Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 131


__ADS_3

''Ummi tenang lah pokonya ummi persiapkan saja keperluan yang akan Yusuf butuhkan dan soal kedua orang tua Arumi abah sudah memberitahu sejak kemarin dan mereka setuju.'' Abah tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat sangat cemas.


Hari pernikahan Yusuf dan Arumi sudah di tetapkan tanggalnya tinggal menghitung hati Arumi dan Yusuf akan segera menjadi sepasang suami istri. Bahkan undangan sudan di sebar luaskan hanya Arumi saja yang belum Yusuf beritahu karena Yusuf tidak ingin jika Arumi tidak fokus pada ujian nya yang dua hari lagi akan selesai.


Yusuf sengaja mempersiapkan pernikahan nya dengan sendiri ia tidak ingin melibatkan pernikahan nya kepada pihak wanita karena menurut Yusuf pernikahan yang akan ia jalani adalah pernikahan dirinya ia juga bertanggung jawab pada Arumi setelah mereka menikah jadi tidak ada salah nya jika ia ingin pernikahan nya sesuai keinginan dirinya.


''Arin.'' Arumi membangunkan Arin yang sedang tertidur karena sepulang dari madrasah ia malah tertidur dengan pulas.


''Apa sih Arumi aku masih ngantuk.'' Arin sedikit kesal karena tak biasanya ia mengantuk seperti ini.


''Kita harus beres-beres di rumah abah. Lagian ini jadwal kita bahkan minggu kemari jadwal kita udah Syifa dan Desi yang ambil.''


Arin bangun dari tidur nya meski ia masih merasa sangat mengantuk tapi memang benar juga ia harus melaksanakan tugas nya.


''Ya sudah bentar aku mau cuci muka dulu.'' Arin beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah nya hanya untuk membuat wajah nya segar dan menghilangkan kantuk yang kini masih memaksa dirinya untuk tidur.


. Arumi bersiap ia segera memakai kerudung nya dan menunggu di ambang pintu. Lima menit telah berlalu kini Arumi sudan siap mereka pun berjalan beriringan menuju rumah abah.


''Desi dan Syifa kemana yah?'' tanya Arin karena sejak pulang ia tidak melihat Syifa dan juga Desi.


''Paling mereka ke taman biasa lah yang saling rindu.'' Jawab Arumi yang sudah jalan lebih dulu karena Arin berjalan dengan pelan.


''Assalamu'alaikum.'' Salam Arin mengetuk pintu rumah abah.


''Waalaikumsalam.'' Salam dari dalam rumah. Ummi segera membuka pintu untuk mempersilahkan santri nya masuk.


''Arumi, Arin ayo masuk.'' Ucap Ummi ramah.


Ummi ingin sekali memberitahu pernikahan yang akan arumi laksanakan tapi benar apa yang Yusuf kasihan ia masih harus memikirkan ujian yang belum selesai membuat ummi mengurungkan niat nya.


Arumi dan Arin segera pergi ke dapur dan membantu ummi untuk membersihkan rumah nya.

__ADS_1


''Ummi.'' Terdengar suara Yusuf dari lantai atas ia hendak turun dan sepertinya ia akan pergi.


''Apa yus?'' tanya Ummi melihat putranya sudah terlihat rapih.


''Kamu mau pergi?'' tanya ummi saat Yusuf sudah berada di hadapan nya.


''Aku mau meme-'' Yusuf tidak melanjutkan perkataan nya saat ia melihat Arumi yang sedang membereskan meja.


''Aku hatur pergi dulu ummi.'' Yusuf segera menyalami ummi meski sekilas ia saling tatapan muka dengan Arumi.


''Ya sudah hati-hati.'' Ucap Ummi mengusap punggung putranya dan membiarkan Yusuf keluar tanpa bertanya kembali.


Biasanya ummi akan menanyakan dengan detail kemana putra nya akan pergi tapi kali ini ummi tahu jika Yusuf akan menyelesaikan keperluan pernikahan nya dan tak mungkin ummi membahasnya di depan Arumi.


Arumi kembali fokus meski setiap ia melihat Ustadz Yusuf ia sekali berdebar hal yang pernah ia rasakan tapi sejak ia menerima Ustadz Yusuf perlahan perasaan itu muncul secara tiba-tiba.


Ia kembali membereskan tumpukan buku di meja yang berserakan dengan koran dan juga berbagai buku lain nya namun selembar kertas berwarna ungu jatuh ke lantai membuat Arumi segera mengambil nya.


Betapa Arumi terkejut nya saat ia melihat ternyata sebuah undangan pernikahan nya dengan Ustadz Yusuf dan saat ia melihat tanggal pernikahan nya hanya empat hari lagi sejak saat ini ia akan menikah.


Arumi segera berjalan ke arah halaman rumah menghampiri ummi yang sedang merapikan bunga miliknya.


''Ummi.'' Lirih Arumi pelan.


Sebenarnya Arumi tidak mempunyai keberanian untuk bertanya soal undangan ini tapi bagaimana jika benar Arumi tidak bisa diam saja.


''Ya Arumi.'' Ummi memperhatikan Arumi namun raut wajah nya berubah seketika saat ummi melihat kertas undangan pernikahan nya yang sedang Arumi pegang.


Ummi menyuruh Arumi agar duduk terlebih dahulu dan langsung di turuti oleh Arumi dengan terus saja menatap wajah Ummi. Arumi ingin segera ummi menjelaskan semuanya.


''Maafkan ummi nak, jika ummi belum memberitahu jika pernikahan kalian akan segera di langsungkan.'' Ucap ummi berkata dengan hati-hati karena melihat Arumi seperti ingin menangis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Arumi tahu jika ia tidak berhak namun ia sangat kecewa hal sebesar ini tak sedikit pun memberitahu nya apalagi hanya empat hari lagi pernikahan nya akan segera di langsung kan.


''Ummi harap kamu tidak marah Arumi.'' Ucap ummi berkata lembut dan menjelaskan kenapa ummi sendiri menyembunyikan perihal pernikahan nya pada Arumi.


Arumi hanya menatap tidak percaya ia merasa sangat mendadak apalagi ia sendiri baru saja selesai ujian.


''Tak apa-apa nak lebih cepat lebih baik. Lagi pula pernikahan bukan akhir dari segalanya perjalan hidupmu justru awal dari semua kehidupan mu.'' Ummi berusaha menenangkan agar Arumi tidak salah paham.


Arumi tidak banyak berbicara ia hanya diam dan tak tahu harus bereaksi apa.


Meski di dalam lubuk hatinya ia sangat kecewa atas keputusan yang telah ditentukan bahkan kedua orang tuanya sendiri tidak mengetahui nya.


.


.


''Kak.'' Adi menepuk pundak kakak nya.


Karena sejak tadi Adi hanya melihat Yusuf hanya terdiam bahkan mungkin kehadiran nya saja tak di sadari oleh Yusuf.


Yusuf menoleh sesaat dan kembali menatap langit yang mulai menguning karena sudah sore hari.


''Apa sih yang kakak pikirkan. Kenapa masih galau sih kan sebentar lagi mau menikah,'' goda Adi untuk mencairkan suasana.


Yusuf menarik napasnya dan menutup matanya seolah menenangkan dirinya.


''Apa kakak tidak yakin dengan pernikahan ini atau jangan bilang kakak masih menyukai Syifa?'' Adi menebak karena tidak sedikit pun kakak nya menjawab setiap perkataan nya. Namun kali ini perkataan Adi sontak membuat Yusuf membuka matanya lebar.


''Apa sih di, ngaco kamu.''


''Lalu kenapa melamun aja sih?'' Adi mengerutkan kening nya karena seolah kakak nya sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


''Aku hanya takut jika keputusan aku terburu-buru di apalagi undangan sudah tersebar aku hanya takut jika Arumi belum siap.'' Lirih Yusuf meski ia sudah berapa kali mengingatkan dirinya tapi entah kenapa ingin rasanya ia segera menikahi Arumi dan menjadikan dia sebagai istri yang akan menemani dirinya seumur hidupnya.


......................


__ADS_2