
Syifa dan Hanif sedikit mengobrol membuat Syifa kembali merasa senang karena sikap Hanif yang selalu menenangkan dirinya.
''Ya sudah mas aku mau siap-siap ke masjid. Mas juga ya.''
Syifa mengakhiri panggilan nya dengan Hanif setelah satu sama lain saling mengucapkan salam.
Syifa bangun dari duduknya dan segera membuka pintu karena ia tidak ingin jika ke tiga sahabatnya terlalu lama menunggu di luar karena mereka akan segera mengaji ke masjid. Hanya beberapa menit lagi saja adzan ashar akan berkumandang.
''Cie yang udah baikan.'' Kata Arin di balik pintu membuat Syifa bersemu merah.
''Apa sih, ayo masuk nanti kita telat.'' Ucap Syifa sambil berlalu ke kasurnya lagi setelah membuka pintu kamar. Ia segera menyiapkan mukena yang akan ia pakai juga beberapa kitab yang akan ia gunakan di masjid.
''Oh ya aku lupa jika kali adalah jadwal kuis. Aduh gara-gara kamu sih fa aku jadi gak sempat menghafal.'' Gerutu Arin karena dia dilarang masuk oleh Arumi karena katanya Syifa sedang menelpon Ustadz Hanif.
''Gak apa-apa lagian kita semua gak ada yang hafal sudah jelas kamu yang bakal paling bisa jawab.'' Kekeh Syifa karena Arin memang santri yang paling pintar di antara mereka.
Terdengar suara lantunan adzan kali ini Yusuf mengumandangkan adzan di masjid.
''Syifa cepat nanti kita telat.'' Sahut Desi yang sudah tidak tahan ingin buang air.
''Bentar.'' Syifa berteriak dari dalam dan beberapa menit kemudian ia keluar.
''Lama banget nanti kita telat.''
Syifa hanya hanya menanggapi dengan gumaman dan segera bersiap.
Kini mereka telah selesai tanpa menunggu lama mereka segera berlari ke arah masjid karena sebentar lagi akan di mulai shalat.
Semua santri dan santriwati sudah berbaris di barisan nya untuk segera melaksanakan shalat berjamaah.
Mereka hampir saja telat namun untung saja shalat belum di mulai.
Syifa dan ke tiga sahabatnya segera menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat berjamaah seperti biasanya dan akan di lanjutkan dengan berzikir dan mengaji.
.
.
__ADS_1
''Han kamu mau kemana?'' tanya ummi pada putranya karena kini ia terlihat sangat rapih.
''Aku ada perlu sebentar ummi.'' Sahut Hanif yang segera menghampiri ummi nya.
''Apa abi belum pulang?''
''Mungkin sebentar lagi. Han kamu sudah dya bulan belum juga mengunjungi istri kamu, Kamu jadi suami gak perhatian banget sih ummi saja merasa jika seperti itu pasti sedih.'' Ucap ummi yang segera duduk di kursinya ummi merasa jika Hanif sedikit keterlaluan pada Syifa bagaimana pun kini Syifa adalah istrinya harusnya ia mengunjungi Syifa dan meluangkan waktunya sebentar saja hanya untuk bertemu dengan dirinya.
''Iya ummi Hanif akan segera menemui Syifa. Ummi tidak usah khawatir.'' Hanif mencoba menenangkan Ummi memang sudah beberapa kali ummi memberitahu agar Hanif segera menemuinya entah ke berapa kali ummi selalu saja mengingatkannya.
Bukan karena ia tidak rindu atau dia tidak bertanggung jawab tapi keadaan memaksanya demikian.
Bahkan di saat esok ia berniat untuk pergi saja kini ia malah dapat panggilan lagi membuat ia ingin melihatnya secara langsung.
''Sebenarnya kamu ada kesibukan apa sih han. Ummi perhatikan hanya pondok dan juga restoran tapi kamu sangat sulit menyisihkan waktu saja.''
Ummi semakin kesal pada putranya karena dengan alasan sibuk ia selalu menghindari pertanyaan ummi.
Hanif tidak memberitahu siapapun soal perkembangan bisnis nya dan juga pembangunan pondok dan panti yang ia lakukan ia tidak ingin membuat orang lain merasa ikut campur dalam masalah pribadi yang ia rasa ia mampu menanganinya sendiri.
Hanif menarik napasnya panjang ia ingin sekali segera berangkat.
''Anak itu.'' Ummi geleng-geleng kepala dengan kelakuan Hanif yang membuat ummi saja merasa terabaikan apalagi Syifa.
Hanif segera menghampiri mobilnya dan mulai melajukan mobilnya ke jalanan meninggalkan ke diaman nya.
Dua puluh menit berlalu kini ia sudah sampai dimana pondok yang ia bangun telah selesai.
Ia meninjau beberapa keperluan yang ia rasa belum selesai.
''Bagaimana pak?''
''Terima masih saya suka. Jika ada kebutuhan lain segera hubungi saya.'' Mereka berjabat tangan dan Hanif segera pergi lagi ia ingin sekali pergi ke panti asuhan nusa untuk bertemu dengan anak-anak sebelum nanti malam ia akan pergi ke Bandung menemui istrinya.
Dua jam telah berlalu, jalanan yang tidak terlalu padat membuat Hanif dengan leluasa menjalankan mobilnya hingga kini ia telah sampai di depan panti asuhan nusa.
Hanif teringat kembali saat dirinya pergi bersama Syifa. Hanif tersenyum mengingat kejadian dimana Syifa selalu bertanya kemana ia akan membawanya dan ketika ia bermain bersama anak panti membuat Hanif merasakan cinta yang lebih pada Syifa.
__ADS_1
Syifa memang memiliki sifat ke ibuan membuat dirinya sangat di sukai banyak anak-anak dan cara mengasuh nya yang membuat ia sangat berkesan.
''Andai kamu ikut pasti kamu akan senang.'' Gumam Hanif pelan.
Hanif membuka pintu mobil dan segera turun dari dalam mobilnya.
Kalo ini Hanif tidak membeli banyak mainan ia membeli beberapa buku kisah-kisah teladan untuk anak-anak dan juga makanan yang selalu ia bawa.
Hanif berjalan ke arah ruang kepala panti dan mengetuk pintunya.
''Assalamualaikum.'' Salam Hanif di balik pintu.
Terdengar sahutan dari dalam dan langkah kaki yang mendekat.
''Pak Hanif. Mari masuk.''
''Tidak usah bu nanti saya lagian sudah hampir larut saya hanya ingin bertemu sebentar dengan anak-anak.''
''Baiklah.''
Mereka pun berjalan ke arah ruangan anak-anak dimana mereka sedang bermain karena jam belajar mereka sudah selesai beberapa jam yang lalu.
''Om Hanif!''
Mereka berlari menghampiri Hanif dan memeluk dirinya.
''Kalian sehat?'' tanya Hanif setelah anak-anak itu duduk kembali.
''Alhamdulillah oh sehat.'' Jawab serempak.
''Om kemana aunty Syifa? kenapa aunty Syifa tidak ikut?'' tanya seseorang dari mereka dan itu pertanyaan yang keluar dari anak yang tak lain adalah Raja anak yang dulu pernah membuat Syifa merasa bersyukur dengan kehidupannya sekarang.
''Aunty Syifa nya lagi mencari ilmu seperti kalian belajar disini nanti jika aunty Syifa sudah selesai pasti om akan bawa aunty berkunjung ke sini lagi.'' Tutur Hanif dan mulai bermain sebentar bersama mereka.
Hanif sangat senang ketika waktu itu Syifa mengajak main Raja dan Axel bersama.
Kebahagiaan seperti itulah yang selalu Hanif ingin lihat kelak bersama anak-anak mereka sendiri.
__ADS_1
Hanif sangat berharap jika Syifa segera lulus dan ia segera hamil ia ingin sekali segera mendapatkan anak dari Syifa dan bahagia bersama anak-anak mereka seperti kebahagiaan yang mereka rasakan ketika berada di panti.
......................