Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 66


__ADS_3

Hari-hari yang kini Hanif rasakan terasa begitu berwarna dengan kehadiran Syifa membuat Hanif merasa sangat bahagia ia yang dulu jarang terlihat tersenyum namun kini ia sangatlah berubah.


Hanif pun menggenggam lengan Syifa menuntunnya untuk masuk kembali kedalam rumah yang kini akan ia tempati bersama keluarga Hanif.


Syifa belum mengetahui jika Keluarga Hanif mempunyai pondok pesantren yang terletak di belakang rumahnya. Hanif sengaja belum memberi tahunya dan tak membahas permasalahan itu.


''Ummi, kenapa ummi tidak bilang jika ummi tadi sedang memasak mungkin Syifa akan membantu ummi.'' Tutur Syifa yang merasa bersalah karena tidak membantu ibu mertuanya.


''Tidak apa-apa lagian ada bi Lastri yang membantu ummi.'' Tutur ummi pada Syifa.


Syifa menganggukkan kepala dan ikut bergabung dengan mereka untuk makan bersama. Suasana baru yang pertama ia rasakan. Ada kebahagian yang menyelimutinya sekarang ia sangat bahagia karena ummi dan abi begitu baik padanya dan Hanif sendiri terlihat bahwa ia sangat menyayanginya terbukti dari sikap lembut yang selalu ia tunjukan padanya.


''Ayo nak, jangan sungkan anggaplah seperti berada di rumah kamu sendiri.'' Abi Abdullah menatap lembut menantunya itu.


''Terima kasih abi.'' Sahut Syifa yang merasa sedikit sungkan meski kedua mertuanya sangat baik.


Mereka pun memakan makanan yang telah terhidang Syifa pun membantu Hanif untuk membawakan lauk pauk dan menaruhnya di piring suaminya itu dan makan bersama.


Tidak ada obrolan seperti yang selalu terjadi di saat Syifa dan kedua orang tuanya makan. Syifa memang selalu mengobrol bahkan bercanda saat di ruang makan jika bersama ibu dan juga ayahnya karena saat makanlah mereka akan menghabiskan waktu bersama. sangat jarang sekali untuk keluarga kecil Syifa untuk berkumpul bersama, mungkin dalam seminggu hanya beberapa hari saja atau jika hari libur mereka akan menghabiskan waktu untuk kumpul keluarga.


Syifa tidak merasa aneh jika ummi dan abi tidak berbicara saat makan karena ia pun mengerti adab ketika makan ia pun menghargai dan menerapkan apa yang selalu ibunya ajarkan meski di keluarganya sendiri ia tidak menerapkannya.


Syifa yang telah selesai makan ia pun membantu bi Lastri untuk membereskan piring-piring kotor yang telah mereka gunakan. Ummi melihat Syifa terlihat sangat berbeda dari yang pertama ia lihat di rumah ibunya.


''Ummi jadi merepotkan kamu sayang.'' Tutur ummi yang kemudian membereskan dapur karena terlihat sedikit berantakan.


''Tidak apa-apa ummi hanya sekedar membantu membereskan ini Syifa bisa ko.'' Ucap Syifa yang memang sudah biasa juga ia membantu pekerjaan rumah.


Ummi pun mengusap punggung Syifa ia merasa sangat bahagia karena merasakan seperti memiliki seorang putri yang sudah sejak dulu ia dambakan.


.


.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat terdengar lantunan adzan magrib berkumandang.


Hanif yang sudah berpakaian rapih ia pun berjalan menuruni tangga. Terlihat Syifa yang sedang duduk di ruang tamu bersama ummi.


''Mas mau ke masjid?'' tanya Syifa yang melihat Hanif telah rapih.


''Iya aku pergi dulu, apa abi sudah berangkat?'' tanya Hanif yang hendak ke arah pintu.


''Abi sudah berangkat katanya ada perlu sebentar sama Ustadz Rizal.'' Sahut ummi menimpali.


Hanif hanya menganggukkan kepala artinya dia mengerti dan berjalan kembali meninggalkan kedua wanita itu yang akan melaksanakan shalat di rumah.


''Oh ya ummi hampir saja lupa, ummi akan berangkat setelah shalat magrib bersama abi, mungkin tidak akan lama, kamu di rumah saja bersama bi Lastri karena Hanif akan keluar bersama karena abi tidak terbiasa menjalankan mobil sendiri ketika malam.'' Tutur ummi memberi tahu.


''Memang ummi mau pergi ke mana?'' tanya Syifa penasaran karena Hanif tidak memberi tahunya jika ia kan pergi keluar bersama ummi dan juga abi.


''Ada pengajian yang harus kami hadiri. Paling jam sepuluh juga kami sudah kembali, tidak apa-apa kan?'' tanya ummi meminta jawaban dari menantunya itu.


''Baiklah ummi akan shalat dulu dan segera bersiap.'' Ummi pun berjalan pergi ke kamarnya. Sementara Syifa ia pun berjalan menaiki tangga untuk segera pergi ke kamarnya.


Perlahan Syifa membuka pintu yang kini menjadi tempat favoritnya sejak ia berada di rumah Hanif ia selalu senang jika tinggal di kamar Hanif.


Aroma maskulin yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya itu membuat dirinya terasa lebih tenang dan nyaman. Bau yang selalu ia rindukan dan membuatnya terlena membuat Syifa betah berlama-lama di kamarnya.


Syifa pun berjalan ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya kembali ia pun segera mengganti pakaiannya dengan stelan piyama berwarna pink. Pakaian yang menutup seluruh tubuhnya itu ia kenakan Syifa pun membasuh wajahnya dan segera berwudhu.


Suara gemericik air dari dalam kamar mandi dengan aroma wangi strawbery itu masuk ke dalam hidung Hanif.


Hanif yang sudah pulang dari masjid ia pun duduk di sofa yang berada di kamarnya. Hanif membuka lembaran kitab yang akan ia jadikan untuk tausiyah saat ia mengaji dengan ummi dan juga abi nya.


Terkadang Hanif lah yang mengisi acara jika abi menyuruhnya maka Hanif akan senang hati memberikan tausiyahnya. Namun jika abi memberikan tausiyah Hanif akan dengan senang hati mendengarkan karena tugas utama Hanif adalah mengantar kedua orang tuanya untuk mengisi acara pengajian.


Abi yang terbilang sudah cukup berusia membuat Hanif khawatir jika abi menyetir mobil di saat malam karena penerangan jalan yang terbatas maka Hanif lah yang akan mengantar kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


Syifa yang sudah selesai dengan berwudhu ia pun kini memasuki kamarnya kembali tanpa memperhatikan Hanif yang kini sedang tersenyum ke arah istrinya itu yang sudah tidak mengenakan kerudung.


Terlihat rambut Syifa yang panjang dengan warna hitam pekat dan juga warna kulit yang putih bersih membuat Hanif tak ingin melewatkan pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.


''Mas. Ko sudah pulang lagi.'' tutur Syifa yang segera mengambil kerudungnya dari kasur.


Ia pun segera mengenakan kerudungnya kembali untuk menutupi kepalanya.


Hanif hanya tersenyum ternyata Syifa bukan benar-benar membukanya tapi Syifa melupakan kerudung yang ia pakaian atau karena dirinya yang tidak berada di kamar.


''Ya, mas mau antar abi dan ummi untuk pengajian jadi mas sengaja tunggu kamu untuk memberitahu dulu.''


''Oh.'' Syifa membulatkan mulutnya dan segera menggelar sajadah karena ia belum melaksanakan shalat magrib.


''Kenapa harus di tutup kembali?'' tanya Hanif yang masih menatap istrinya yang sedang mengenakan mukena.


Syifa pun hanya menoleh ke arah Hanif dan tersenyum malu.


''Aku belum siap mas, aku merasa malu jika enggak pakaian kerudung.''


''Aku suka melihatnya, kamu terlihat sangat cantik tetaplah seperti itu jika kita bersama.'' Ucap Hanif yang menghampiri Syifa dengan sorot mata yang berbeda.


''Mas aku sudah wudhu nanti aku batal.'' Ucap Syifa dengan cemberut karena Hanif sepertinya akan menyentuhnya.


Namun Hanif yang benar-benar jahil ia pun malah mencium kembali pipi istrinya itu yang sudah memerah membuat Syifa cemberut karena harus kembali mengulang wudhu nya.


Hanif pun hanya tertawa karena tingkah dirinya membuat Syifa berdecak kesal.


''Aku hanya mencium pipi saja sayang.'' Tutur Hanif yang melihat istrinya cemberut.


Sementara Hanif ia begitu senang membuat Syifa kesal dan mengusap kembali pipi Syifa yang tengah merona kembali.


......................

__ADS_1


__ADS_2