30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
ketakutan dokter Raisa


__ADS_3

Hari semakin siang, waktu sudah menunjukkan pukul 09.00, Nadira yang sudah berjanji akan meminum obatnya, dia segera mengambil obat obatan itu dari laci yang terletak di pinggir tempat tidurnya, dia terlihat bersemangat karena mungkin sebentar lagi dia akan mengetahui kabar kedua anaknya, dia sudah tidak sabar ingin segera menelpon dokter Raisa, kalau perlu Nadira ingin berbicara dengan kedua anaknya yang sedang jauh dari pandangan nya.


Ketika Nadira mulai membuka satu demi satu plastik obat itu, Lisa datang dengan ponsel yang sudah dia pegang di tangannya, Lisa tersenyum, dia senang melihat Nadira yang bersemangat dengan proses pemulihannya, Lisa merasakan apa yang sedang Nadira rasakan, jadi dia tidak akan menjauh, dia akan berusaha membantu Nadira hingga Nadira bisa bertemu lagi dengan kedua anaknya.


"Gimana Bu? Sudah di minum semua obatnya?" Tanya Lisa


Lisa duduk di sebelah Nadira sembari mencari nomor dokter Raisa.


"Sudah mbak, sekali lagi terimakasih ya mbak! Tanpa bantuan mbak dan dokter Reza, saya tidak mungkin bisa seperti ini, terimakasih banyak" jawab Nadira yang merasa sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang baik seperti Lisa dan dokter Reza


"Sama sama Bu, ini memang sudah menjadi kewajiban saya" ujar Lisa tersenyum


Lisa mengelus pundak Nadira dengan lembut, dia tersenyum seakan merasakan apa yang sedang Nadira rasakan saat ini.


"Oh iya Bu, ini ponsel saya, ibu bisa pakai kapanpun ibu butuhkan, saya juga sudah Carikan nomor dokter Raisa, ibu tinggal telpon dokter Raisa habis itu ibu bisa ngobrol sama kedua anak ibu, semoga dengan mendengar kabar mereka kondisi ibu bisa cepat pulih, saya sudah gak sabar pengen cepat cepat pulang ke Indonesia Bu, saya juga sudah kangen dengan kampung halaman saya" ujar Lisa tersenyum


"Iya mbak, terimakasih banyak" ujar Nadira tersenyum


"Saya tinggal dulu ya Bu, saya mau bersih bersih dulu!" Ujar Lisa


"Iya mbak"


Lisa pun bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan kamar Nadira, sedangkan Nadira, dia mulai menghubungi dokter Raisa karena dia sudah tidak sabar ingin segera berbicara dengan kedua anaknya.


Tuuuuuutt


Tuuuuuutt


Tuuuuuutt


Suara panggilan yang belum diangkat.

__ADS_1


๐Ÿ“žhallo, selamat siang, dokter Raisa disini, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Raisa


Dokter Raisa mengangkat telepon dari Nadira karena kebetulan dia sedang santai di depan kolam renang, dia tidak sedang berada di rumah sakit karena hari ini dia tidak terlalu sibuk, hari ini dia tidak ada jadwal kemoterpi.


๐Ÿ“žHallo dokter, ini saya Nadira" jawab Nadiraย 


๐Ÿ“žBu Nadira!? Apa kabar Bu? Gimana keadaan ibu sekarang? Apa kondisi ibu sudah membaik?" Tanya dokter Raisa yang begitu kaget ketika dia tau yang menelpon itu Nadira


Dokter Raisa sangat bersyukur karena akhirnya dia bisa mendengar suara pasiennya itu, dia senang Nadira bisa menghubunginya, itu tandanya Nadira sudah benar benar baik, dia tinggal menunggu kedatangan Nadira menjemput Ilham dan Sifa di rumahnya.


๐Ÿ“ž Alhamdulillah keadaan saya sudah membaik dok, dokter Reza juga sudah memvonis saya sembuh, saya sudah terbebas dari penyakit kanker, terimakasih ya dok, berkat dokter saya bisa kembali sehat seperti sekarang, jujur saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang pasti saya tidak akan pernah melupakan kebaikan dokter Reza dan dokter Raisa yang sangat baik sama saya" ujar Nadira menjatuhkan air matanya


๐Ÿ“ž Sama sama Bu, saya senang dengarnya, semoga ibu bisa cepat kembali ke Indonesia ya! Sifa dan Ilham sudah sangat merindukan ibu" ujar dokter Raisa


๐Ÿ“ž Amiiiinnn dok, terima kasih atas doanya, saya juga ingin segera pulang dok, saya rindu dengan kedua anak saya, sekarang bagaimana dengan kabar mereka dok? Apa mereka baik baik saja? Saya ingin berbicara dengan mereka" Tanya Nadira yang benar benar sangat merindukan Ilham dan Sifa


๐Ÿ“žKabar mereka Alhamdulillah baik Bu, tapi mohon maaf sekali, sekarang ibu belum bisa ngobrol dengan mereka, mereka belum pulang sekolah Bu, kalau ibu mau ngobrol sama mereka, nanti ibu telpon lagi aja ya! ibu jangan khawatir, saya akan terus menjaga mereka sampai Bu Nadira kembali ke sini,saya berharap yang terbaik untuk ibu dan kedua anak ibu" jawab dokter Raisaย 


Nadira yang tadinya merasa sangat khawatir , sekarang dia bisa bernafas dengan lega karea perkataan dokter Raisa barusan, dia jadi tidak terlalu khawatir lagi dengan kedua anaknya karena mereka pasti aman berada di rumah dokter Raisa yang sangat baik itu, dia mempercayakan semuanya kepada dokter Raisa, yang tinggal dia pikirkan saat ini adalah kondisi tubuhnya, gimana caranya dia bisa cepat pulih agar dengan cepat dia bisa menjemput kedua anaknya ke rumah dokter Raisa.


๐Ÿ“žIbu jangan khawatir lagi ya! Ibu pokus saja dengan kondisi kesehatan ibu, sekarang ibu istirahat saja! Nanti saya akan bilang sama sifaa dan Ilham kalau Bu Nadira telpon saya, nanti kalau mereka sudah pulang biar saya telepon balik" ujar dokter Raisa


๐Ÿ“ž Baik dok, sekali lagi terimakasih banyak"


๐Ÿ“ž Sama sama Bu"ย 


Dokter reisa pun mematikan teleponnya dengan wajah yang sedikit ketakutan, dia takut Nadira pulang ke Indonesia membawa Sifa dan Ilham pergi dari rumahnya. Dia tau diri kalau dia bukan siapa siapa bagi mereka, tapi dokter Raisa terlanjur sayang, dia tidak mau kehilangan kedua anak pintar itu, dia tidak rela mereka diambil meskipun itu oleh ibu kandungnya sendiri.


Cleeeekk.


Pak Bram membuka pintu ruangan tengah.

__ADS_1


"Kenapa Raisa bengong kaya gitu? Apa yang sedang dia pikirkan?" Pak Bram bertanya tanya


Karena khawatir kepada istrinya, pak Bram menaruh tas yang dia bawa, dia langsung menghampiri dokter Raisa yang masih melamun di pinggir kolam.


"Kamu kenapa sayang? Kok bengong kaya gitu?" Tanya pak Bram mengelus pundak istrinya dengan lembut


"Barusan bunda Ilham dan Sifa telpon aku mas, dia menanyakan kabar mereka, sebentar lagi mereka pasti akan di ambil, rumah kita pasti akan sepi lagi kaya dulu" jawab dokter Raisa dengan matanya yang berkaca-kaca


"Ya bagus dong, kalau bunda Ilham dan Sifa pulang ke Indonesia, itu artinya dia sudah sembuh dari sakitnya, kamu harus seneng dong syg, berarti usaha kamu selama ini gak sia sia, kamu berhasil, mas bangga sekali sama kamu" ujar pak Bram tersenyum


"Iya mas" ujar dokter Raisa tersenyum menoleh ke arah pak Bram


Dokter Raisa berusaha tenang di hadapan suaminya, padahal dalam hatinya menyembunyikan ketakutan yang sangat luar biasa, dia takut rumahnya kembali sepi seperti dulu disaat tak ada tawa canda ria dari seorang anak, kehadiran Sifa dan Ilham telah merubah segalanya, mereka telah merubah kehidupan dokter Raisa menjadi lebih berwarna, mereka membawa kebahagiaan untuk dirinya, jadi itu sebabnya dia takut sekali kehilangan mereka.


...**bersambung...


...bagi yang tidak suka cerita ini tidak usah repot repot baca๐Ÿ™...


...menulis cerita seperti ini tidak semudah menulis bon hutang ya, jadi tolong dihargai....


...mohon maaf jika masih banyak kekurangan karena...


...saya masih belajar....


...kalau mau cerita yang bagus, buat saja sendiri!...


...disini saya cuma menyalurkan hobi....


...jadi tolong pembaca disini bisa menghargai ๐Ÿ™...


...dan untuk yang sudah mendukung karya ini, saya ucapkan terimakasih ๐Ÿ˜˜**...

__ADS_1


__ADS_2