Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 119


__ADS_3

Siang ini Syifa dan ke tiga sahabatnya sedang mengisi berbagai tugas yang kini membuat mereka sibuk duduk di perpustakaan. Tugas yang mulai silih berganti datang pada nya membuat hari-hati nya selalu berkutat dengan buku.


''Fa, kamu sudah selesai kan tugas dari Pak doko?'' tanya Arin dengan menulis di buku nya.


''Sedikit lagi rin,'' keluh Syifa karena kini tugas nya kian menggunung bahkan mungkin banyak tugas yang sedang menanti nya.


Arumi yang sejak tadi sibuk bahkan kali ia yang terlihat sangat bersemangat entah kenapa biasanya Arin yang selalu bersemangat namun kini Arumi yang lebih semangat.


''Kita beli dulu makan yuk aku lapar.'' Ucap Desi yang menutup kembali buku nya.


''Bentar lagi ah nanggung masih ada satu buku lagi yang belum beres.'' Syifa masih berusaha mengumpulkan semangat nya agar segera selesai.


.


.


Hanif baru saja keluar dari panti setelah ia mengunjungi nya bahkan mungkin dalam seminggu ia akan berkunjung sampai tiga kali jika ia tidak sibuk dengan pekerjaan nya.


Ia berjalan dengan langkah cepat. Hanif sangat menyukai suasana di panti seolah beban nya selalu terangkat ketika ia bertemu dengan anak-anak apalagi ketika ia melihat anak-anak bermain ia merasa punya keinginan untuk segera bersama Syifa dan memiliki anak sendiri.


Hanif menatap jam tangan nya yang menunjukan pukul sebelas siang. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil nya kembali.


Kali ini ia akan pergi ke restoran nya untuk sekedar mengisi perut nya sekalian memantau perkembangan usahanya kali ini.


Mobil yang kini ia kendari di jalanan berbaur dengan pengendara lain hanya tiga puluh menit saja kini ia sudah sampai ke restoran milik nya.


Restoran yang kian ramai dengan pengunjung seolah tak pernah sepi membuat usaha nya menjadi berkembang lebih pesat.


''Han?'' Sapa seorang pengunjung yang tidak lain adalah bibi nya ia di temani oleh paman nya yang sedang menikmati hidangan di meja nya.


''Bibi, Paman,'' Ucap Hanif sambil menyalami mereka berdua dan duduk bersama nya.


''Apa kabar bi?'' tanya Hanif sambil mendudukkan dirinya di kursi.


''Alhamdulilah baik han, dimana istri mu?'' tanya paman Rahman.

__ADS_1


''Di pondok paman,'' Hanif pun menjelaskan jika istrinya memang belum lulus membuat paman Rahman mengerti karena kini Hanif hanya sendirian.


''Semoga rumah tangga kalian selalu dalam ridho nya aamiin.'' Doa paman Rahman yang langsung mendapat ucapan aamiin dari ke dua orang di sana.


Banyak paman Rahman berbicara bahkan tak jarang paman Rahma memberikan nasehat pernikahan pada Hanif. Bahkan paman Rahman menyarankan agar dirinya bersama istinya di sana karena tidak baik jika pernikahan yang sudah terjalin namun mereka malah berjauhan.


Hanif memang ingin tapi ia tidak bisa memaksakan jika Syifa tidak ingin jika semua orang mengetahui pernikahan nya. Hanif hanya diam dan berusaha mendengarkan apa yang di ucapkan oleh paman nya.


''Kapan-kapan ajaklah istri mu berkunjung jika ke sini paman akan sangat senang.''


''Insyaallah.''


''Ya sudah paman harus kembali.'' Pamit paman Rahman di ikuti oleh bibi nya.


Hanif mengantar kedua orang yang selalu ia hormati seperti layaknya pada ummi dan abi nya.


Ia kembali berjalan ke ruang kerja nya setelah ia menyuruh seseorang untuk menyiapkan makan nya di ruang kerja nya.


Hanif menarik napas nya panjang ia kini merasa sangat lelah karena sudah sejak tadi ia berkeliling ke satu tempat ke tempat yang lain hingga ia merebahkan tubuh nya di kursi yang berada di ruangan nya bahkan ia tidak menyentuh makan siang nya karena lelah yang kini ia rasakan.


Ia merasa malas untuk menjawab panggilan telepon itu namun karena teringat Syifa belum menghubungi dirinya membuat ia segera mengangkat nya.


Benar saja Syifa yang kini sedang menelpon nya.


Dengan gerak cepat Hanif segera mengangkat panggilan nya. Terdengar suara lembut dari Syifa yang membuat Hanif kembali merasa tenang.


''Waalaikumsalam. Kamu lagi yang?'' tanya Hanif pada Syifa.


''Aku lagi rindu mas.'' Ucap Syifa dengan nada yang menggemaskan membuat Hanif kembali terkekeh.


''Kasihan sekali.''


''Mas ko gitu sih, mas gak kangen yah makanya jawab gitu, harusnya aku gak kangen sama mas.'' Ucap Syifa sedikit kesal bukan nya mood ya membaik tapi kini mood nya malah jelek.


Hanif tertawa puas ia merasa jika Syifa selalu merasa berlebihan mana ada suami yang enggak kangen apalagi sudah lama ia tidak bertemu dengan Syifa.

__ADS_1


''Ummi minta aku buat ke sana, menurut mu bagaimana?''


''Bagaimana apa?'' tanya Syifa dengan nada kesal.


''Ya kamu mau gak kalau aku di sana?'' tanya Hanif memperjelas perkataan nya.


''Gak usah mas, mas di sana saja buat aku kesal bagaimana jika mas di sini.'' Syifa ingin jika Hanif sedikit peka tapi entah lah apa memang suaminya yang seperti itu atau memang lelaki itu tidak peka gerutu Syifa dalam hati nya.


''Udah dong jangan marah, mas kan hanya bercanda.'' Ucap Hanif membujuk Syifa karena ternyata Syifa malah menanggapi nya dengan serius.


''Terserah mas aja, memang nya mas mau apa ke sini, kata mas sendiri takut jika orang lain berpikir yang aneh-aneh. Aku juga belum siap jika banyak orang mengetahui pernikahan kita mas.''


Hanif mendengar perkataan Syifa merasakan hal yang sedikit menyakitkan ia tahu seharusnya hal itu sudah harus ia Terima karena memang status Syifa sebagai santri bagaimana ia bisa menikah apalagi ia masih sekolah namun jelas sekali perkataan itu membuat nya tidak nyaman ada rasa ia ingin membuka status baru mereka karena kenyataan nya ia merasa tidak nyaman.


''Fa.''


Syifa diam ketika Hanif memanggil nya dengan sebutan nama.


''Iya.''


''Apa kamu mencintai aku?'' tanya Hanif seolah ia ingin mendengar perkataan itu langsung dari mulut istri nya.


Entah karena Syifa sudah lama berpisah dengan dia atau karena ia sendiri tidak tahu yang jelas karena perkataan Syifa tadi membuat Hanif seolah suami yang belum di harapkan ada dalam hidup nya.


''Kenapa mas berkata seperti itu?''


''Ya aku hanya ingin tahu.''


Syifa menarik napas nya panjang bagaimana mungkin suami nya bertanya seperti itu padahal sudah jelas dari kata ia rindu saja harus nya ia sudah bisa menebak jika ia memang mencintai diri nya.


''Ya sudah jika mas memang lagi gak mau di ganggu aku tutup dulu ya. Lagian aku masih banyak tugas.'' Ucap Syifa setelah itu ia menutup panggilan nya.


Hanif menarik napas nya panjang ia merasa kesal karena Syifa malah mengabaikan pertanyaan nya. Baru kali ini ia merasa tidak nyaman dengan perkataan yang keluar dari mulut istri nya.


Hanif kembali merebahkan tubuh nya lelah yang sejak tadi ia rakan kini malah bertambah dengan pikiran yang membuat dirinya merasa serba salah.

__ADS_1


......................


__ADS_2