30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
kasih sayang bunda


__ADS_3

"Oh iya, aku kan harus jemput anak anak di sekolah, aku gak boleh lemah, aku harus kuat untuk kedua anakku" ujar Nadira berusaha kuat melawan rasa lemasnya saat ini.


Dengan penuh semangat, Nadira berjalan melewati kamar demi kamar di rumah sakit itu, dia harus berjalan lebih cepat agar bisa sampai disekolah tepat waktu, Nadira tidak mau kedua anaknya terlalu lama menunggu.


"Mana taksi online nya? perasaan sudah aku pesan" tanya Nadira.


Nadira berjalan menuju halaman rumah sakit untuk menunggu taksi itu, dia duduk di bawan pohong pucuk merah yang melindunginya dari panas terik matahari.


...๐ŸŒบDi kantor ๐ŸŒบ...


"Sayang, kamu dari mana saja sih? Aku udah nunggu kamu dari tadi" tanya Elsa yang melihat Bayu masuk ruangannya.


"Tadi aku ke sekolah dulu nganterin anak anak, maafin aku ya, kamu jadi nunggu lama" jawab Bayu.


Bayu duduk di sofa disusul Elsa yang duduk disampingnya, Elsa bermanja memeluk tubuh Bayu, bersandar di bahunya.


"Sayang, hari ini kita jalan jalan nya jadi kan? Berapa lama kita nginap disana?" Tanya Elsa


"Jadi dong sayang, memangnya kamu mau berapa lama disana?" Bayu balik bertanya kepada Elsa.


"Maunya lama sayang" jawab Elsa


"Aku juga maunya gitu sayang, tapi kan kamu tau sendiri sekarang aku masih berkeluarga, aku juga masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan, aku janji kalau kita sudah menikah, aku pasti akan mengajak kamu bulan madu ke tempat kesukaan kamu Disney, " ujar Bayu mengelus kepala Elsa dengan lembut


"Kamu gak bohong kn sayang" tanya Elsa merasa tidak percaya.


"Engga dong, aku gak akan berani berbohong sama kamu" jawab Bayu mencium keningnya.


"Terimakasih ya sayang" Elsa berterima kasih


"Sama sama sayangku" ujar Bayu


"Oh iya, kamu sudah makan belum mas? Ini sudah jam 12.30 lho, waktunya untuk kamu makan siang" tanya Elsa


"Belum sayang, ooohhh iya aku lupa kalau aku belum telpon Nadira, anak anak pasti udah nunggu dia di sekolah" ujar Bayu yang sangat mengkhawatirkan anaknya.


Bayu lupa kalau dia harus menelpon Nadira untuk menjemput anak anak, saking cemasnya dia sampai melepaskan pelukan Elsa lalu mencoba mencari ponselnya di dalam tas.


Dia mencoba menghubungi Nadira.


"Tidak biasanya mas bayu seperti ini, ada apa sebenarnya? Tumben dia memperhatikan anak anak nya seperti ini" batin Elsa

__ADS_1


...Tuuuuuutt...


...Tuuuuuutt...


...Tuuuuuutt...


...Terdengar panggilan yang belum di angkat...


๐Ÿ“žHallo mas" jawab Nadira mengangkat telpon dari suaminya


๐Ÿ“žHallo Nadira, kamu lagi dimana?" Tanya Bayu.


Dia merasa tidak enak, Karena dia tidak pernah menelpon Nadira sebelumnya.


๐Ÿ“žAku lagi di sekolah mas, ini aku lagi sama anak anak, memangnya kenapa?" Nadira balik bertanya


๐Ÿ“ž Syukurlah kalau kamu sudah bersama anak anak, sudah dulu ya saya lagi ada meeting" jawab Bayu.


Bayu benar benar merasa tidak enak hingga lupa mematikan teleponnya, dia menyimpan ponselnya diatas meja.


"Sayang, mau makan sekarang kan?" Tanya Elsa mendekap lagi di tubuh Bayu.


"Iya sayang, ayo" jawab Bayu tersenyum


Nadira merasa sangat bahagia karena baru kali ini suaminya menelpon dia, Nadira terus tersenyum hingga tak berani mematikan telepon dari suaminya itu.


Tapi setelah mendengar percakapan dua sejoli yang sedang kasmaran itu, senyum manisnya perlahan hilang, yang tampak sekarang hanyalah air mata yang tak terasa jatuh membasahi pipi manisnya.


"Mas, semesra itu kamu dengan Elsa, kamu tidak menyadari kalau kamu sudah menyakiti hati ku saat ini, kamu sudah menghancurkan harapanku" batin nadira merintih


''Bunda kenapa, bunda ko nangis?" tanya Sifa


"Bunda gak pp sayang, bunda lagi seneng aja, bunda bangga memiliki anak anak yang pintar seperti Ilham dan Sifa" jawab Nadira tersenyum


Nadira menghapus air matanya, dan mencoba kuat dari hadapan mereka berdua


"Kita pulang sekarang yuk" Nadira mengajak kedua anaknya untuk pulang. karena tubuhnya yang masih lemas dan pusing efek kemoterapi yang baru saja dia lakukan.


"ayo bunda"


Nadira, Sifa dan Ilham pun masuk ke dalam taksi putih yang sejak tadi menunggu mereka, Ilham dan Sifa terus menguatkan bundanya dengan memberikan perhatian dan tingkah lucu mereka.

__ADS_1


perjalanan dari sekolah menuju rumah Nadira tidak terlalu jauh, mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit saja untuk sampai di rumahnya.


Sifa dan Ilham terus bernyanyi menghibur bundanya selama diperjalanan, Hingg pada akhirnya merekapun sampai di halaman rumah mereka.


"Alhamdulillah" ujar kedua anak pintar itu turun dari taksi.


"Ini pak uangnya, terimakasih ya!" ujar Nadira menyodorkan uang ke supir taksi itu


"Sama sama Bu" ujar supir taksi itu.


supir taksi itupun pergi dari rumahnya, Nadira langsung menggandeng kedua anaknya masuk ke dalam rumah.


"Kalian ganti baju dulu ya!, bunda mau langsung ke dapur buatin makanan untuk kalian" ujar Nadira


"Iya bunda"


"Anak anak pintar" ujar Nadira tersenyum


Ilham dan Sifa pun berlari menuju kamar mereka, sedangkan Nadira, dia terburu buru berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk suami dan kedua anaknya.


"mas Bayu kan sudah makan bersama Elsa, masak banyak atau jangan ya, kalau aku masak banyak takutnya mas Bayu gak makan, tapi kalau masak sedikit, takutnya dia belum makan" Nadira kebingungan


"Aku masak banyak aja ah, di makan atau engga itu gimana ntar aja, yang panting aku udah siapin dia makanan kesukaannya" ujar Nadira merasa bersemangat.


Dia akan selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Bayu, dia juga akan berusaha membuat bayu betah di rumah.


"Bundaaaaa" teriak Sifa berlari dari kamarnya


"Eeeeeeh anak bunda yang cantik ini ko udah beres sih mandinya, bersih gak ya mandinya? gosok gigi gak ya?" tanya Nadira menggoda Sifa


"Bersih dong bunda, Sifa juga udah sikat gigi ko" jawab Sifa tersenyum sembari menunjukkan giginya Yang sudah bersih.


"Iiiih, anak bunda ko pinter banget sih" ujar Nadira mencubit hidung Sifa


"Iya dong bunda, bunda kan yang ajarin Sifa" ujar Sifa tersenyum


"iya sayang, ya sudah, Sifa tunggu disini ya, bunda mau beresin dulu masaknya, takut ayah keburu pulang" ujar Nadira menyuruh Sifa untuk menunggu di meja makan


"Iya bunda"


Nadirapun melanjutkan masaknya ditemani Sifa yang duduk memperhatikan nya di meja makan, Sifa tersenyum, dia sangat bersyukur memiliki ibu seperti Nadira, Nadira selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang tiada henti,

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2