
Syifa dan Hanif melaksanakan shalat berjamaah. mereka sangat bersyukur karena mendapatkan pasangan yang baik.
Syifa menerima uluran tangan Hanif dan untuk ke dua kalinya ia kembali mengecup tangan yang telah sah menjadi suaminya itu.
Hanif pun kembali mencium kening sang istri dengan perasaan yang tidak hentinya merasa syukur kepada sang Pemiliknya.
Syifa pun membereskan alat shalat yang telah mereka gunakan ia kembali ke kasurnya dan merebahkan tubuh mungilnya karena sudah sangat lelah, hingga ia tertidur tanpa menunggu Hanif yang sedang berada di kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu Hanif yang telah selesai ia kembali ke kasurnya ia melihat Syifa yang kini telah tertidur dengan pulas nya. Seulas senyum yang kini menghiasi wajah tampan nya. Hanif pun mencium kembali kening Syifa dan beralih ke pipi yang begitu terasa menggoda nya.
Syifa yang merasa terganggu ia pun menggeliat tanpa sedikit pun membuka matanya. Hanif hanya tersenyum jantungnya kini berdetak begitu kencang karena selama ini ia baru merasakan sebuah ciuman.
Hanif pun memutuskan untuk segera tidur bersama Syifa, ia tidak ingin jika dirinya terus memandangi Syifa ia tidak bisa menahan diri. Hanif tidak akan meminta haknya kepada Syifa ia tahu jika Syifa memang belum siap. Terbukti dengan apa yang ia lihat Syifa tidur dengan menggunakan kerudung di kepalanya. Ia akan berusaha bersabar dan menunggu cinta yang akan tumbuh dengannya dengan seiring waktu berjalan.
''Semoga kamu akan mencintaiku.'' Tutur Hanif yang kemudian mencium kembali pipi yang membuatnya selalu ingin melakukannya.
pukul tiga malam.
Hanif yang selalu melaksanakan shalat tahajud ia pun bangun dari tidurnya. Ia melihat istrinya yang masih terlelap.
Hanif pun melangkahkan kakinya perlahan dan segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan berwudhu.
Beberapa menit berlalu ia pun kembali ke kamarnya namun betapa terkejutnya kini ia melihat Syifa yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan tersenyum menatapnya.
''Astagfirullah.'' Hanif sontak membuka lebar matanya meski akhirnya ia pun tertawa karena ternyata istrinya yang sedang melihatnya.
''Ustadz ko gitu sih, memangnya aku hantu.'' Tutur Syifa yang mengerucutkan bibirnya. Ia sedikit kesal karena Hanif seakan melihat setan yang berdiri di hadapannya.
''Bukan gitu, aku kira kamu masih tidur jelas aku kaget.'' Tutur Hanif yang masih menahan tawanya.
Syifa pun tak menghiraukan Hanif yang seakan menertawakannya. Ia pun berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal.
__ADS_1
''Ustadz aneh, emangnya wajah aku menakutkan apa.'' Ucap Syifa yang masih kesal.
Sementara Hanif ia jadi kebingungan dengan apa yang terjadi pada Syifa. Sungguh ia tidak bermaksud seperti itu hanya saja ia benar-benar kaget mendapati seseorang yang tersenyum menatapnya. Hanif pun tersenyum kembali mengingat kejadian yang baru ia alami sungguh ia sangat gemas dengan istrinya itu.
Syifa yang telah selesai ia pun kembali ke kamarnya terlihat Hanif sedang menunggunya untuk melaksanakan shalat sunnah berjamaah.
Syifa masih sedikit kesal dengan perlakuan Hanif. Ia pun berjalan menghampiri Hanif yang telah menggelar sajadah untuknya juga.
Hanif hanya tersenyum ia sangat bahagia karena kini ia akan melaksanakan shalat bersama istrinya sesuatu yang sangat romantis menurut Hanif.
''Kamu masih marah? tidak baik shalat tapi masih menyimpan amarah. Apalagi kamu marah sama suami kamu sendiri.'' Tutur Hanif menggoda Syifa yang masih terlihat tak bersahabat.
''Iya lagian siapa yang salah.'' Ucap Syifa ketus. Ia tidak menghiraukan Hanif yang terus setia menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut.
''Oke, Aku minta maaf sayang.'' Tutur Hanif dengan senyum yang masih terlihat.
Seketika Syifa menatap Hanif.Ia kembali merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang ada perasaan aneh yang ia rasakan tapi tidak dapat di pungkiri ia bahagia ketika Hanif memanggil sayang untuk dirinya.
''Baiklah kalau begitu kita shalat.'' Tutur Hanif mengusap punggung Syifa dan segera berdiri untuk melaksanakan shalat.
Syifa pun mengikuti apa yang Hanif katakan. ia merasa bahagia karena untuk ke dua kalinya Hanif bersikap tenang dan lembut kepada dirinya.
.
.
Pagi telah menjelang sepasang pengantin baru itu masih setia di kamar mereka. Entah apa yang mereka lakukan. Mira merasa sangat bahagia karena putrinya kini telah menjadi seorang istri dari ustadz yang pastinya ia adalah sosok lelaki yang baik.
Mira pun menyiapkan makan untuk keluarganya bersama ummi kulsum yang kini menemaninya.
terlihat ummi yang juga sangat bersikap baik membuat Mira bernapas lega ketika putrinya nanti akan bersama mereka.
__ADS_1
''Ibu.'' Sahut Syifa yang kini menghampiri ibunya.
''Eh ada ummi.'' Syifa sedikit malu ternyata ummi juga sedang membantu ibunya memasak.
''Syifa bikin ibu kaget saja. mana suamimu? apakah sudah bangun?'' tanya ibu yang heran dengan kelakuan anaknya.
Ummi tersenyum melihat menantunya yang terlihat seperti manja kepada ibu nya itu.
''Ummi Syifa itu memang seperti ini untung saja ummi tidak kaget dengan kelakuan kamu yang seperti itu. kamu harusnya lebih anggun sayang kamu sudah menikah.'' Tutur Mira yang membuat Syifa cemberut.
''Maaf ibu, aku lupa kalau aku sudah menikah.'' Ucap Syifa yang kini membantu ibu dan juga ummi untuk memasak.
Hanif merasa serba salah ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia pun akhirnya turun ke ruang keluarga mungkin abi dan ayah Syifa sedang berada di sana pikir Hanif yang kini melangkahkan kakinya ke ruang keluarga.
Terdengar suara tawa yang sangat ia kenal. Hanif pun mengurungkan niatnya untuk ke ruang keluarga ia pun melangkahkan kakinya ke ruangan yang terdengar begitu hangat dengan suara obrolan.
Hanif melihat kedua orang tuanya dan juga Syifa yang tengah asik memasak dan mengobrol. Ia pun begitu bahagia melihat senyum yang jarang ia lihat pada ummi nya itu.
''Hanif.'' Tutur Mira yang melihat keberadaan menantunya itu.
Hanif yang sedang berdiri di ambang pintu dapur ia pun sedikit terkejut. Ia pun tersenyum ke arah mertuanya itu.
''Ustadz mau apa? Ustadz mau minum?'' tanya Syifa yang menatap suaminya itu.
''Iya,'' tutur Hanif ragu mereka masih canggung dengan hubungan mereka apalagi harus berinteraksi bersama kedua orang tua Syifa yang baru saja Hanif kenal.
''ko masih panggil Ustadz sih?'' goda Mira pada putrinya itu dan membuat Syifa salah tingkah.
Kedua pasangan itu pun saling pandang mereka bahkan belum memikirkan panggilan apa yang akan mereka ucapkan untuk pasangan mereka sendiri.
''Iya ibu, biar aku pikirkan lagi.'' Tutur Syifa yang merasa malu. ia pun segera membawakan segelas air putih untuk Hanif yang masih setia menanti.
__ADS_1
......................