekerjaan lain ummi lah yang selalu mengerjakannya.
''Aku mau bikin bubur buat abah.'' jawab Syifa dan ia langsung berjalan ke arah dimana Yusuf menunjukkan sekarung beras.
Yusuf pun pergi dari dapur dan menghampiri abah dan ummi yang sedang duduk di ruang TV.
Abah yang sedang duduk di pijat oleh ummi begitu lah ummi merawat abah ketika sakit bahkan abah tak pernah ummi biarkan untuk kemana-mana saat abah sakit begitu sayangnya ummi pada abah.
''Aku harap suatu saat aku punya istri seperti ummi'' dalam hati Yusuf berdoa.
''Abah tau gak, tadi anak abah malah adu mulut sama santrinya.'' Abah mengerutkan keningnya dan menatap Yusuf.
''Apa ada santri yang melanggar?'' tanya abah serius.
''Ada abah dia gak sopan.'' jawab Yusuf tak kalah seriusnya.
Sementara ummi yang mendengar jawaban Yusuf ummi pun di buatnya tertawa dan menatap putra sulungnya dengan penuh tanya.
''Ada apa ummi?'' tanya abah yang menatap heran.
__ADS_1
''Tanya saja sama anak abah?'' Abah melirik ke arah Yusuf, abah tidak mengerti sebenarnya ada apa yang terjadi.
''Apa abah dan ummi akan setuju jika aku menikahi Syifa?'' Tutur Yusuf pelan pada kedua orang tuanya.