30 Hari Menjelang Perpisahan

30 Hari Menjelang Perpisahan
bungkus hadiah


__ADS_3

Cleeeekk


BI Minah membuka pintu gerbang.


"Selamat malam pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya bi Minah kepada pria yang berdiri di hadapannya itu, bi Minah terlihat biasa biasa saja, dia tidak tau kalau laki laki yang ada di hadapannya itu adalah Bayu.


"Dokter Raisanya ada?" Bayu balik bertanya kepada bi minah


"Maaf pak, dokter Raisanya belum pulang" jawab bi Minah


"Kira kira kapan pulangnya ya mbak?"


"Aduuuuhh, saya gak tau pak, Biasanya sih jam segini Bu dokter sudah pulang, mungkin lagi banyak pasien pak, gimana kalau bapak datang langsung ke rumah sakit aja!" Ujar bi Minah


"Memangnya gak bisa ditunggu disini ya mbak, ditelepon gitu Bu Raisa nya!?" Ujar Bayu

__ADS_1


Bayu tidak ingin menyusul dokter Raisa ke rumah sakit, dia ingin tetap menunggu di rumah itu berharap bisa melihat kedua anaknya tanpa harus repot repot bertemu dengan sang pemilik rumah.


"Duuuuhhh pak!, saya gak enak kalau harus telpon telpon Bu dokter, mending bapak datang langsung saja ke rumah sakit, kalau di tunggu disini takutnya lama, saya juga takut kalau Bu dokter malam ini ada jadwal piket, pasti nginep di rumah sakit, mending bapak datang ke rumah sakit aja ya pak! jadi bisa langsung ketemu Bu dokter" jawab bi Minah mencoba memberi saran


"Oh ya sudah, terimakasih mbak"


"Sama sama"


Dengan raut wajah lesu, Bayu mundur satu langkah dari depan gerbang rumah itu, dia tidak memalingkan wajahnya sedikitpun, dia terus menatap rumah itu berharap bisa melihat Sifa dan Iham tanpa harus bertemu dengan dokter Raisa, tapi rasanya tidak mungkin, dia tidak mungkin bisa bertemu dengan kedua anaknya tanpa ijin pemilik rumah apalagi malam seperti ini.


Bayu begitu sadar dengan kesalahannya, tapi dia merasa tidak pantas di perlakukan seperti ini, Bayu yang begitu keras kepala dia merasa tidak terima dengan semua ini, dia ayah kandungnya, dia sangat berhak membawa Sifa dan Ilham tanpa ada izin dari orang lain.


"tega banget Nadira pisahin aku sama anak anak, pokoknya gimanapun caranya aku harus bawa mereka" batin bayu


Dengan penuh semangat, Bayu pun membalikkan badannya berjalan menuju mobil, dia mulai menghidupkan mobilnya lalu Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.

__ADS_1


Perjalanan dari rumah dokter Raisa menuju rumah sakit menempuh waktu 2 jam saja, Bayu melihat jam di tangannya menunjukan pukul 19.30, dia jadi ada waktu untuk membujuk dokter Raisa agar dia bisa membawa Sifa dan Ilham kembali kerumahnya sebelum jam 12 malam, bayu merasa berhak membawa Sifa dan Ilham dari rumah dokter Raisa karena memang dia adalah ayah kandungnya.


"Aku harus bisa bawa kedua anakku, titik!!" ujar Bayu dengan tegas


Disaat Bayu sibuk mencari cara untuk menemui kedua anaknya, di Singapura Nadira justru sibuk membungkus kado untuk Sifa dan Ilham, Nadira terlihat begitu sangat bahagia, karena stelah sekian lama dia terpisah dengan mereka, besok pagi dia bisa bertatap muka, memeluk, mencium mereka meluapkan rasa rindunya selama ini.


"Seneng banget sih, kamu terlihat lebih manis deh kalo lagi kaya gini, aku jadi makin sayang sama kamu" ujar dokter Reza tersenyum menggoda Nadira yang sedang khusu membungkus kado.


"Apaan sih mas, ya jelas aku seneng dong, besok kan kita mau ketemu sama anak anak, mereka pasti seneng aku bawain hadiah buat mereka" ujar Nadira


"Liat kamu saja mereka pasti udah bahagia banget sayang, apalagi kalo dibawain hadiah, semoga kalian tidak akan pernah terpisahkan lagi ya!" Ujar dokter Reza sembari mengelus kepala Nadira dengan penuh kasih sayang


"Iya mas, terimakasih"


"sama sama sayang"

__ADS_1


__ADS_2