
Andrian keluar ia bahkan menitikan air mata ia sangat kecewa dengan pengakuan dari istrinya ia tidak pernah menyangka kenyataan yang Nadia katakan sangat menyakiti perasaan nya.
''Maafkan kakak Syifa, maafkan kakak karena tidak melindungi kamu dari wanita seburuk Nadia kakak sangat menyesal tidak pernah mengunjungi mu di sana. Andaikan kakak tahu mungkin kakak tidak akan membuat kamu terluka.'' Andrian kini tak bisa menyembunyikan perasaan nya. Rasa sakit yang pernah Syifa rasakan membuat nya lebih sakit.
Andrian berjalan ke arah luar dengan tatapan yang memperlihatkan marah nya ia berjalan ke arah mobil nya dan dengan cepat ia melajukan mobil nya meninggalkan rumah yang baru saja ia datangi.
.
.
Nadia hanya bisa menangis. Ia tidak menyangka jika suaminya se marah itu padanya rasa sakit yang kini ia rasakan lebih sakit dari yang ia duga.
Aaahhhhhhh. Nadia berteriak dengan keras seolah mengeluarkan segala kesedihan nya. Nadia benar-benar hancur hatinya tak pernah sesakit ini. Suami yang selalu membuatnya tenang kini ia malah pergi meninggalkan dirinya dengan perasaan penuh luka.
Nadia memukuli dirinya ia tidak tahan dengan beban yang datang padanya. Bahkan perut yang kini terdapat bayi di sana ia sudah tak hiraukan lagi sampai kini ia
merasakan sakit yang tak bisa tahan ia meringkuk di bawah lantai air mata yang terus mengalir kini tak keluar lagi saat ia melihat darah yang kini membasahi kaki nya hingga ia pingsan.
.
.
Rosa yang merasakan tidak enak hati entah apa yang kini membuat nya merasakan hati nya tidak tenang. Rosa mengambil ponsel nya ia segera menelpon Andrian namun tak ada jawaban dari putra nya itu membuat dirinya menjadi salah tingkah.
''Kenapa kamu gak angkat panggilan mami sih an.'' Gumam Rosa segera membereskan alat medis nya.
Hati seorang ibu memang selalu menyambung dengan hati anak nya bahkan di saat Andrian yang jauh dari Rosa kekuatan batin itu memang ada.
''Aku harus segera pulang.'' Ucap Rosa pada salah satu dokter yang akan mengambil alih pekerjaan nya karena pekerjaan nya belum selesai.
Rosa segera berlari keluar ia segera menghampiri mobil yang ia parkiran di sana.
Dengan perasaan yang kini makin membuat nya tidak karuan ia segera menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang yang mulai meninggalkan area rumah sakit.
__ADS_1
Tangan nya kini mengambil ponsel lagi kini ia memutuskan untuk menghubungi menantunya Nadia. Sudah dua kali ia menghubungi nomor yang sama namun tetap saja tidak ada jawaban membuat hati seorang ibu tiga anak itu menjadi semakin cemas.
''Ya Allah lindungilah anak-anak hamba. sebenarnya apa yang terjadi kenapa aku merasakan hal seperti ini.'' Rosa terus memanjatkan doa di setiap ucapan nya ia merasa ingin segera sampai di rumah nya.
Setengah jam telah berlalu karena jalanan memang sangat padat membuat nya baru sampai.
Rosa tidak menemukan mobil putranya bahkan mobil suami nya saja tidak ada karena memang suami nya sedang ke luar kota.
Dengan langkah setengah berlari Rosa segera masuk ke dalam rumah nya.
Bahkan pintu rumah itu di biarkan terbuka membuat Rosa semakin cemas karena tidak biasanya pintu rumah di biarkan terbuka meski Nadia berada di ruman.
''Nadia!'' Teriak Rosa dengan suara sedikit bergetar ia segera memeriksa ke arah dapur mungkin saja Nadia sedang di dapur Rosa sedikit berpikir namun ternyata Nadia tidak ada di sana.
Rosa kembali melangkahkan kaki nya ke arah kamar putranya karena mungkin saja Nadia sedang di kamar nya.
''Astaghfirullah. Nadia.'' Rosa menutup mulut nya ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Rosa mengecek Nadia namun menantunya sepertinya pingsan. Ia segera meraih ponsel nya dari dalam tas dan menelpon nomor Andrian namun tetap saja Andrian tidak mengangkat nya.
''Kemana sih kamu An.'' Rosa seperti frustasi ia segera menelpon ambulan karena tidak mungkin ia mengangkat tubuh menantunya sendiri.
Rasa sakit yang kini Rosa rasakan seolah menyakiti hati nya ia sangat tidak sanggup melihat menantunya seperti ini. Rosa sangat khawatir pada bagi yang kini Nadia kandung apalagi Nadia kini masih hamil di trimester pertama.
Ambulan sudah datang dan segera membawa tubuh Nadia ke rumah sakit.
Dengan setia Rosa menemani menantunya dengan perasaan yang sulit ia artikan. Meski Nadia adalah menantunya namun Rosa sangat menyayangi dirinya.
Menit-menit telah berlalu kini Nadia segera di bawa ke ruang ICU dengan bantuan dokter lain yang langsung menangani dirinya karena Rosa yang ketakutan dengan melihat kondisi menantunya membuat ia merasa tidak yakin akan bisa menolong menantunya itu.
Rosa duduk di bangku tunggu dengan baju yang terkena darah ia menangis kembali. Betapa sakit hatinya mengingat Nadia yang terbaring di lantai.
Rosa segera menelpon kembali Andrian berharap kali ini Andrian akan mengangkat nya.
__ADS_1
''Ada ala sih an, apa yang terjadi kenapa kamu tidak bisa di hubungi.''
.
.
Andrian melajukan mobil nya dengan cepat ia kini tengah berada di jalan tol. Andrian berniat untuk pergi ke pondok untuk menemui Syifa.
Andrian merasa sangat bersalah karena telah membuat Syifa terluka apalagi karena ulah istrinya.
''Dek, kenapa kamu tidak memberi tahu aku.'' Ucap Andrian bahkan sesekali ia memukul stir yang ia kemudikan mengeluarkan rasa amarah yang memuncak dalam hati nya.
Beberapa menit berlalu kini Andrian sudah memasuki daerah kota Bandung membuat Andrian lebih cepat memacu kendaraan nya.
Ponsel yang terus saja berdering itu Andrian diamkan. Ia tidak peduli dengan semua panggilan itu hanya Syifa saja yang kini berada dalam pikiran nya.
hingga tanpa ia sadari mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan hingga membuat mobil Andrian terpental.
Andrian tidak sadarkan diri ia langsung pingsan dengan darah yang mengalir dari kepalanya namun sebelum ia pingsan ia sadar banyak orang yang mengerumuni dirinya.
''Syifa.'' Hanya kata-kata terakhir yang ia katakan sebelum dirinya benar-benar hilang kesadaran nya.
.
.
Tubuh lelaki itu segera di angkut ke dalam mobil ambulan yang sudah mereka hubungi. Dengan kondisi mobil yang sedikit ringsek karena lumayan terpental jauh dari jalur namun beruntung sekali Andrian masih bisa di selamatkan.
Hingga kini Andrian sudah berada di rumah sakit dan beberapa orang orang dari pihak kepolisian yang sudah menangani kasus kecelakaan yang menimpanya.
Hanya satu petunjuk yang mereka dapatkan setelah Andrian melewati masa kritisnya ia mengucapkan nama Syifa.
......................
__ADS_1