Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 12


__ADS_3

Abah dan ummi yang mendengar perkataan Yusuf tentunya sangat terkejut dengan perkataan anak mereka.


''Kenapa terburu-buru apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu Yusuf?'' Tanya abah yang tidak habis pikir dengan anaknya menurutnya itu sangat terlalu cepat bahkan Syifa baru beberapa hari disini.


''Iya bah, terus terang yusuf juga belum yakin dengan apa yang yusuf rasakan tapi sejak Syifa berada di pondok ini entah kenapa aku selalu saja memikirkannya bah, aku sudah sering berdoa bah agar aku tidak selalu memikirkannya tapi semakin aku berusaha aku semakin tidak bisa.'' Yusuf tertunduk lesu ia tak mengerti dengan dirinya sendiri.


''Yusuf minta maaf bah, jika Yusuf tidak bisa menerima perjodohan itu.'' Yusuf menundukkan kepalanya iya tak sanggup jika Abah nya akan terlihat sangat kecewa pada dirinya'


''Apa kamu sudah yakin?''


''Insyaallah bah Yusuf yakin dengan keputusan Yusuf.''


''Abah mau kamu pikirkan kembali istikharah lah nak serahkan semuanya dan mintalah petunjuk dari Allah.'' Tutur abah pada putra sulungnya.


Syifa yang sudah siap dengan buburnya pun datang dan mendekati abah dan ummi yang sedang mengobrol dengan Ustadz Yusuf juga.


''Kamu sudah beres Syifa?'' tanya ummi dengan senyum hangatnya.


''Iya ummi tapi ini buburnya masih sedikit panas.'' Cicit Syifa yang menaruh bubur itu di meja.


''Duduklah nak!'' Tutur abah dengan menatap Syifa dengan senyum abah memintanya agar duduk.


''Terimakasih bah tapi Aku masih belum beres bah masih ada pekerjaan di dapur,'' karena ia sedikit tidak nyaman jika ia harus duduk bersama mereka.


''Tidak nak, abah mau bicara sesuatu.''


Yusuf terkejut saat Abah nya bicara pada Syifa ia mulai menebak-nebak dan menatap Abah nya penuh selidik. Tapi berbeda dengan abah, abah sedikit menampilkan senyumnya pada Yusuf yang saat ini sedang tak karuan.


Syifa yang mendengar perkataan abah pun segera duduk di samping ummi ia cukup gugup dan mencoba menenangkan diri.


''Sebelumnya abah mau bertanya tapi abah mau kamu jujur.''


Syifa tidak menjawab perkataan abah ia mencoba mencerna setiap perkataan yang abah ucapkan.


''Apa kamu sudah memiliki seseorang di hati kamu atau kekasih hati?'' Syifa yang sejak tadi hanya diam ia kini menatap lekat-lekat sosok seorang guru besarnya.


''Jawablah nak apa kamu sudah memilikinya?'' Tanya abah kembali yang menanti jawaban dari Syifa.


Syifa dengan sedikit gugup pun mulai menjawab pertanyaan dari abah.

__ADS_1


''Aku belum memilikinya bah.'' cicit Syifa yang terdengar jelas di telinga Yusuf dan abah.


Ummi yang juga mendengar perkataan Syifa hanya tersenyum, ummi tahu jika anak sulungnya itu memang mencintai Syifa.


''jika abah melamar kamu untuk anak abah Yusuf, apa kamu akan bersedia Syifa?'' Tanya abah dengan senyum yang terus terlihat.


Syifa dan Yusuf sangat dibuat kaget oleh abah mereka saling pandang dan meminta abah untuk menjelaskan semuanya.


Yusuf sangat berharap jika perasaannya tersampaikan oleh dirinya sendiri ia tidak mau jika Syifa menerima Yusuf karena tidak enak hati oleh abah, tapi abah terlanjur lebih dulu mengatakan semuanya. Yusuf hanya bisa pasrah akan semua jawaban yang akan ia dengar langsung bahkan hari ini juga, Yusuf sangat tidak menyangka. ''Bukannya abah menyuruhnya untuk istikharah, tapi kenapa abah malah menanyakan lebih dulu pada Syifa,'' gerutu Yusuf yang tidak habis pikir dengan apa yang Abah nya lakukan.


Syifa yang bingung dengan jawaban apa yang akan ia berikan ia hanya menunduk.


''Syifa apa kamu menerimanya?'' Jika kamu belum siap abah akan beri kamu waktu untuk berfikir.'' Tutur abah kembali.


Syifa kembali menatap abah lekat-lekat sungguh ia merasa sangat gugup.


''Abah, sebelumnya Syifa minta maaf.'' Lirih Syifa berkata.


jantung yusuf seketika terasa berhenti saat Syifa berkata maaf ''Mungkin benar Syifa tidak pernah menaruh hati padaku.'' lirihnya dalam hati.


Syifa melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti.


Abah yang mendengar semua itu hanya tertawa kecil.


''Dari mana kamu mengetahui semua itu Syifa?'' Syifa hanya diam dan tak menjawab sementara Yusuf yang tak sedikitpun bicara ia hanya diam dan meminta Abah nya untuk tidak melanjutkan perkataannya dengan memberi kode kedipan mata pada abah nya.


''Kalau Yusuf sudah memiliki pasangan saya tidak akan mungkin meminta kamu untuk menerima Yusuf, jadi apa kamu bersedia Syifa?''


''Yusuf bicaralah.'' ummi memegang tangan Yusuf agar ia bicara langsung pada Syifa.


''Mmm aku'' suara Yusuf yang terhenti karena iya begitu gugup.


Ummi yang melihat ekspresi anaknya hanya tersenyum, andai tidak ada Syifa mungkin ummi dan Abah nya sudah menertawakannya.


''Aku ingin kamu menjadi istriku Syifa.'' kata-kata itu lolos dari mulut Yusuf dengan sempurna.


Seketika Syifa menatap Yusuf dengan tak percaya.


''Apa kamu bersedia untuk menjadi calon istriku?''

__ADS_1


''Syifa gak bisa untuk jawab sekarang Ustadz, abah Syifa benar-benar minta maaf.'' Syifa hanya tertunduk kembali ia benar-benar tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini Syifa pun harus meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya karena ia pun tidak mau menyakiti Ustadz Yusuf.


''Aku akan menunggunya.'' jawab Yusuf dengan penuh harapan.


''Syifa, abah tidak memaksa kamu,dan Yusuf juga akan menunggu jawaban mu, istikharah lah nak, mintalah petunjuk dari Allah.''


Sementara Nadia yang hendak memasuki rumah abah untuk menemui ummi ia pun terdiam di balik pintu ia mendengar semua perbincangan itu.


Nadia pun berlari ia yang sesekali menghapus air matanya, ia tidak menyangka kedatangannya akan mendengar kenyataan yang sangat pahit baginya.


Mencintai seseorang yang dari dulu menemaninya bahkan saat ini di saat ia benar-benar mencintai Yusuf tapi ternyata yusuf tak pernah sedikitpun membalas cintanya.


''Kenapa Yusuf, kenapa kamu buat aku terluka.'' kata- kata itu yang selalu ia ucapkan yang sesekali menghapus air matanya.


''Harusnya aku tau kamu tidak pernah mencintai aku, aku terlalu bodoh karena aku benar mencintai mu yusuf.''


''Aaahhhh....!'' Nadia berteriak ia melempar semua barang yang ada di dekatnya ia menyesali atas apa yang ia perbuat.


.


.


Syifa pun pamit kembali ke dapur karena beberapa pekerjaannya belum ia selesaikan.


Arini yang tidak tahu dengan apa yang terjadi ia masih sibuk dengan membereskan setumpuk piring yang di tinggalkan Syifa.


''Aku kira kamu balik ke kamar.''


''Enggak rin aku dari depan, ayo kita beres-beres lagi.'' mereka pun kembali dengan pekerjaannya.


''Abah, kenapa abah lebih dulu bicara semuanya pada Syifa?'' tanya Yusuf yang mulai frustasi.


''Tenang lah, abah mau dengar dengan jelas sebelum abah mengambil keputusan.''


Abah memijit pelipisnya ia sedikit terkejut dengan semuanya abah harus memikirkan apa yang akan ia bicarakan saat Husein menanyakan tentang perjodohan yang sangat di harapkan oleh Abi nya Nadia.


...Siapa yang lebih cocok untuk yusuf yah… jawab di Komen ya😉...


...Mohon maaf ya jika tulisannya masih acak-acakan mohon untuk berikan saran dan masukan yang membangun terimakasih😘...

__ADS_1


__ADS_2