
''Kita makan dulu lah, lagian ini sudah jam makan siang.'' Ajak Yusuf karena memang mereka baru saja bertemu lagi.
''Lain kali aja ya yus, aku ada sesuatu yang harus segera di bereskan.'' Ucap Andrean menolak ajakan dari sahabat nya.
''Ya udah lain kali tapin ingat kapan-kapan main lah ke rumah.'' Sahut Yusuf sambil berjalan ke arah luar ruangan itu karena ia mengantar kepergian dari sahabat baik nya.
Andrean telah berlalu dari hadapan nya membuat Yusuf segera beralih ke ruangan nya kembali sebelum ia memesan makan siang nya pada salah satu pegawai nya untuk mengantar nya ke ruangan kerja pribadinya.
Yusuf kurang menyukai jika ia harus makan sendiri ia lebih baik memilih makan siang di ruangan nya sambil menunggu Adi kembali.
Yusuf kembali menatap ruang kerja nya terlalu banyak waktu yang selalu ia habiskan di sana tapi bagai mana lagi ia sendiri merasa canggung jika di rumah ia akan sering bertemu dengan Arumi.
.
.
Hanif kini sedang menatap langit yang kini terlihat sangat gelap kota kelahiran nya dengan sejuta kenangan itu menjadi saksi bisu bagai mana ia menahan rindu pada sang istri yang kini berada jauh di sana.
Hanif menghirup udara dalam-dalam seakan udara yang masuk ke dalam rongga hidung nya seperti ucapan salam dari sang istri yang membuatnya merasa nyaman.
Memikirkan nya saja selalu membuat hatinya terasa tenang seakan sosok sang istri selalu menemani dirinya di kala lelah menyapa dan di kala ia sedang dalam kesendirian.
Mata yang sejak tadi terbuka lebar kini ia tutup rapat-rapat. Suara gemericik air hujan seakan menambah kesunyian yang kini ia rasakan.
Hanif sangat menyukai suasana seperti ini suasana yang sunyi membuat nya larut dalam ketenangan dalam sekejap.
__ADS_1
Sudah seminggu berlalu ia selalu berkutat dengan segala kesibukan yang sangat menyita waktunya.
Panti yang sudah selesai bahkan kini sudah berjalan bagai mana mestinya. Bahkan panti baru yang belum lama di buka kini sudah di isi oleh anak-anak yang membuat kini terasa ramai.
Andai saja Syifa sudah berada di sini dia akan di pastikan sangat senang melihat senyum bahagia dari anak-anak yang selalu terpancar dari sudut bibirnya.
''Han!'' teriak ummi dari bawah membuat Hanif kembali dalam kesadaran nya.
Hanif segera masuk kembali ke dalam kamar nya ia menutup pintu kamar nya dan juga jendela kamar yang sejak tadi ia biarkan terbuka.
Hanif menuruni satu persatu anak tangga dan segera turun ke arah ummi berada.
''Ada apa sih ummi?'' tanya Hanif karena ummi teriak-teriak.
''Sini duduk ummi baru saja membuat kue kesukaan kamu.'' Ucap ummi dengan senyum yang kini menghiasi wajah yang mulai sedikit berkeriput.
''Ummi buat apa?'' tanya abi karena terlihat ummi sedang sibuk dengan sarung tangan di lengan nya bahkan ia membawa satu loyang kue di tangan nya.
''Ummi buat kue abi, Lagian ummi buat banyak.'' Ucap Ummi menaruh loyang kue yang masih panas ke meja makan.
Ummi segera menyusun beberapa kue ke dalam toples dan menyusun nya hingga rapih.
''Kenapa ummi buat banyak sekali, memang nya ada acara apa?'' tanya abi karena ia merasa heran karena biasanya ummi akan membuat kue banyak jika menjelang hari-hari spesial seperti lebaran atau acara keluarga.
''Ummi sengaja membuat banyak untuk di bawa sebagian ke panti.'' Ucap ummi karena ia merasa senang saat Hanif mengajak ummi ke panti.
__ADS_1
Ada rasa bahagia yang ummi rasakan ketika berada di sana sosok anak-anak kecil itu membuat ummi teringat Hanif saat kecil. Ummi selalu berharap ingin mempunyai anak kembali tapi mungkin Allah berkehendak lain karena sampai ummi menginjak usia lanjut ia tidak kunjung mendapat malaikat kecil lagi mungkin hanya Hanif lah anak yang ummi miliki.
Abi tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah istrinya ia merasa sangat bersyukur karena masih mampu melihat keluarganya.
''Abi tumben tidak lama mengisi acara tausiyah.'' Hanif berkata karena biasanya abi nya akan sangat lama jika mengisi acara tausiyah.
''Iya lagian hanya acara peresmian masjid yang berada di ujung kampung ini han, abi sengaja pulang lebih awal saja karena tinggal perjamuan saja.'' Terang abi pada Hanif.
Hujan yang tak kunjung reda menambah kesunyian tapi berbeda dengan keluarga abi abdullah mereka menikmati setiap kebersamaan dengan kehangatan keluarga kecilnya meski kini terasa kurang lengkap karena Syifa sang menantu yang masih belum bisa bersama mereka.
''Han apa sebaiknya jika satu bulan sekali saja kamu mengunjungi Syifa tidak baik jika membiarkan istri kamu seperti itu.'' Tutur abah karena menurut abah bagaimana pun kehadiran suami adalah suatu kebahagian yang amat besar yang akan istrinya rasakan.
''Entah lah bi, aku hanya khawatir jika aku malah mengganggu waktu Syifa. Abu tahu mungkin Syifa sekarang sedang di sibukkan dengan berbagai tugas yang mungkin saja akan menyita waktu nya, belum lagi ujian yang akan di adakan hanya beberapa bulan lagi saja belum lagi ketika Syifa di pondok mungkin banyak sekali waktu yang ia habiskan untuk menghapal.'' Tutur Hanif karena menurut Hanif Syifa akan lebih sibuk dan jika seperti itu waktu yang Syifa luangkan saat ia bersama Hanif akan menganggu nya.
Hanif sendiri ingin sekali segera berkunjung kembali pada istrinya tapi apa yang harus ia lakukan si saat waktu yang terasa tidak berpihak pada nya.
Melihat Syifa saja dalam video call sudah bisa membuat dirinya sangat bahagia apalagi dengan bertemu langsung.
''Kalau menurut ummi sih, tidak salah mencoba justru dengan kehadiran kamu di saat Syifa sedang dalam masa-masa seperti itu ia akan merasa mendapat dukungan. Kamu boleh tinggal di sana beberapa hari biar abi saja yang mengambil alih pondok untuk sementara waktu.'' Ucap ummi sambil melirik suaminya meminta penyetujuan pada nya.
''Iya abi akan senang jika begitu, ummi mu saja waktu dulu sering abi tinggalkan dia selalu menangis jadi ya ummi lebih paham tentang perasaan wanita.'' Kekeh abi karena kini istrinya malah memicingkan matanya namun tetap saja wajah malu ummi tidak bisa di sembunyikan.
Mereka pun tertawa tapi memang benar, Istri mana yang akan tahan jika selama itu di tinggalkan suami nya, akan ada rasa bahagia ketika kehadiran sangat suami yang selalu mendukung ketika istrinya sendiri sedang menghadapi suatu masalah terlebih jika seperti posisi Syifa sekarang.
Abi dan ummi merasa jika seandainya hal yang di takutkan Syifa adalah mereka mengetahui pernikahan nya dengan Hanif adalah salah biar bagai mana pun lambat laun mereka akan tahu dan ummi rasa pernikahan mereka tidak perlu di tutupi lagi karena sebentar lagi Syifa akan lulus.
__ADS_1
......................