
Hanif segera menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan kediaman abah.
Rasa rindu yang sudah lama ia tahan kini terbalaskan dengan pertemuan yang sudah sejak lama ia impikan.
Beberapa kali ia menatap wajah lembut istrinya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya Hanif terus saja menggenggam tangan Syifa dan menghujani lengan Syifa dengan ciuman yang sudah sangat ia rindukan.
Syifa sendiri menikmati setiap sentuhan yang Hanif berikan ia sendiri sangat mencintai Hanif dan entah sejak kapan perasaan itu muncul padanya kini hanya Hanif lah yang selalu mengisi pikiran dan hatinya.
Hanya perasaan senang yang kini menghiasi kedua insan yang saling melepas rindu di antara mereka berdua.
''Mas kenapa enggak bilang sama aku kalau mas hari ini sampai, Katanya mau besok?'' tanya Syifa penasaran pasalnya Hanif sendiri yang bilang jika ia akan menemui nya esok hari tapi malah hari ini ia mengunjungi dirinya.
''Aku sangat rindu sayang.'' Ucap Hanif membuat Syifa bersemu merah kembali ia sangat bersyukur karena Allah memberikan Hanif sebagai pendamping dalam hidupnya.
''Oh ya mas sampai lupa.'' Ucap Hanif melepas tangan nya dari Syifa dan merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Syifa hanya memperhatikan apa yang Hanif lakukan dan melihat apa yang Hanif berikan padanya.
''Ini bukalah.'' Ucap Hanif menatap lembut Syifa yang berada di sisinya.
Syifa segera mengambil secarik kertas yang Hanif berikan padanya dan membuka apa isi dari kertas itu.
''Mas.''
Hanif menatap kembali ke arah Syifa.
''Ya? apa itu yang?'' tanya Hanif karena ia sendiri tidak tahu apa yang ingin Raja berikan pada istrinya itu.
Syifa tersenyum dan memperlihatkan isinya dengan senyum lebar nya.
Terlihat sebuah pesan bergambar dari Raja dengan gambar seorang wanita yang sedang memeluk dirinya dan bertuliskan ''Aku Rindu aunty Syifa.''
''Mas kapan ke panti ko gak bilang sih sama aku.'' Ucap Syifa kembali melipat kertas yang ia dapat dari Raja.
''Kemarin sebelum mas ke sini sore hatinya mas sengaja mengunjungi anak-anak panti. Mereka sepertinya sangat rindu kamu yang, ternyata bukan hanya mas yang rindu anak-anak panti juga.'' Ucap Hanif membuat Syifa tersenyum kembali ke arah Hanif.
''Mas paling bisa bilang rindu padahal enggak tau, bahkan mas malah jalan sama wanita lain.'' Ungkap Syifa mengatakan kekesalan yang tempo hari dan sukses membuat ia menjadi cemburu.
__ADS_1
''Lain kali tanya dulu mas gak akan pernah berbuat macam-macam ko.'' Hanif mengusap puncak kepala Syifa dan kembali fokus menyetir.
Beberapa menit berlalu akhirnya kini mereka telah sampai di sebuah rumah makan yang Hanif pilih untuk mengisi perutnya di sana.
''Kita turun yuk mas udah sangat lapar.'' Ajak Hanif pada Syifa yang langsung mendapat anggukan.
Untuk menemani makan suaminya mana mungkin Syifa tolak bahkan saat-saat seperti ini yang selalu Syifa rindukan. Hanif yang selalu memperlakukan dirinya dengan lembut dengan penuh kasih sayang membuat dirinya mudah sekali jatuh cinta pada Hanif.
.
.
''Kenapa ini terjadi.'' Lirih seorang wanita yang kini terduduk di kamar mandi dengan air mata yang entah kapan akan bisa ia tahan.
kebodohan yang telah ia lakukan membuat dirinya tak bisa kembali.
wanita itu kini memeluk kekinian dengan derai air mata yang terus saja meluncur tanpa habisnya.
Hancur sudah masa depan yang selalu ia impikan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ia segera menghapus air matanya dan segera bangun dari duduknya dan berjalan kembali ke kamarnya dengan mata yang sudah membengkak ia segera meraih ponsel nya untuk segera menghubungi seseorang yang telah membuat dirinya hancur.
''Ya sayang?'' jawab seorang lelaki di balik telepon yang kini tak lain adalah kekasihnya.
''Aku ingin bertemu An.'' Ucap wanita itu menahan tangis.
''Oke nanti kita ketemu di taman tempat biasa yang atau mau di rumah aku? kebetulan ibu dan ayah ku sedang tidak ada yang.''
''Aku ke sana sekarang.'' Ucap wanita itu dengan air mata yang terus bercucuran.
Maya adalah wanita yang baru saja menempuh pendidikan di fakultas ekonomi di kota Bandung ia adalah mahasiswi yang mendapat beasiswa dan merantau ke Bandung sudah dia tahun lamanya ia merantau di kota kembang itu dan sudah selama satu tahun lamanya ia menjadi kekasih seorang lelaki yang bernama Andrean.
Dengan cepat Maya segera mengambil kunci motornya dan melakukan di jalanan yang terlihat ramai hanya dua puluh menit lamanya ia telah sampai di depan rumah kekasihnya yang sudah biasa ia main ke sana hanya untuk menemui kekasih nya bahkan dirinya sudah mengenal kedua orang tua Andrean.
Andrean adalah anak dari pengusaha besar di kota ini dan dia adalah anak pertama dari keluarga Wisma yang terkenal kaya raya.
Sedangkan Maya ia hanya mahasiswa yang masih kuliah dengan bantuan beasiswa dan dari keluarga sederhana namun kedua orang tua Andrean menerima ia karena terlihat Maya adalah sosok wanita yang baik.
__ADS_1
Maya segera masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci itu karena ia juga memang sudah biasa keluar masuk rumah dari keluarga Wisma itu.
''An!'' Teriak Maya dari lantai bawah.
''Eh non Maya, maaf cari den Andrean ya.'' Tanya seorang asisten rumah tangga keluarga Andrean.
''Ya bi, Dimana Andrean?'' tanya Maya menatap asisten rumah tangga.
''Sepertinya di kamar non.''
Tanpa mendengar perkataan dari asisten itu Maya segera berjalan ke arah kamar Andrean yang sudah ia ketahui.
Maya berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar Andrean.
''Sayang.'' Andrean bangun dari tidurnya dan segera menghampiri wanita yang kini berdiri di ambang pintu.
Sementara Maya ia hanya berdiam dan menyodorkan sebuah tespek pada Andrean yang hendak memeluknya.
''Apa ini?'' tanya Andrean segera mengambilnya dari tangan kekasihnya.
''Kamu bercanda kan?'' Ucap Andrean sedikit meninggi.
''Kamu kira aku bercanda An, aku sendiri sudah beberapa kali tes dan hasilnya tetap sama.''
''Bodoh kamu kenapa ini bisa terjadi.'' Sungut Andrean marah pada wanita yang kini berderai air mata.
''Gak mungkin ini terjadi kita hanya melakukan satu kali saja mana mungkin kamu hamil anak aku.''
''Kamu pikir aku wanita apa hah!'' dengan derai air mata ia kembali menangis di hadapan lelaki yang pernah menyentuhnya.
''Jika kamu berpikir aku akan bertanggung jawab kami salah may, maafkan aku. gugur kan saja dia.'' Ucap Andrean tegas.
Maya hanya menangis dengan apa yang ia dengar sungguh kenyataan yang sangat menyayat hati ketika ia mendengar ucapan dari Andrean.
''Gugur kan saja may, Aku minta maaf dan satu lagi mulai sekarang kita putus.''
''Brengsek kamu An.'' Maya memukuli tubuh Andrean namun lelaki itu tidak bergeming dan balik meninggalkan Maya.
__ADS_1
Kini hanya kepahitan yang ia dapat ia sangat hancur dan tak berdaya dengan apa yang menimpanya. Maya kembali berjalan meninggalkan kediaman Wisma dengan perasaan sakit yang ia tanggung sendiri.
......................