30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
mencoba menjelaskan


__ADS_3

"Iya bi, Ilham mau tinggal sama ayah aja!" Jawab Ilham dengan jelas.


"Ya sudah! Kalau gitu, bibi sama pak Karyo pamit pulang dulu ya! Besok bibi kesini lagi bawa baju baju Ilham sama non Sifa" ujar bi Minah yang mulai bangkit dari duduknya. "Saya permisi dulu pak', terimakasih atas waktunya, assalamualaikum" ujar bi Minah mengucap salam.


Bi Minah dan pak Karyo pun bergegas pergi meninggalkan rumah mewah itu, mereka pulang Dengan hati tenang. Sekarang mereka sudah bisa istirahat dan tidur dengan nyenyak tanpa beban apapun.


"Alhamdulillah ya bang, mereka baik baik aja" ujar bi Minah tersenyum.


"Kata Abang juga apa bi, mereka pasti baik baik aja kalau sama ayahnya" ujar pak Karyo nyolot.


"Iya, setau kita kan kemarin pak Bayu orangnya jahat, makanya saya khawatir sekali sama mereka" ujar bi Minah. Bi Minah sangat menyesal sekali sudah berprasangka buruk kepada Bayu, rasanya dia malu sekali. "Saya jadi malu bang sama pak Bayu, kemarin kita sampai nyalahin dia, ternyata sekarang kita tau sendiri bagaimana dia memperlakukan anak anaknya" ujar bi Minah yang merasa tidak enak dengan Bayu.


"Iya bi, dulu pak Bayu kan nyakitin istrinya bukan anaknya, gak mungkin ada seorang ayah yang berani nyakitin anaknya bi, orang hewan juga sayang banget sama anaknya apalagi kita manusia" ujar pak Karyo.


"Iya juga sih" 

__ADS_1


Mereka Pun terus berbincang, mengungkapkan isi hati mereka masing masing sembari mendengarkan musik klasik, malam itu jalanan terlihat sepi, air hujan masih terus jatuh, menemani dinginnya malam itu.


..


30 menit berlalu, bi Minah dan pak Karyo pun sampai di rumah mewah itu. Kepulangan mereka disambut hangat oleh Nadira dan dokter raisa, mereka keluar dari dalam rumahnya menghampiri bi Minah yang masih berada dalam mobil.


"Sifa.. Ilham.. jalan jalannya kok sampai malam sih nak? Sampai lupa sama bunda" Teriak Nadira. Nadira mengira bi Minah mengajak Sifa dan Ilham jalan jalan padahal sebenarnya tidak.


"Maaf Bu, Sifa sama Ilham nya nginep di rumah pak Bayu" ujar bi Minah menundukkan kepalanya. Bi Minah merasa tidak enak dengan Nadira.


"Den Ilham sendiri yang mau nginep di rumah ayahnya Bu'' jawab pak Karyo. Pak Karyo angkat bicara begitu Nadira bertanya kepada bi Minah.


"Saya gak percaya Ilham mau nginap di rumah mas Bayu, saya tau sekali anak itu, dia lagi marahan kok sama ayahnya masa iya dia mau nginep di rumah itu" ujar Nadira lagi. Nadira terlihat kesal sekali kepada bi Minah dan pak Karyo yang sudah membiarkan Ilham menginap di rumah Bayu, mungkin dia khawatir kepada anaknya karena setahu dia Ilham kesal sekali kepada ayahnya, dia takut Ilham tersiksa tinggal di rumah itu.


Melihat Nadira yang terlihat kesal, dokter raisa pun angkat bicara, dia bertanya kepada bi Minah, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dokter Raisa menoleh ke arah Nadira sembari mengedipkan matanya, mungkin dia memberikan kode sesuatu kepada ibu dua orang anak itu. Tak lama setelah itu Nadira pun meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Bi Minah! Saya ingin berbicara sesuatu sama bibi, boleh minta waktunya sebentar?" Tanya dokter Raisa. Dokter Raisa menatap wajah bi Minah sembari tersenyum manis


"Iya Bu dokter" jawab bi Minah sembari menundukkan kepalanya. 


"Maaf bi, saya mau bertanya sesuatu sama bibi, sebenarnya apa sih yang terjadi? Sifa sama Ilham nginep di rumah ayahnya atas kemauan mereka bi?" Tanya dokter Raisa ingin tahu.


"Jadi gini Bu, tadi pagi den Ilham nyamperin saya waktu saya lagi nongkrong di pos, den Ilham katanya jenuh di rumah terus gak ada temannya, mana dia melamun terus lagi Bu, saya kasihan Bu sama den Ilham, jadi saya ajak dia joging, pas dijalan lagi joging sama saya juga dia terus saja melamun kaya gitu, saya kan penasaran Bu, saya tanya, den Ilham mau ke rumah ayah? Kata saya kalau mau ke rumah ayah nanti saya anterin, saya tanya gitu Bu, pas ditanya gitu den Ilham bilangnya iya, dia mau ke rumah ayah mau main sama non Sifa. Dia bilang gitu! Ya saya anterin kesana Bu, naik angkot. Habis itu ya saya langsung pulang lagi kesini" jawab pak Karyo. Pak Karyo yang menjelaskan masalah ini kepada dokter raisa karena memang dia yang tau semuanya. 


"Trus kalau Ilham dari pagi gak ada di rumah kenapa bi Minah sama pak Karyo jam segini baru pulang?" Tanya dokter Raisa lagi.


"Maaf Bu, tadi pas ibu nitipin den Ilham sama saya, saya cari terus dia di rumah ini Bu, saya kan di rumah juga banyak pekerjaan jadi pagi pagi saya gak sempet liat dia ke kamarnya, tadi sore saya khawatir den Ilham Sama non Sifa belum pulang juga Bu, saya nyuruh pak Karyo buat jemput mereka ke rumah ayahnya, pak Karyo nurutin apa mau saya, dia jemput non Sifa Sama den Ilham ke rumah pak Bayu, pas pak Karyo sudah sampai rumah pak Bayu katanya gak ada siapa siapa, rumahnya kosong. Kan saya jadi khawatir dengar gitu Bu, saya pun ikut kesana lagi jemput mereka, pas saya kesana lagi sama pak Karyo ternyata bener Bu, rumahnya kosong, pak Bayu, den Ilham sama non Sifa gak ada rumahnya. Saya Pun makin khawatir sama mereka, mana dari tadi hujan petir lagi Bu, saya tunggu tunggu mereka dari Maghrib sampai jam 10 malam di depan rumahnya, jujur saya cape Bu, udah di rumah banyak kerjaan, nunggu nunggu disana sampai pegal, digigitin nyamuk pas nyampe rumah bukannya bilang terima kasih malah marah" jawab bi Minah yang benar benar kesal.


"Iya bi, saya ngerti, saya minta maaf. Tapi Ilham sama Sifa baik baik aja kan bi?" Tanya dokter Raisa lagi. Dokter Raisa sebenarnya mengerti sekali dengan apa yang bi Minah rasakan, dia sebenarnya tidak menyalahkan bi Minah, hanya saja dia ingin tahu apa yang sudah terjadi hingga Nadira kelihatan kesal seperti itu. 


"Alhamdulillah Bu dokter, non Sifa sama den Ilham baik baik aja, malah mereka lebih nyaman tinggal bersama ayahnya, Bu dokter gak usah khawatir, pak Bayu orangnya baik ko Bu, dia sayang banget sama anak anaknya, malah kemarin dia yang ajak mereka jalan jalan seharian" jawab bi Minah.

__ADS_1


__ADS_2