Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 127


__ADS_3

Nadia kini sedang tertidur meski sudah tiga hari ia sangat sulit untuk makan bahkan untuk minum saja dia seperti melupakan nya membuat Rosa kebingungan.


''Yah. Ayah tahu kan dimana Andrian sekarang.'' Desak Rosa karena ia melihat suaminya seolah tidak mempunyai beban.


''Sudah mam jangan ikut campur pada pada hubungan rumah tangga anak kita. Ayah yakin jika Andrian hanya ingin menenangkan pikiran ya saja.''


Rosa menarik napasnya ia sangat kesal karena sudah beberapa kali ia mendesak suami nya agar berterus terang tapi ia tetap saja menutupi keberadaan Andrian. Apalagi sejak tiga hati laku Andrian tidak bisa Rosa hubungi membuat Rosa menjadi bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada putra dan menantunya.


''Terserah ayah saja. Yang terpenting awas aja jika anak di dalam kandungan menantu kita kenapa-kenapa.'' Rosa segera bangun dari duduk nya ia segera pergi meninggalkan suami nya yang masih sibuk dengan ponsel nya.


Memang benar Rosa tahu jika ia tidak seharusnya ikut campur dalam urusan rumah tangga putra meski niatnya baik tapi tetap saja seorang ibu harus tahu apa permasalahan nya dengan begitu ia bisa memahami dan membantu meluruskan apa yang telah terjadi. Apalagi Andrian meninggalkan Nadia yang sedang hamil meski Andrian benar menurut Rosa tetap saja anaknya bersalah.


Masalah tidak akan selesai dengan di hindari semua nya perlu di hadapi dengan pikiran yang tenang. Rosa juga berpikir begitu jika anak nya pergi hanya untuk menenangkan diri tapi apa selama ini juga bahkan ia tidak sama sekali menghubungi dirinya.


Rosa kembali naik ke atas kamar menantunya ia sangat khawatir jika Nadia berbuat yang tidak-tidak Rosa hanya menyangka jika Nadia mengalami tekanan karena sikap Andrian apalagi hormon seorang ibu hamil memang sedang dalam keadaan yang tidak stabil.


Ia dengan perlahan membuka pintu kamar di hadapan nya. Tida tidak ingin menganggu istirahat dari menantunya apalagi sejak tadi siang Nadia terlihat sering melamun.


''Syukurlah kamu sudah tidur nad.'' Rosa kembali menutup pintu yang ia buka dan kembali turun ia sendiri merasa lelah bahkan sejak kondisi Nadia seperti itu Rosa ijin untuk tidak masuk kerja karena tidak mungkin meninggalkan Nadia dengan kondisi yang sangat menyedihkan.


Perlahan kaki nya ia langkahkan kembali menuruni satu persatu anak tangga bahkan kini ia dapat melihat suaminya yang sedang tertidur di sofa dengan ponsel yang masih ia genggam.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar entah siapa malam-malam seperti ada yang datang bertamu ke kediaman nya.

__ADS_1


Rosa segera menghampiri pintu tanpa sedikit pun merasa curiga atau menebak siapa yang akan datang berkunjung.


Perlahan tangan nya menggapai gagang pintu dan membuka nya. Betapa terkejutnya Rosa saat ia melihat Andrian di depan pintu rumah nya dengan perban di kepalanya.


''Astagfirullah An.'' Rosa yang sejak kemarin ingin memarahi anak nya seketika ia tidak bisa melakukan keinginan nya untuk memarahi putranya.


Andrian tersenyum dan segera masuk di ikuti oleh Rosa yang kembali menutup pintunya.


''An kamu dari mana saja. Kenapa dengan kepala mu an.'' Rosa merasa tidak bisa berhenti berbicara bahkan ia tidak memberikan kesempatan pada Andrian untuk menjawab satu saja pertanyaan yang Rosa lontarkan pada dirinya sendri.


''Ada apa sih mam berisik banget.'' Gumam Adi suaminya Rosa yang sedikit merasa terganggu.


Adi memperhatikan sekitar matanya kini mulai membulat saat ia melihat kondisi putranya dengan beberapa luka di tubuhnya belum lagi di kepalanya yang masih berbalut perban.


Rosa dan Adi begitu terkejut dengan perasaan yang campur aduk. Adi memang sudah mengetahui jika putra nya mengalami kecelakaan namun sudah beberapa kali ia menanyakan kabar nya Andrian selalu bilang jika ia baik-baik saja membuat Adi sedikit berpikir jika putra nya masih ingin waktu untuk menenangkan pikiran nya.


''Ya sudah kamu sana ke kamar. Tapi ingat berbuat baik lah sama istri kamu an.'' Rosa mengusap punggung putra nya.


Melihat kondisi Andrian yang seperti itu membuat hati Rosa merasa teriris bagaimana tidak baru saja tiga hari lalu ia melihat Nadia yang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit melawan masa kritisnya kini ia melihat anak nya lebih dengan luka di tubuhnya membuat Rosa merasa sangat sedih.


Andrian berjalan menaiki tangga hatinya sedikit lega meski tak dapat di pungkiri jika dirinya belum bisa memaafkan perlakuan Nadia tapi benar apa yang di katakan Syifa. Ia harus belajar memaafkan apalagi Nadia adalah istrinya bagaimana pun ada darah daging nya yang sedang berada di dalam perut nya. Dan apapun yang menyangkut Nadia Andrian sekarang mempunyai tanggung jawab penuh pada dirinya.


Pintu kini terbuka Andrian menatap sedih melihat wajah pucat sang istri yang tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Sekilas ia mengingat kejadian saat dirinya meninggalkan Nadia yang menangis Andrian merasa sangat bodoh telah meninggalkan Nadia.


Mungkin memang benar apa yang di katakan Syifa. Nadia sudah sangat menyesali perbuatan nya. Andrian menutup kembali pintu kamar mereka. Ia berjalan menghampiri Nadia yang masih terlelap bahkan tak sedikitpun ia bergerak.


Hati yang sejak tadi keras seolah dibuat lembut karena melihat sosok istrinya yang sedang terbaring.


Perlahan Andrian menghampiri Nadia tangan nya mulai mengelus rambut milik istrinya ada sesak dalam hatinya ia merasa bersalah karena telah egois karena bagaimana pun Nadia sedang tahap pemulihan apalagi ia kini sedang mengandung.


''Maafkan aku sayang.'' Andrian mengecup puncak kepala Nadia dengan lembut namun gerakan Andrian membuat Nadia kembali membuka matanya.


Nadia belum lama tidur bahkan belum lama Andrian datang ia baru saja tidur.


''Maaf aku menganggu tidur mu.'' Ucap Andrian dengan lembut ia melepas lengan dari rambut nya dan mulai mengambil tempat duduk di samping istrinya yang masih berbaring.


''Mas kapan pulang?'' tanya Nadia dengan mata yang sudah berkaca-kaca bahkan air matanya meminta untuk keluar.


Andrian merasa sangat perih bahkan rasa sakit nya lebih sakit saat ia melihat air mata yang kini tak bisa Nadia tahan lagi.


Nadia bangun dari tidur nya ia menatap wajah teduh suami nya.


Ia sangat merindukan sosok suami yang selalu membuatnya tenang. Entah sejak kapan tapi sejak menikah dengan Andrian banyak perubahan yang terjadi pada dirinya bahkan Nadia sangat bersyukur bersuamikan Andrian.


Andrian tidak menjawab hanya air mata yang jatuh dengan cepat ia menyeka nya Andrian tidak ingin terlihat lemah meski kini Nadia melihat dirinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2