
Syifa yang telah selesai melaksanakan shalat, ia pun berzikir dan berdoa, ia memohon agar hatinya di tetapkan di jalan kebenaran, ia berharap jika ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Syifa yang khusyuk saat berdoa, ia teringat masa lalunya yang begitu jauh dari Rabb nya, ia yang selalu melalaikan perintahNya, bahkan sering meninggalkan kewajibannya. Ia sangat bersyukur karena ia telah bisa berubah meski jauh dari kata sempurna, ia begitu sangat menyesal karena selalu jauh dari Rabb nya, bahkan di saat terpuruk saja ia tak menghiraukan seruan untuk melaksanakan kewajibannya.
''Ya Allah ya Tuhanku, lindungilah kedua orang tuaku dimana pun mereka berada.'' Syifa menutup doanya.
Ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipi mulusnya, bahkan mukenanya pun sedikit basah karena terus ia gunakan untuk menghapus air mata yang ia tumpahkan di saat sujud nya.
Syifa pun kembali membereskan mukenanya dan tasbih yang Ustadz Hanif berikan untuknya.
Ia memandangi tasbih yang begitu indah, ada rasa getaran aneh saat ia menatap kembali tasbih yang ia pegang, Syifa selalu menggunakan tasbih pemberian Ustadz Hanif ia sangat menyukainya, meski ibunya membelikan tasbih yang sama bagusnya, ia tetap menggunakan tasbih pemberian dari Ustadz Hanif.
''Aku memang belum mencintai Ustadz, tapi aku bahagia karena ketika aku mengenakan tasbih ini, aku merasa ada seseorang yang membuat aku jatuh cinta pada Rabb ku, terima kasih Ustadz jika memang Ustadz pilihan yang Allah berikan untukku, aku akan belajar mencintaimu ketika nanti Ustadz menjadi imam ku.'' Tutur Syifa dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang membuatnya damai saat ia melihat tasbih yang selalu ia kenakan.
Ia pun menaruh kembali tasbih yang Ustadz Hanif berikan bersama mukena yang akan ia kenakan nanti shalat.
Syifa pun membaringkan tubuhnya kembali dan perlahan ia mencoba untuk tidur.
Banten.
Hanif yang baru bangun dari tidurnya ia memimpikan Syifa dalam tidurnya, ia mengusap wajahnya dan beristigfar memohon ampun atas apa yang ia lakukan, ia sama sekali tidak memikirkan Syifa, bahkan sudah beberapa hari ia sengaja tidak menghubungi Syifa, ia takut jika hubungan yang sering terjalin sebelum ikatan pernikahan justru membuat dirinya jatuh dalam lembah dosa.
Ia melirik jam yang tersimpan di nakas.
''Pukul 03.00 dini hari.'' Gumam Hanif setelah menyingkirkan selimut dari tubuhnya.
Ia pun duduk dan meminum air yang selalu ia simpan di nakas, karena kebiasaan Hanif yang selalu haus di saat tengah malam membuatnya selalu membawa air ke kamarnya.
__ADS_1
Hanif pun berdiri dan berjalan ke kamar mandi setelah kantuk yang menyelimuti dirinya hilang, ia pun mulai membasuh wajahnya dan mulai berwudhu.
Hanif yang telah selesai berwudhu ia pun menggelar sajadah dan segera melaksanakan shalat tahajud.
Hanif memang selalu terbiasa bangun malam dan melaksanakan shalat, ia bahkan sering melakukan shalat malam dan ia habiskan waktu sepertiga malam untuk berdzikir hingga waktu subuh akan datang.
Menurutnya bangun di jam tengah malam dan melakukan berdzikir itu membuat hatinya tenang, dan terasa sangat segar untuk badannya sendiri, maka tak jarang ia pun sering melakukan puasa sunnah karena kebiasaan bangun sebelum waktu subuh.
Hanif yang telah selesai shalat ia pun menengadahkan tangannya dan berdoa ia pun meminta ampun atas apa yang selama ini mengusik hatinya, sejak Hanif yang telah melamar Syifa meski belum resmi, namun sejak saat itu ia sering memikirkan wanita yang pertama kali membuatnya selalu memikirkannya, dulu sebelum Syifa datang di kehidupannya, Hanif tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun karena menurutnya hubungan sebelum menikah terlalu banyak dosa, mulai dari pikirannya, matanya ketika memandang sosok yang kita cintai, bahkan tangan yang selalu ingin menyapanya meski dalam pesan namun itu adalah hasil dari pemikirannya. Maka apapun itu tetaplah dosa, tapi sekarang ia malah melakukannya lagi.
Hatinya selalu ingin menolak ketika dirinya memikirkan Syifa, namun entah mengapa bayang-bayang Syifa yang selalu saja melintas di dalam benaknya.
''Ya Allah jika memang Syifa adalah pilihan dariMu, untuk ku, maka permudahkan lah hamba untuk mempersuntingnya.
Hanif yang telah selesai berdoa ia mengusap wajahnya kasar ia merasa sangat terganggu karena ia telah memimpikan Syifa membuatnya tidak bisa fokus.
Hanif sedikit berpikir mungkin secepatnya ia akan menemui kedua orang tua Syifa untuk melamarnya secara resmi.
20 menit lagi menandakan waktu subuh, terdengar suara lantunan ayat suci Al-Quran yang menggema di masjid, membuat siapapun yang mendengarnya terasa sangat menenangkan hati.
Para santri maupun para santriwati mereka mulai bersiap untuk segera ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya melaksanakan shalat.
Syifa yang baru saja tertidur ia tak mendengar apapun, ia tertidur sangat pulas.
Sementara ke tiga sahabatnya sudah bangun dan bersiap untuk ke masjid.
Mereka tak berniat membangunkan Syifa yang masih terlelap karena Syifa memang tak akan memaksakan shalat, mereka pun segera bergegas untuk pergi ke masjid.
__ADS_1
Yusuf yang sudah berada di masjid ia pun mengumandangkan adzan.
Suaranya yang begitu indah membuat siapa saja hanyut dalam keindahan lantunan adzan nya.
Arin dan arumi pun segera bergegas mereka sedikit berlari karena sedikit terlambat.
''Ayo rin!'' Sahut Arumi yang sudah lebih dulu darinya.
Arin mempercepat larinya agar tidak terlambat, karena jika ia terlambat sudah pasti setelah mengaji nanti ia akan terkena hukuman.
Syukurlah Arin dan Arumi tepat waktu, sebelum shalat di mulai mereka sudah datang, mereka pun melaksanakan shalat berjamaah dengan sangat khusyuk.
Syifa yang sedang tidur ia pun terbangun karena tenggorokannya terasa sangat perih. Ia pun bangun dan membawa botol minum yang sengaja ia taruh di sisi ranjangnya.
Syifa pun segera meminumnya dengan perlahan. Suhu udara yang terasa sangat dingin ia rasakan membuat dirinya sangat kedinginan.
''Kemana mereka?'' Sahut Syifa yang baru sadar karena ke tiga sahabatnya sudah tidak ada di kamar. Ia pun melirik ke arah jam yang dinding kamarnya, ternyata sudah menunjukan pukul 06.05, ia pun segera bangun dari tidurnya dan bergegas membereskan tempat tidurnya.
Terdengar suara riuh dari arah luar, Syifa menyangka jika itu adalah suara santriwati yang baru keluar dari masjid. Syifa pun mengenakan kerudung instannya dan hendak keluar untuk membantu bagian dapur menyiapkan makan. Belum sempat ia membuka pintu, pintu kamarnya sudah terbuka lebar.
''Kamu baru bangun Syifa?'' seru Arumi yang baru saja datang ke kamarnya.
Syifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia pun tersenyum malu ke arah Arumi.
''Iya, habisnya semalaman aku susah tidur, oh ya aku mau bantu bagian dapur untuk masak.'' Sahut Syifa yang berlalu keluar.
Syifa pun berjalan dengan santai menuju dapur namun di saat area taman ia berpapasan dengan Ustad Yusuf yang hendak pulang.
__ADS_1
Syifa menatap Ustad Yusuf yang terlihat begitu tampan, wajahnya berseri seakan bercahaya. Yusuf yang menyadari jika Syifa menatapnya ia hanya tersenyum simpul dan berjalan melewati Syifa tanpa menoleh nya kembali.
Debaran jantung yang terasa begitu kencang hatinya kembali merasakan perasaan yang sulit ia artikan, Syifa menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara perlahan berulang kali ia lakukan agar bisa mengontrol dirinya. Syifa merasa ada perih di hatinya saat melihat Ustad Yusuf yang terlihat beberapa hari ini terlihat sedikit dingin padanya.